UNTUNG AKU MENJADI SEORANG GURU
Oleh: Surti Alfiah
Menjadi guru bukanlah cita-citaku
dari kecil. Waktu aku masih sekolah di SD bila ditanya “Kamu ingin menjadi apa?”
atau “Cita-citamu bila besar ingin menjadi apa?” Mesti aku jawab “Ingin menjadi
Dokter” (Seperti jawaban boneka Susannya Ria Enes dalam lagunya Cita-citaku, he he he).
Cita-citaku mulai berubah saat aku memasuki SMP, aku ingin menjadi seorang
hakim. Sampai aku SMA pun tetap berkeinginan kuliah di jurusan hukum, dan
menjadi seorang hakim. Namun lucunya pada saat kelas 3 dan harus mengisi
formulir pendaftaran masuk perguruan tinggi melalui jalur PMDK (Penelusuran
Minat Dan Kemampuan, yaitu melalui jalur prestasi dengan menggunakan nilai
raport), aku menuliskan pilihan jurusan Pendidikan Sejarah sebagai pilihan 1,
dan pilihan 2 nya Pendidikan PPKN IKIP Yogyakarta. Padahal IKIP adalah
perguruan Tinggi yang notabene mencetak calon-calon guru. Alasanku saat itu
adalah nilai raportku yang bagus dengan rata-rata 8 ya di matapelajaran itu.
Dan ternyata aku memang ditakdirkan lolos masuk perguruan tinggi melalui jalur
PMDK itu. Aku diterima dijurusan Pendidikan Sejarah IKIP Yogyakarta.
Selama kuliah terbersit dalam
anganku, aku ingin menjadi dosen saja. Oleh karena itu akupun berusaha untuk
memiliki nilai IPK paling tidak 3,0 agar memenuhi persyaratan minimal untuk
menjadi seorang dosen. Kala itu sangat sulit untuk memperoleh nilai 3. Di
angkatanku satu kelas terdiri dari 40 mahasiswa, yang sampai lulus kuliah memiliki nilai 3 keatas
mungkin tidak lebih dari 5 orang, dan salah satunya adalah aku.
Begitu lulus kuliah aku langsung menikah dan menjadi
guru honorer di SMEA (sekarang SMK) Muhammadiyah Karangmojo. Aku tidak pernah
mencoba mendaftar menjadi dosen, meskipun nilai IPK ku memenuhi syarat untuk
itu.
Setiap ada pendaftaran seleksi CPNS
aku ikut mendaftar. 2 kali mendaftar selalu lolos dalam tes tertulis, namun
selalu gagal di tahap tes wawancara. Padahal soal dalam tes wawancara hanya
mudah saja. Masih aku ingat saat mengikuti tes wawancara aku diberitahu
pengujinya bahwa dari 8 orang yang lulus tes tertulis, nilaikulah yang paling
tinggi. Setelah selesai melakukan wawancara, Penguji itu memberiku ucapan selamat
dan mengingatkanku suatu saat namaku akan tercantum di Koran saat
pengumuman. Namun ternyata saat pengumuman namaku tidak ada, yang berarti aku
tidak diterima menjadi CPNS saat itu. Kecewa, tentu saja. Tetapi hidup harus
terus berjalan. You Must go on….
Tahun berikutnya, tepatnya tahun
1996, aku mengikuti seleksi CPNS untuk
ke 3 kalinya. Seleksi dilakukan dengan menggunakan CBT dan ada tespotensi
akademik untuk pertamakalinya dalam sejarah seleksi CPNS untuk guru. Formasi
yang dibutuhkan untuk jurusanku sekabupaten hanya ada 1.
Akupun bersungguh-sungguh
mempersiapkan diri untuk mengikuti tes, termasuk meminjam buku-buku latihan
soal potensi akademik pada teman. Kepada suami aku mengatakan kalau tes ini
adalah tes terakhir yang akan aku ikuti, apabila tidak diterima aku akan fokus
mengabdikan diri di sekolah Muhammadiyah.
Pada saat sedang mengikuti tes,
sambil menunggu tes dimulai, para peserta tes yang sudah saling mengenal mengobrol dengan asyik. Ada salah satu
peserta yang mengusulkan untuk mengadakan arisan. Sambil tertawa aku
menanggapinya, “Usul yang bagus, tapi maaf untuk tahun depan aku sudah tidak
ikutan ya”.
Waktu terus berjalan, aku sudah
melupakan tentang hasil tes seleksi CPNS. Sampai suatu hari, saat aku sedang momong putri sulungku yang berumur
2 tahun di rumah kakak ipar, tiba-tiba suamiku datang dengan tergopoh-gopoh,
wajahnya berseri-seri. Dia langsung menggendongku dan dengan gembira
memberitahu kalau aku diterima menjadi CPNS. Dengan setengah tak percaya aku
menanggapinya, “Yang benar Pa, memang sudah ada pengumuman? Di mana
pengumumannya?” tanyaku bertubi-tubi.
Kami memutuskan untuk melihat
pengumuman hasil seleksi CPNS yang dipasang di kantor Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul di Wonosari. Putri kecilku yang sedang
tertidur pulas aku gendong. Dengan
berboncengan sepeda motor kami meluncur ke tempat pengumuman.
Alhamdulillah, di kolom guru Sejarah namaku tertera, hanya namaku
sendiri karena memang formasi yang dibutuhkan hanya ada 1, penempatannya di SMP
Negeri 4 Paliyan.
Mulailah aku menjalani hari-hari
sebagai guru CPNS di SMP Negeri 4 Paliyan,
Sesuai SK yang aku terima berlaku per 1 Februari 1997. Jarak sekolahan
dari rumah sekitar 45 KM. Tugas sebagai guru honorer di SMEA Muhammadiyah
Karangmojo aku tinggalkan. Meskipun Kepala Sekolah masih menginginkan aku untuk
tetap mengajar di sana. Tetapi aku berpikir lebih baik diisi oleh orang yang membutuhkan.
Jarak yang jauh dan medan yang
lumayan sulit menjadi tantangan bagiku, apalagi aku tidak diijinkan naik sepeda
motor oleh suamiku. Jadi aku harus menggunakan kendaraan umum atau yang disebut
Anak Bis sebagai sarana transportasi.
Harus 2 kali naik Anak Bis, masih dilanjut dengan naik ojek sejauh 7 KM. Jarak keberangkatan Anak Bis yang satu dengan
lainnya selisih waktunya hampir 1 jam. Jadi kalau tertinggal Anak Bis yang jam
awal, terpaksa harus menunggu lama dan alamat akan terlambat sampai ke
sekolahan.
Kalau bertepatan dengan pasaran
Wage, Anak Bis berhenti lama di pasar Trowono, dan aku harus melanjutkan
perjalanan dengan naik kendaraan terbuka atau Colt Pick Up, bareng dengan
penduduk yang pulang dari pasar, jadi wajar kalau kadang-kadang harus berbaur
dengan ayam dan kambing.
Begitulah hari-hari aku jalani,
berangkat pagi-pagi sekitar jam 5, dan pulangnya sampai di rumah sudah jam 17
atau jam 5 sore. Ini berarti waktu bersama suami dan putri kecilku sangat jauh
berkurang.
Dalam kondisi yang seperti ini aku
mendapat anugerah dari Allah, ya, aku hamil anak kedua. Untuk menjaga
kandunganku, aku berniat mencari tempat untuk ngekos yang dekat dengan
sekolahan. Pak Lurah menyediakan rumah untuk aku tempati. Dibuatkan Kamar mandi
dalam dan lantainya dipelur. Di daerah sekitar sekolahan tidak ada yang
memiliki sumur dan juga belum ada fasilitas PAM. Untuk memenuhi kebutuhan air
sehari-hari masyarakat menampung air hujan.
Niat untuk ngekos aku batalkan,
pasalnya saat putri sulungku aku ajak ke sekolah sekaligus untuk melihat tempat
untuk kos, dia sangat ketakutan mendengar suara Garengpung (binatang seperti Kumbang hitam besar yang muncul dikala
musim kemarau dan biasanya banyak terdapat di pohon-pohon besar seperti pohon
kelapa). Suaranya yang ngeor… ngeor…. ngeor bersahutan dari ribuan Garengpun membuat suasana menggetarkan, wajarlah kalau
putri kecilku sangat ketakutan, dengan memeluk kedua kakiku erat-erat dia
mengajak pulang. Dan sejak itu dia tidak pernah mau lagi diajak kesekolahan.
Semakin besar kandunganku semakin
berat kurasakan menjadi seorang
penglajo. Akupun merengek ke suami untuk berhenti bekerja menjadi guru di
tempat yang jauh,dan berniat kembali mengajar di SMEA Muhammadiyah Karangmojo
yang jaraknya hanya 300 an meter dari rumah. “Pa, Mama berhenti menjadi CPNS
ya, Jauh, capek, mana gajinya hanya selisih sedikit dengan honor di SMEA,
itupun sudah habis untuk biaya transport” rengekku. “Yang sabar ya Ma, besok
dicoba lagi” begitu jawaban suamiku.
