Selasa, 14 Desember 2021

Usai Wisuda Mbak Lintang

 




 

Pesona senyuman itu sesaat membius……

Menerbangkan sukma, tinggi melayang….

Menembus negeri terlarang

Mencumbu nikmat semu yang menggebu

Hingga datang

Bisikan lembut pemilik hati malaikat…

Jaga hatimu hanya untukku…..

Tercabarkan semua hipnotis

Kembali dalam rengkuhan bahagia sejati….

 

SAHABAT SEJATI

Oleh Surti Alfiah

 

Aku akan selalu ada untukmu

Bukan sebagai musuh, juga bukan perusuh

Aku akan selalu ada untukmu,

Bukan sebagai TTM juga bukan kekasih hati

Bila kau mau……

Saat bahagiamu

Saat ceriamu

Saat di puncak popularitasmu

Berbagi denganku

Aku akan selalu ada untukmu

Saat resahmu

Saat kesepianmu

Saat kesendirianmu

Saat puncak penderitaanmu

Saat orang lain tak percaya

Saat kau ditinggalkan

Saat putus asamu

Aku akan selalu ada untukmu

Hadir

Sebagai…

Sahabat sejati.

Namun…..

Bila………

Itu pun kau rasa tak pantas……

Ku kan undur diri dari kehidupanmu……

 

PANTUN TEMA SUMPAH PEMUDA

(1)

Daun Para jatuh ke sungai,

Terbawa hanyut ke arah muara,

Kaum muda janganlah santai,

Kerja sengkut bangun negara.

 

PANTUN TEMA HARI GURU

(1)

Pergi ke Huma  untuk berladang,

Bibit disebar memakai garu,

Mari bersama kita berdendang,

Sambut November harinya guru.

(2)

Pergi berburu membawa belati,

Menuju hutan mencari mangsa,

Jadi Guru panggilan hati,

Berantas kebodohan majukan bangsa

(3)

Burung Pelatuk di dahan Mahoni,

Terkena panah Sang  Pemburu,

Hati diketuk kuatkan nurani,

Amalkan amanah dari Sang Guru.

(4)

Letakkan Parang di atas jerami,

Tersandung akar saat berjalan,

Meski sekarang masih pandemi,

Urusan Belajar tetap diutamakan.

 

JAWA ILANG KUMANDHANGE

(Dening Surti Alfiah lan Ki Sugeng Subagyo )

 

Sunaring surya ngungak lumahing bumi ing wanci enjing,

Datan keprungu malih jago kluruk lan pangocehe kukila saut sinautan,

Datan keprungu malih swara lesung katerak alu dening kenya padhusunan,

Datang keprungu malih panggeriting tali timba,

Kabeh wus ginanti dening alarm android,

Adang ilang ginanti dening magic com,

Tali timba nganggur ginanti pompa banyu,

Ngendel toya damel wedang kantun mencet kenop teko listrik,

 

Nalika sang bagaskara ndedel manginggil,

Wancine bedhug ndhrandhang ngumandhang,

Panasing surya karasa ing hangga tanpa kinira,

Nyaru swarane kebo lan sapi uwal saka pasangan,

Iku kahanan duk semana,

Saiki wus ilang,

Gathiking pacul lan gathul tumanjem bantala,

 Uga melu sirna,

Among kisma den prayoga,

Tanpa gobyos kringet dudu mangsane,

Garu luku ginanti dening traktor,

 

Ing kana,

Pasar punjering dol tinuku,

Sirna ilang kumandhange,

Bakul tanpa tawa-tawa,

Sing tuku ora bisa nganyang,

Bakul lan sing tuku tanpa srawung,

Regane dagangan kabeh tinulis,

Gelem ya tukua, yen ora gelem ora dadi ngapa,

 

Pandulu tumuju ing redi gung,

Grobak,

Andhong,

Cikar,

Becak,

Sepedha,

Kabeh ginusur dening mobil lan montor,

Wong mbecak kalah karo tukang ojek,

Wong ngojek kalah karo ojol,

 

Wancine surup surya,

Srengenge angslup kemulan bantala,

Swara ngaji diganti siaran televisi,

Pagelike gendhing,

Wacan koran,

Sinau calistung,

Rembug somah,

Kabeh mung kari tilas,

Sak omah kabeh ora ana sing uwal,

Nguwali karsa,

Keli iline teknologi tilpon pinter,

 

Nalika wengi tansaya dalu,

Mesthine ana kidung rumeksa ing wengi,

Mesthine sasadara manjer kawuryan,

Mesthine aburing konang mbabar sunar kaendahan,

Mesthine kartika melok ing angkasa,

Kabeh wis kalindhih,

Kasoran dening sunaring lampu listrik mblerengi,

 

Kidung wengi,

Jethungan,

Gobak sodor,

Sundhah mandha,

Lepetan,

Dadi barang aneh tanpa ditepungi bocah,

Anane mung sajuga,

bocah dolanan game internet ing senthonge dhewe-dhewe

 

Kudune,

Sing tuwa nresnani wiranom,

Wiranom bekti marang wong tuwa,

Ananging,

Basa krama wis ora ana,

Tulisan Jawa hanacaraka musna,

Malah Jawa dadi ora beda.

 

 

 

 

LUNTUR

(Deneng Bune Lintang)

 

Perihing atiku rikala maca status wa wanodya iku

Gambar kang kapancang nduduhake sepira kawigatenmu  marang deweke

Kawigaten sing wus tahu tak rasaake

Ananing sithik mbaka sithik wiwit ilang kairing tekane Kenyo iku

Tak tahan tumetesing waspa sik wus ana pojokaning netra

Sajak ora pantes yen sliramu tak labuh labeti kanthi  pangurbanan ati

Pakartimu kang katon ngresepake pandulu,  

Kanyoto amung sarana kanggo mikat atine para wanodyo ayu

Pupus-pupus katresnan kang wiwit ngrembaka ana sajroning Qolbu

Kapunthes deneng laku sedengmu

 

LUNTUR

Oleh Surti Alfiah

 

Tersayat perih hati ini saat melihat status wa wanita itu….

Gambar yang terpampang menunjukkan betapa besar perhatianmu padanya…

Perhatian yang pernah kurasakan,  kau curahkan untukku….

Tetapi sedikit demi sedikit memudar seiring datangnya dia..

Airmata yang mengembun di pojok netra kutahan agar tak luruh..

Tak pantas kubela kau dengan pengorbanan sepenuh hati

Solah tingkahmu yang membuat siapa saja terpesona

Ternyata hanya sekedar pemanis tuk memikat hati wanita

Benih-benih cinta yang mulai bersemi di hati

Tercerabut akarnya….

Perlahan merunduk layu....

 

 

 


 

 

 

 

 

PESAN TERAKHIR

Oleh: Surti Alfiah 

Ting..... ting....... ting...... ting..... ada tanda pesan wa masuk secara beruntun, agak enggan Kinanti meraih HP dari atas meja kerjanya, dan membukanya, ada kernyit di dahinya saat membaca inisial pengirim pesan "Megah". Terburu dia membuka pesan2 masuk itu.

M: "Saat kematian di pelupuk mata, hanya kamu yang kuingat"

M: "Dari ratusan, bahkan ribuan wanita yang kukenal, kamulah yang paling tulus"

M: "Dari saat pertama pertemuan kita, aku sudah terpikat padamu"

M: "Sepertinya, remnya blong....."

tertegun dan juga gemetar Kinanti membaca pesan-pesan itu, dengan tangan masih gemetar dia nencoba menulis tuk memberikan balasan.

"hai, ada apa ini?" dia tekan tombol anak panah untuk pengiriman. Setelah ditunggu beberapa menit berlalu tak ada jawaban, dia menulis lagi...

"Please..... jangan bikin aku khawatir"

Ditunggu beberapa saat pun tak juga ada balasan. Dengan hati ragu dan berdebar Kinanti mencoba menelphon nomor itu...

"Kutuliskan kenangan tentang caraku menemukan dirimu......" terdengar ringtone lagu dari HP di seberang sana yang menandakan HP nya aktif, tapi tak diangkat. Kinanti mencoba dan mencoba lagi, hingga akhirnya ada tanda ada yang menerima panggilannya....

"Halo..... "  suara lelaki yang tak dikenalnya. Kinanti makin panik, dan langsung memberondong pertanyaan.. .

"Anda siapa? Di mana pemilik HP itu? Ada apa?"

"Saya  termasuk orang yang mau menolong korban kecelakaan ini mbak, kebetulan HP yang ada di pangkuannya berdering ya saya angkat tapi....." belum selesai orang itu bicara tiba-tiba terputus. Kinanti mencoba menghubunginya lagi tapi sudah tidak ada nada aktif dari HP itu. Kinanti panik, peluh membanjiri lehernya, panas siang itu terasa semakin gerah dan menyesakkan dengan apa yang baru saja dia dengar. Kinanti berjalan mengambil air minum dari dispenser  di sudut ruangan itu dan kembali duduk ke kursi, perlahan dia ambil nafas panjang dan kemudian meminum habis segelas air putih yang digenggamnya. Sekali lagi dia mengambil nafas panjang.... semua itu dilakukan untuk menenangkan pikirannya. Setelah berpikir sejenak dia kembali menyambar HP yang tadi  dimejanya. Kinanti mulai mencari nomor, ya, dia memutuskan menghubungi Wahyu, sahabat sekantor  Megatruh, begitu ketemu nomor Wahyu langsung dia tekan calling....

terdengar ringtone lagu dangdut dari seberang, gak diangkat sampai ringtone habis. Kinanti mencoba calling lagi, kali ini gak nunggu lama langsung ada jawaban.. 

"Hai Kinant.... apa kabar, tumben nelphone...." belum selesai wahyu bicara Kinanti langsung memotongnya....

"Megatruh kemana dan dengan siapa,?"

"Woi ada yang kangen ni.... cemburu lagi...."

"Jangan bercanda, aku serius.... tadi Megah kirim wa yang membuatku khawatir, saat kutelphon yang menerima orang lain dan mengatakan pemilik HP korban kecelakaan, tapi habis itu dah gak bisa dihubungi. mungkin kau tahu Megah pergi ke mana?"

"waduh, kecelakaan? tadi dia bilang mau nengok proyek , mau tak temeni saja tidak mau. oke begini saja manis, kamu jangan khawatir, saya cari info dulu nanti hasilnya tak kabari, sabar ya"

"Cepet... jangan pake lama!"

"Iya-iya.... galak dan gak sabaran sih hi hi hi"

Kinanti berjalan hilir mudik di ruang kerjanya, sambil berulang kali melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Belum ada seperempat jam tapi dia merasa sudah berabad-abad menunggu. Sontak dia kaget saat HP nya berdering, langsung dia sambar dan tergesa-gesa membukanya ...

"Kinant.... tabahkan hatimu....

"Ada apa, bagaimana Megah? tak sabar Kinan menyerobot tanya

"Tabahkan hatimu..  berita dari RS, Megah baru saja meninggal karena kecelakaan"

"Innalilahi wainnailaihi roji'un..... kau..  kau tak bohong kan Wahyu?"

"Tentu tidaklah Kinan, Megah sudah.... belum selesai ucapan dari Wahyu, Kinan telah menutup pembicaraan. Ia terduduk lemas di kursi ruang kerjanya....  Semua kenangan tentang Megatruh melintas lagi bak memutar gulungan rol film di bioskop, tergambar nyata. Kinan masih ingat betul pertemuan pertamakalinya dengan Megatruh, Tanggal 28 Desember 2016 dalam sebuah acara pameran Lukisan di Rumah Budaya, Mary temannya yang memperkenalkan mereka. Jabat tangan biasa saja,

"Megah" ucapnya sambil menjabat tangan Kinan

"Megatruh lengkapnya" lanjutnya sambil tersenyum

"Kinan"

"Mesti panjangnya Kinanthi kan?" serobot megah

"Wow, nama kita serasi lho" imbuh lelaki itu sambil tersenyum lebar, yang diakui Kinan memang senyumnya menawan.

Hari-hari pun berlalu dan Kinan sudah melupakan perkenalan dengan Megah, hingga suatu siang ada pesan wa masuk dengan inisial Megah di sudut kanan atas

" Hai.... selamat siang Kinan" Kinan pun membalasnya

"Hai juga....." kemudian dilanjut basa basi biasa....

Sejak saat itu Megah rajin berkirim pesan wa yang kadang-kadang disertai foto- foto selfinya, yang diakui  Kinan memang fotogenik dan menarik. Obrolan semakin intens, santai, dan menarik. Kinan mulai menikmati hubungan yang sebenarnya tak wajar dan seharusnya tak boleh terjadi itu. Dia mulai merasakan ada sesuatu yang kurang apabila Megah tak menghubunginya. Apalagi Megah mulai romantis dan mengeluarkan jurus bujuk rayunya, seperti saat kinan minta tolong dikirimi file tentang kontrak kerja.

K:"Hai.... met pagi"

M:"Pagi juga Kinan Sayang"

K:"Boleh aku minta tolong..."

M:"Apa sih yang enggak untukmu Yank, perlu apa?"

K:"Aku perlu contoh kontrak kerja dengan perusahaan Luar Negeri, ada?"

M:"Ada, nanti tak kirim via email ya, alamat emailnya mana?"

K:"ini emailnya, kinancuantik@gmail.com"

M:"Iiih, emailnya nggemesin deh"

K:"Ah, bisa ajah...."

Begitulah hari-hari selanjutnya dirasakan Kinan semakin membuaikan. Megah selalu mengabari di mana keberadaannya dan tak lupa mengirimkan foto2 dirinya. Sekali waktu Megah meminta agar Kinan gantian mengirim foto, dan selalu dia memberikan komentar yang membuat hati Kinan semakin melambung.....

