TERORIS
Oleh:
Surti Alfiah
“Sugeng Enjang Ibu!”
(Selamat pagi Ibu), sapa pak Salim dengan senyuman tersungging di bibirnya,
badan agak dibungkukkan dan tangan
merangkap di depan dada. “Sugeng enjang ugi pak Salim” (Selamat pagi juga pak
Salim), balasku. “Bagaimana kabar pak Salim dan keluarga hari ini?” lanjutku. “Alhamdulillah,
kulo, lare-lare soho simah kulo sami sehat bu” (Alhamdulillah saya, anak-anak,
dan isteri saya sehat-sehat saja bu), jawab pak Salim. Demikian obrolan rutin
setiap pagi di depan pintu gerbang sekolah antara aku dengan pak Salim.
Pak Salim, lelaki
berusia 40an tahun adalah penjaga dan sekaligus pramubakti di sekolahanku, SD
Budi Luhur, sebuah sekolah swasta yang sangat terkenal di wilayah ini. Sudah 15an
tahun pak Salim mengabdi, jauh lebih lama daripada aku yang baru 3 tahunan
diangkat menjadi kepala sekolah di sini menggantikan pak Joko. Pak Salim orangnya sederhana,
rajin, santun, suka menolong orang lain, dan ramah kepada siapapun. Wajar kalau
para siswa sangat dekat dengan dia. Tak segan-segan setiap kali habis menerima
honor, pak Salim memborong jajanan dan membagikannya kepada siswa yang datang
ke sekolah lebih awal. Tentu saja anak-anak bersorak gembira. Mereka akan
berceritera kepada teman lainnya, sehingga esok harinya berlomba-lomba
anak-anak datang lebih pagi untuk memperoleh jajanan dari pak Salim.
Pagi ini hari Senin aku
datang ke sekolah lebih awal dari biasanya, sekitar jam 06.00 WIB. Pintu
gerbang masih dalam keadaan terkunci atau digembok. Kubuka tas dan mencari
kunci cadangan. Segera kubuka pintu gerbang dan memarkirkan sepeda motor.
Kuedarkan pandangan ke seluruh area sekolah, tidak seperti biasanya, halaman
sekolah nampak kotor, banyak sampah berserakan. Pak Salim yang biasanya selalu
menyapaku di depan pintu gerbang dengan wajah riang dan senyuman selalu
tersungging di bibirnya, tidak Nampak batang hidungnya. Pintu ruangan kelas semua masih terkunci, belum satupun yang
dibuka. Padahal anak-anak dan bapak ibu guru sudah mulai ramai berdatangan. Pak
Pras, guru olahraga yang baru saja datang Nampak tergopoh-gopoh mendatangiku. “Assalamu’alaikum
Ibu, Ibu sudah mendengar kabar belum?” katanya. “wa’alaikumsalam, kabar tentang
apa pak Pras?” jawabku sambil membalas salamnya dan balik bertanya. “Tadi malam
rumah pak Salim digerebek Densus 88 Bu, pak Salim ditangkap dan dibawa entah ke
mana. Kata orang-orang saat digerebek diketemukan beberapa anak panah dengan
gandewanya, sabit, golok, dan parang” jawab pak Pras yang seketika membuatku
tertegun..
Gunungkidul, 18 Februari 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar