Kamis, 17 Februari 2022

 

TERORIS

Oleh: Surti Alfiah

“Sugeng Enjang Ibu!” (Selamat pagi Ibu), sapa pak Salim dengan senyuman tersungging di bibirnya, badan agak dibungkukkan  dan tangan merangkap di depan dada. “Sugeng enjang ugi pak Salim” (Selamat pagi juga pak Salim), balasku. “Bagaimana kabar pak Salim dan keluarga hari ini?” lanjutku. “Alhamdulillah, kulo, lare-lare soho simah kulo sami sehat bu” (Alhamdulillah saya, anak-anak, dan isteri saya sehat-sehat saja bu), jawab pak Salim. Demikian obrolan rutin setiap pagi di depan pintu gerbang sekolah antara aku dengan pak Salim.

Pak Salim, lelaki berusia 40an tahun adalah penjaga dan sekaligus pramubakti di sekolahanku, SD Budi Luhur, sebuah sekolah swasta yang sangat terkenal di wilayah ini. Sudah 15an tahun pak Salim mengabdi, jauh lebih lama daripada aku yang baru 3 tahunan diangkat menjadi kepala sekolah di sini  menggantikan pak Joko. Pak Salim orangnya sederhana, rajin, santun, suka menolong orang lain, dan ramah kepada siapapun. Wajar kalau para siswa sangat dekat dengan dia. Tak segan-segan setiap kali habis menerima honor, pak Salim memborong jajanan dan membagikannya kepada siswa yang datang ke sekolah lebih awal. Tentu saja anak-anak bersorak gembira. Mereka akan berceritera kepada teman lainnya, sehingga esok harinya berlomba-lomba anak-anak datang lebih pagi untuk memperoleh jajanan dari pak Salim.

Pagi ini hari Senin aku datang ke sekolah lebih awal dari biasanya, sekitar jam 06.00 WIB. Pintu gerbang masih dalam keadaan terkunci atau digembok. Kubuka tas dan mencari kunci cadangan. Segera kubuka pintu gerbang dan memarkirkan sepeda motor. Kuedarkan pandangan ke seluruh area sekolah, tidak seperti biasanya, halaman sekolah nampak kotor, banyak sampah berserakan. Pak Salim yang biasanya selalu menyapaku di depan pintu gerbang dengan wajah riang dan senyuman selalu tersungging di bibirnya, tidak Nampak batang hidungnya. Pintu ruangan  kelas semua masih terkunci, belum satupun yang dibuka. Padahal anak-anak dan bapak ibu guru sudah mulai ramai berdatangan. Pak Pras, guru olahraga yang baru saja datang Nampak tergopoh-gopoh mendatangiku. “Assalamu’alaikum Ibu, Ibu sudah mendengar kabar belum?” katanya. “wa’alaikumsalam, kabar tentang apa pak Pras?” jawabku sambil membalas salamnya dan balik bertanya. “Tadi malam rumah pak Salim digerebek Densus 88 Bu, pak Salim ditangkap dan dibawa entah ke mana. Kata orang-orang saat digerebek diketemukan beberapa anak panah dengan gandewanya, sabit, golok, dan parang” jawab pak Pras yang seketika membuatku tertegun..

Gunungkidul, 18 Februari 2022

 

SAKIT HATINYA LELAKI

Oleh: Surti Alfiah

“Aku tidak mempercayai omongan para tetangga tentang isteriku mas Gik. Mereka hanya pada iri pada isteriku, sudah cantik PNS pula”, kata mas Yadi padaku saat kami sedang piket di pos ronda. “Ada asap tentu ada apinya to mas?” jawabku. “Mana mungkin isteriku selingkuh, dia seorang PNS, mesti sudah tahu resikonya kalau sampai ketahuan!” ujar mas Yadi dengan nada bicara yang mulai naik. “Tidak ada salahnya mas Yadi mencari kebenaran desas desus yang makin gencar belakangan ini” balasku. “Begitu ya mas?” “Kalau aku mendapati isteriku selingkuh, aku buat dia dengan selingkuhannya itu jera” gumam mas Yadi. Aku diam, tak menyahut.

Esok paginya sekitar jam 6 an aku melihat mas Yadi berseragam keki naik sepeda onthel untuk berangkat kerja seperti biasanya. Isterinya, mbak Lasmi pun kulihat mulai naik sepeda motor untuk berangkat menuju sekolahannya. Tidak ada sesuatu yang janggal dari pasangan itu. Mbak Lasmi mencium punggung tangan mas Yadi sebelum mereka berangkat kerja seperti hari-hari biasanya.

Sekitar jam 9 an kulihat sepeda motor mbak Yani memasuki pekarangannya. Dan tak berapa lama seorang laki-laki muda datang dan langsung masuk ke rumah itu. Aku mengacuhkannya, dan melanjutkan aktifitasku memancing di sungai dekat rumahku. Aku terlonjak kaget saat kudengar jeritan minta tolong dari arah rumah mas Yadi. Kulihat api berkobar dan asap hitam membubung tinggi. Saat aku berniat lari ke sana, mas Yadi berlari kencang ke arahku sambil menjinjing jerigen lumayan besar dan tercium bau bensin. Wajahnya merah padam dan nafasnya terengah-engah. ”Mas Gik, aku kunci dalam kamar 2 bayi besar itu, biar mereka merasakan nikmatnya akibat menusukku dari belakang”, ujarnya sambil melemparkan jerigen ke sungai yang langsung hanyut terbawa arus. Aku mematung, melihat ke arah rumah mas Yadi yang sudah tak berbentuk lagi. Tak terdengar lagi jeritan minta tolong….

 

Gunungkidul, 14 Februari 2022