M:"Yank, kirim fotonya dong..."

K:"Fotoku jelek, paling untuk nakut-nakutin tikus he he he"

M:"Ya enggaklah, untuk obat kangen tau...."

K:"Oke, saya kirim tapi janji gak diketawain ya"

M:"Deal..... I Promised"

Saat Kinan mengirimkan foto menggunakan rok merah bermotif bunga nan lembut dipadu atasan warna kuning polos, tahu apa komentar Megah....

M:"Aaaaaahhh..... Membuat berdesir"

Lain kali saat Kinan mengirim foto menggunakan sackdress warna orange motif etnik dipadu warna hijau yang soft, apa komentar Megah...

M:"Wooooow..... Lapis Legit"

Aaaahhhhh..... Kinan mendesah panjang. Kenangan manis bersama Megatruh terus berkelebat dibenaknya. Masih terang dalam ingatannya saat Megah mengirimkan foto dan mengatakan kalau dia dicalonkan menjadi direktur dengan beberapa kandidat lainnya.

K:"Keren, bener-bener dah pantes jadi direktur nih...."

M:"Dan.... Kaupun pantes jadi pacar direktur sayangku"

K:"Wah.... gak boleh, gak pantes, gak elok..... pejabat kok pacaran"

M:"Biarin...... terlanjur gandrung..... jatuh cinta pada pandangan pertama .."

K:"Alaaaah.... rayuan gombal"

M:"Bener ... mau bukti...."

Kemesraan mereka terus berlanjut bahkan saat Megah sudah ditasbihkan menjadi seorang direktur, komunikasi terus berlanjut meskipun melalui wa saja ,  bila sekali waktu mereka bertemu dalam sebuah acara di mana Megah sebagai narasumbernya saat bersalaman dengan Kinan, Megah tak pernah memandangnya, mesti berpaling ke arah lain. Kinan selalu berpikir mungkin bila Megah memandangnya dia khawatir kilau cinta di matanya akan dilihat orang.

Sampai suatu ketika, tepatnya di bulan Januari 2018 Kinan membaca postingan Megah di dinding facebooknya, yang meskipun tidak langsung merujuk ke dirinya tapi Kinan merasa tulisan itu ditujukan untuknya. Kinan tak ingat seluruh tulisan, tapi ada beberapa baris yang kemudian terukir dalam ingatannya......

"Perlahan tapi pasti kutempatkan dia ditempat yang sewajarnya..... menjalin hubungan yang lebih bermartabat..... mungkin suatu ketika akan kucari lagi untuk menyalurkan syahwat purba........"

Entah mengapa hati Kinan sakit sekali saat itu.... kenapa tak dia katakan langsung lewat pesan wa seperti biasanya .... kenapa tak gentleman.....

Namun setelah merenung lama Kinan mulai menyadari, mungkin memang lebih baik begitu,  meskipun hubungan mereka sebatas wa nan saja tapi tak seharusnya terjadi.

Dan benar, sejak postingan di Facebook itu Megah mulai menjauh, mulai jarang mengirimkan pesan. Sekalinya kirim wa tak tanggung-tanggung 7 buah foto Megah kirimkan, menunjukkan kebahagiaannya dengan tertawa riang menggandeng wanita cantik……istrinya...... Kinan membalas dengan komentar….

K:"Indahnya merajut filamen-filamen kemesraan bersama orang-orang terkasih"

Megah semakin menjauh, tidak hanya di wa namun juga di Facebook. Saat Kinan mulai on ke FB, Megah mesti buru-buru off, begitu seterusnya. Itu yang membuat Kinan bersedih, kenapa tidak bisa menjadi sahabat..... Bila sekali waktu Kinan mengirim pesan wa terkait pekerjaan, Megah menjawab dengan bahasa baku sesuai EYD, dan menambahkan kata "Bu" di akhir jawaban. Lengkap sudah, Megah memang membuat pagar yang semakin rapat dan tinggi di antara keduanya. Untuk menunjukkan bahwa dirinya tak akan mengusik kehidupan Megah, di saat yang dianggap pas, Kinan mengirimkan sebuah puisi.....

Aku akan selalu ada untukmu

Bukan sebagai musuh, juga bukan perusuh

Aku akan selalu ada untukmu

Bukan sebagai TTM, juga bukan kekasih hati

Bila kau mau......

Saat bahagiamu

Saat ceriamu

Saat di puncak popularitasmu

Berbagi denganku

Aku akan selalu ada untukmu

Saat resahmu

Saat kesepianmu

Saat kesendirianmu

Saat puncak penderitaanmu

Saat kau ditinggalkan

Saat putus asamu

Aku akan selalu ada untukmu 

Hadir

sebagai.....

Sahabat sejati

 

 

Meskipun pada awalnya terasa kikuk dan canggung, tapi lambat laun mencair juga komunikasi di antara mereka dalam bentuk sebuah persahabatan tanpa rasa "greng" alias cinta...... hubungan yang lebih berharga dan elegan.......

Apabila mereka bertemu dalam sebuah acara di mana Megah menjadi narasumbernya dan Kinan sebagai peserta, setelah turun dari podium Megah selalu kirim pesan wa....

M:"Bagaimana penampilan akuh tadi? objektif dan tanpa tendensi lho...."

K:" Oke, menarik, tidak bosenin dan tak bikin ngantuk"

Kinan memang tak berbohong, Megah memang pandai berbicara dan selalu mampu menyampaikan materi apapun demikian menarik.

Kinan tersenyum sendiri di ruang kerjanya, dia ingat waktu pertamakali ngajari Megah membuat status di wa, ada kejadian lucu yang tak mungkin bisa dia lupakan. Kinan sadar mereka berdua bisa menjalin persahabatan karena diantara mereka memang memiliki banyak persamaan, sama-sama memiliki kecerdasan di atas rata-rata, selengekan dan suka bercanda,  hobby menyanyi, hobby selfi, narsis, percaya diri yang tinggi, pandai berbicara dengan gaya yang menarik, banyak disukai lawan jenis, dan masih sederet persamaan lainnya  yang bisa dicari.

Saat Kinan ulang tahun, Megah mengirimkan pesan, meskipun  bahasanya kaku dan standar Kinan merasa senang karena persahabatan di antara mereka tetap terjalin. Saat Megah ulang tahunpun Kinan mengirim pesan wa “Meskipun kebermaknaanku memudar dan sirna, tak menyurutkanku melantunkan doa tulus dalam sujud panjang di sepertiga malam hari ini, Yaa Allah, Yaa Rabb aku berdoa dan memohon pada Mu, untuk sahabatku Megatruh yang hari ini genap berusia 35 tahun, ampunilah dosanya, jauhkan dia dari perbuatan dosa dan tercela, bimbinglah dia kejalan yang Engkau Ridhai, yaa Allah, jauhkan dia dari segala marabahaya, lindungi dia dari segala macam kejahatan baik yang nampak maupun yang tersembunyi, jauhkan dia dari segala macam fitnah. Yaa Allah, Yaa Azis, jadikan dia sebagai pemimpin yang amanah, dicintai, dan disegani, Yaa Allah Yaa Rahman, karuniai dia dengan umur panjang yang manfaat, rejeki melimpah yang barakah, kesehatan yang baik, kesuksesan yang tulus, dan kebahagiaan yang hakiki. Aamiin Yaa Rabbal'alamin”.

Selain mengirim doa, Kinan juga mengirim sebuah video yang dia buat sendiri dengan mengumpulkan semua foto Megah yang pernah dikirim kepadanya, dengan soundtrack lagu “Pejantan Tangguh” nya Sheila On Seven. Kinan memilih lagu itu karena ingat saat mereka berdua masih dekat, Megah selalu menyebut dirinya “Pejantan Tangguh”.

Saat berikutnya mereka disibukkan urusan pekerjaan masing-masing dan sudah jarang berkomunikasi. Hingga datang pesan wa dari Megah siang itu yang menimbulkan tanda Tanya besar di hati Kinan:”Salah kirimkah?”, “Untuk Istrinya kah?”, atau mungkin untuk wanita lain (mengingat Megah itu flamboyant dan Cassanova), atau memang benar-benar ditujukan untuk dirinya…..

Kalau disuruh memilih, Kinan lebih suka tidak dicintai Megah asal dia masih bisa melihat senyum dan tawanya yang mempesona (meskipun Megah bersama wanita lain), daripada Megah mencintainya tapi meninggalkan Kinan untuk selamanya……

Sayangnya Kinan tak bisa memilih, dia harus mengakui kenyataan Megatruh telah pergi untuk selamanya, meninggalkan pesan terakhir yang menimbulkan Tanya, tapi tak dipungkiri menyusupkan bahagia di hatinya……. Ah, Megatruh…….

 

 

                                                                                                                             Surti Alfiah, S.Pd, MBA

                                                                                                                             SMP Negeri 4 Semin

           

 

 PESAN  TERAKHIR (Part 2)

 

            Kinan mematut diri di depan cermin, gamis hitam dengan bordir bunga warna biru di bagian lengan bawah dan rok bawah Nampak serasi dipadu dengan jilbab warna biru motif bunga juga. Kinan sudah menguatkan hati untuk ke rumah sakit melihat kondisi Megah, ia tak sanggup untuk datang sendiri, makanya dia berpesan pada Wahyu untuk menjemputnya. Kinan duduk di kursi teras menunggu kedatangan Wahyu, berulangkali dia menarik nafas panjang untuk menguatkan hati dan perasaannya. Kinan tersentak saat terdengar denting bunyi tanda ada pesan wa masuk. Bergegas dia buka dan matanya terbelalak saat melihat pesan yang masuk dari nomor Megah…… “Mbak Kinan tolong dia, selamatkan dia, dia sangat membutuhkanmu. Datanglah ke rumah sakit”. Belum sempat Kinan mengirim balasan sudah disusul pesan berikutnya “Aku mohon…. Selamatkan dia”. Disaat Kinan masih kebingungan dengan pesan-pesan wa itu, terdengar bunyi klakson mobil thin…thin….thin…. Wahyu sudah menunggunya, bergegas setengah berlari Kinan menuju mobil Wahyu. Selama dalam perjalanan tak ada pembicaraan di antar mereka, diam membisu.

            Tak membutuhkan waktu dari 20 menitan mobil wahyu dah sampai di parkiran RS Sarjito, bergegas mereka menuju ruang ICU. Berdebar jantung Kinan saat hampir sampai di ruang ICU, di depan pintu Kinan melihat wanita cantik yang sembab penuh airmata. Wanita itu menatap kearah Kinan, jantung Kinan bergetar karena wanita itu memandangnya dengan mata tajam dari ujung kaki sampai ujung rambut, matanya mulai melembut bahkan mulai mengalir airmatanya. Ia semakin mendekati Kinan dan kedua tangannya meraih tangan Kinan sambil bertanya lirih, “Mbak Kinan ya?” Kinan hanya menganggukkan kepala, semakin deraslah airmata mengalir di mata wanita cantik itu.

 

 

 

 

 

 

GURUKU SENIMAN SEJATI

(Oleh Surti Alfiah)

 

Namanya Paimin.

Dari namanya dapat dipastikan bahwa beliau Orang jawa dan sifatnya sederhana. Memang begitulah adanya.

Perawakannya tinggi besar, bahkan bisa dikategorikan gemuk, rambutnya ikal, kepala bidang, kulit warna sawo matang, berwajah teduh dan penyabar. Saat aku menjadi muridnya, beliau berusia sekitar 50 an tahun.

Aku mulai dekat beliau saat kelas 1 SMP semester 2. Saat itu beliau mengajar matapelajaran Biologi menggantikan guru Biologi semester sebelumnya. Selain mengajar Biologi di kelasku beliau juga mengajar mata pelajaran Ketrampilan bebas (siswa bebas memilih jenis ketrampilan yang ditawarkan oleh sekolah) Seni Karawitan, juga mengajar ekstrakurikuler Seni Karawitan. Selain menjadi guru PNS, beliau terkenal sebagai dalang Wayang Kulit.

Suatu hari, saat jam istirahat dan aku melintas di halaman depan sekolah, pak Paimin mendekatiku dan berkata, “Al, kalau kamu tidak mau bergabung di kelompok Karawitan, maka nilai Biologimu akan Bapak kasih nilai 5”. Ucapnya dengan nada serius dan wajahnyapun bersungguh-sungguh. Tentu saja aku terkejut mendengarnya. Masa iya nilai Biologiku di raport mau dikasih nilai 5, aku kan setiap kali ulangan selalu memperoleh nilai 10. Terus terang aku saat itu benar-benar takut kalau beliau tidak sekedar bergurau.

Akhirnya aku pun memutuskan untuk bergabung mengikuti matapelajaran Ketrampilan Bebas Seni Karawitan, dan meninggalkan pilihanku di semester sebelumnya yaitu Tenis Meja di bawah bimbingan bapak Sahri.

Aku merasakan betapa baik dan perhatiannya pak Paimin padaku. Beliau tahu aku tidak menyukai Karawitan, samasekali belum mengenalnya, dan tentu saja tak satupun alat gamelan yang dapat aku mainkan. Hebatnya pak Paimin, beliau benar-benar menunjukkan kualitasnya sebagai pendidik. Beliau tidak ingin aku malu di hadapan teman-temanku yang rata-rata sudah mahir sebagai Pengrawit (Sebutan untuk pemain Gamelan), karena sejak SD nya mereka sudah terbiasa dengan alat-alat itu. Maka beliapun mengajariku terlebih dahulu secara privat.  Beliau dengan sabar dan telaten mengenalkan nama-nama perangkat gamelan itu, mulai dari Gong, Kendang, Saron, Kempul, Kenong, Bonang Gedhe, Bonang Penerus, Gambang, Gender, Slenthem, dan juga Peking. Mungkin masih ada lagi yang aku terlewat namanya.

Setelah aku mengenal nama-nama perangkat gamelan, beliau mulai memberi contoh cara memainkan alat tersebut, aku diminta untuk memperhatikan dan kemudian mencoba memainkannya. Demikian terus menerus, hampir tiap hari di waktu luang beliau mengajariku memainkan gamelan, sampai hampir semua alat pernah kucoba.

Setelah dirasa cukup membekaliku, akhirnya aku diikutsertakan bergabung dalam kelompok Seni Karawitan. Saat pertama aku bergabung, aku belum berani memainkan alat. Aku melihat terlebih dahulu teman-teman memainkannya. Aku mengaguminya, karena teman-temanku sangat terampil memainkannya. Tibalah giliranku untuk memainkan alat bersama teman yang lain,  aku memilih Saron yang kuanggap paling mudah. Dengan percaya diri tangan kanan memegang pemukul dan tangan kiri memegang bilah yang  dipukul, berusaha menirukan seperti teman yang  memainkannya,  tapi kok tidak berbunyi. Dari jauh pak Paimin mengawasiku sambil menggelengkan kepalanya, itu pertanda cara memukulku salah. Aku terus berpikir dan akhirnya kutemukan jawabannya, ternyata yang seharusnya dipegang dengan tangan kiri adalah bilah nada yang habis dipukul, tujuannya adalah agar suara tidak bergaung dan tidak mencampuri nada berikutnya yang dipukul. Lama kelamaan aku mulai mahir memainkan Saron dan kulihat pak Paimin tersenyum sambil mengacungi jempol.

Ada kejadian yang menurutku lucu dan membuatku malu,karena menunjukkan betapa aku tertinggal dari teman-teman terkait peralatan Gamelan. Saat itu aku diminta pak Paimin untuk mengeluarkan gamelan laras Slendro. Tanpa meminta penjelasan, dengan gembira aku mengajak teman-teman mengeluarkan semua perangkat gamelan yang ada di ruang penyimpanan ke aula latihan. Saat pak Paimin datang, beliau menggeleng-gelengkan kepala dan memanggilku untuk duduk di dekatnya. Alih-alih marah, beliau dengan bijaknya memberi penjelasan padaku perbedaan antara gamelan laras Slendro  dengan laras Pelog. Yang masih kuingat sampai sekarang, kalau Laras Slendro itu tidak menggunakan nada 4 (Pat) dan 7 (Pi). Sedangkan Laras Pelog Menggunakan lengkap 7 nada, yaitu 1 (Ji), 2 (Ro), 3 (Lu), 4 (Pat), 5 (Mo), 6 (Nem), dan 7 (Pi).

Kegiatan Intra kurikuler Ketrampilan bebas dilaksanakan pagi hari, untuk kelas 1 jadwalnya hari Selasa jam pelajaran ke 1 dan 2. Sedangkan kegiatan Ekstrakurikuler dilaksanakan sore hari, seminggu sekali. Anggotanya gabungan dari kelas 1, 2, dan 3.

Pak Paimin memiliki kebiasaan khas yang masih kuingat sampai sekarang, yaitu pada saat apel pagi dan beliau memberikan pengumuman ke siswa untuk masuk sore mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Karawitan, beliau selalu mengakhiri pengumuman dengan kalimat “Ingat ya anak-anak, hujan bukan halangan”. Maksudnya, meskipun sore hari terjadi hujan, siswa tetap diminta masuk untuk latihan.

Setelah beberapa bulan aku bergabung dalam kelompok Seni Karawitan, pada suatu hari pak Paimin memberi pengumuman  bahwa akan diadakan lomba Karawitan untuk tingkat kabupaten. Mulailah dilakukan seleksi para Pengrawit (Pemain Gamelan) dan Penggerong (Penembang atau Penyanyi). Aku terpilih bersama2 orang temanku Rini dan Siti untuk menjadi Gerong. Tentu saja aku terkejut, karena aku tidak bisa nembang. Kalau Rini, dia memang sudah terbiasa menjadi Sinden sedari kecil dan suaranya cemengkling, bagus sekali.

Tapi ternyata pak Paimin memiliki rencana sendiri untukku. Pada malam hari pak Paimin berkunjung ke rumahku bersama isterinya yang merupakan seorang Sinden terkenal  di masa itu. Isteri beliau inilah yang diminta untuk mengajariku untuk Nembang. Latihan setiap malam di rumahku berjalan sekitar 1 minggunan. Setelah itu latihan bersama kelompok hampir setiap hari dimulai jam 14.00 -16.00 WIB.

Selain Nembang, para Gerong juga diajari cara berjalan (Laku Dhodhok), dan duduk timpuh dengan kedua tangan Ngapu Rancang di atas paha, di bawah perut, dan dada agak dibusungkan. Duduk Timpuh ini membuat kakiku  kesemutan,sehingga aku sering menggoyang-goyangkan badanku. Bila sudah begini, pak Paimin menghampiriku dan menggetok dahiku atau menyentil hidungku, namun tidak terlalu keras dan tidak sakit hanya menunjukkan rasa gemas, memintaku untuk duduk dengan tenang kembali.

Saampailah kami pada hari diadakan lomba Karawitan tingkat kabupaten. Pada Saat pengumuman hasillomba, ternyata sekolahku dinyatakan sebagaijuara pertama dan berhak mewakili kabupaten Gunungkidul  ke tingkat propinsi DIY. Selain dinobatkan sebagai juara 1, ternyata sekolah kami juga menggondol predikat Pembonang Terbaik dan Pengendang terbaik.

Hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan latihan dan latihan. Dan sampailah pada hari diadakan lomba tingkat propinsi yang dipusatkan di gedung SMKI (nama sekarang). Ternyata pada saat lomba ada ketentuan baru, yang menjadi Gerong hanya 2 orang. Dalam hati aku menduga tentu akulah yang dicoret untuk tidak diikutkan maju lomba. Tetapi pak Paimin hanya diam saja. Baru setelah nama sekolahku dipanggil untuk tampil, aku dan Siti diminta untuk berada di barisan paling depan. Rini, yang memiliki suara terbagus di antara kami bertiga justru tidak disertakan. Aku bisa memahami keputusan pak Paimin setelah aku dewasa. Suaraku dengan suara Siti seimbang, jadi bisa kompak saat nembang bersama, tidak ada yang lebih menonjol. Kuakui pak Paimin betul-betul professional dalam membimbing kami.

Meskipun saat itu sekolah kami hanya memperoleh juara harapan 1 tapi kami cukuppuas, karenainilah pengalaman pertama kami maju lomba tingkat propinsi.

Aku menekuni seni Karawitan di bawah bimbingan pak Paimin sampai aku lulus SMP tidak pernah berpindah ke pilihan yang lain.

Pak Paimin memang hebat, dapat mengubahku dari yang tidak menyukai Seni Karawitan berbalikmenjadi  cinta sampai sekarang.

Aku terus menjalin silaturahmi dengan pak Paimin. Saat aku menjadi guru dan mengajar di SMP yang dekat dengan rumah beliau, kusempatkan mampir ke rumahnya. Beliau sudah sepuh (tua), tetapi tetap mengenaliku dan tetap memanggilku dengan sebutan “Al”. hanya beliaulah yang memanggilku demikian.

Dan saat beliau wafat, kuluangkan waktu untuk takziah dan mendoakannya. Selamat jalan Bapak, Guruku yang Seniman, semoga engkau diampuni semua dosa,  diterima ibadahmu, dan ditempatkan di Surga.

Masih kuingat sebait tembang yang pernah kau ajarkan dan kutembangkan saat lomba. Aku tak pernah  tahu apa artinya, tetapi sering kutembangkan dengan penuh penghayatan untuk mengenangmu…….

Engge Baboooooooo……….

Enis Kawuryaning Angga………

Risang Wus Raga Bathara……….

Baboooo………………………….

 

 

Gunungkidul, 21 September 2021

 

Surti Alfiah, S.Pd, MBA, adalah seorang pendidik dan sekarang menjabat sebagai Kepala Sekolah di salah satu SMP Negeri di Gunungkidul. Berdomisili di dusun Tenggaran RT 02 RW 02, Gedangrejo, Karangmojo, Gunungkidul. Memiliki seorang suami yang bekerja sebagai Widyaiswara di Balai Diklat Keagamaan Semarang, dan 3 orang anak, Lintang Zia Nareswari, Thoriq Ka’ab Bennabi, dan Rifyal Ka’ab. Aktif di organisasi dengan menjadi ketua PCA kecamatan Karangmojo, Ketua GACA (Gerakan Aisyiyah Cinta Anak) kabupaten Gunungkidul, Koordinator bidang penelitian dan pengembangan Masyarakat Sejarawan (MSI) komisariat Gunungkidul.

Tulisan berupa buku kolaborasi dengan teman (Antologi) yang telah diterbitkan: From Control To Help (2013), Rona Pelangi Buah Hati (2021), Berpantun Cintai Budaya Negeri (2021)

Email               : utikcuantik@gmail.com

Facebook         : Surti Alfiah

Wa                   : 085292341314