Begitulah seterusnya, tiap kali aku
merengek untuk berhenti menjadi guru di sekolah yang jauh, suamiku selalu
memberiku jawaban yang sama,dan berusaha untuk menghibur. Akhirnya akupun
menjadi terbiasa dan tidak lagi meminta untuk berhenti bekerja.
Sebenarnya apabila sudah ada di
sekolahan rasanya senang. Bagaimana tidak, teman-teman guru yang rata-rata
seusia semuanya baik, siswa juga menyenangkan. Yang aku sayangkan ada beberapa
siswa putri yang keluar dari sekolah meskipun masih kelas 2atau 3, bahkan ada
yang baru saja masuk di kelas 1 tapi kemudian keluar untuk menikah. Ketika
siswa lulus dari SMP pun hanya sedikit yang melanjutkan ke jenjang yang lebih
tinggi. Sebagian besar siswa laki-laki segera merantau untuk bekerja. Sedangkan
yang perempuan sebagian besar segera dinikahkan oleh orang tuanya. Sedih
rasanya melihat semua ini.
Aku berusaha mengajak beberapa siswa
perempuan yang baru saja lulus untuk tinggal di rumahku dan aku sekolahkan di
Madrasah Aliyah yang baru saja didirikan oleh pondok pesantren Al Hikmah milik
keluarga besar suamiku. Begitulah tiap tahun aku menyekolahkan 2-3 orang
muridku.
Di tahun ke 4 aku menjadi guru di
SMP 4 dekat pantai Renehan (pada awal berdiri namanya SMP Negeri 4 Paliyan,
namun kemudian berubah nama menjadi SMP Negeri 2 Saptosari, karena wilayah yang
ditempati menjadi kecamatan baru dengan nama kecamatan Saptosari) aku mendapat
karunia lagi dengan hamil anak yang ke 3. Aku mengkhawatirkan kehamilanku kali
ini karena jalan yang aku lewati sudah rusak parah. Sudah ada 2 orang teman
guru perempuan yang keguguran karena
guncangan saat lewat di jalan yang rusak itu.
Aku berusaha mengajukan permohonan
untuk pindah tempat tugas. Pada saat itu sekolah SMP berada di bawah
wewenang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Propinsi. Maka setiap dua minggu sekali di hari Sabtu aku mendatangi bagian
kepegawaian untuk menanyakan tentang permohonan kepindahan tugasku. Untuk
sampai ke kantor DepDikbud Propinsi DIY aku harus naik bis sebanyak 3 kali.
Dengan perut yang semakin membesar semua aku jalani agar dapat pindah. Namun
kedatanganku selalu mendapat jawaban yang sama, “Belum ada guru yang dapat
mengganti Bu” atau “Coba Ibu mencari guru lain untuk dapat menggantikan posisi
Ibu, sehingga Ibu bisa pindah”. Begitu jawaban pak Buchori bagian kepegawaian.
Hampir 1 tahun kegiatan seperti ini aku jalani, sampai akhirnya aku melahirkan
putraku namun aku tetap belum bisa pindah.
Suatu ketika terjadi perubahan
kebijakan pemerintah yaitu otonomi daerah. Dengan kebijakan baru ini, SMP yang
tadinya berada di bawah tanggung jawab dan wewenang Depdikbud propinsi
berpindah tangan ke Depdikbud tingkat kabupaten. Suamiku mengingatkan aku untuk
mencoba kembali mengurus permohonan mutasi tugas. Akupun mendatangi bidang SMP
Depdikbud kabupaten Gunungkidul untuk melakukan konsultasi. Ternyata yang
menjadi kepala bidang SMP adalah guru BP
ku saat SMA. Kunjunganku diterima dengan baik dan aku disarankan untuk
mengajukan berkas baru usul mutasi tugas. Semua saran aku lakukan. Dan
Alhamdulillah, tidak ada 1 bulan dari berkas aku kumpulkan, SK mutasi tugas
sudah keluar dan aku terima. Aku ditempatkan di SMP Negeri 1 Ponjong yang
jaraknya dari rumahku hanya sekitar 5 KM.
Di SMP 1 Ponjong aku bekerja dengan
sungguh-sungguh, seluruh potensi yang aku miliki aku curahkan untuk siswa dan
sekolah. Siswa yang di bawah bimbinganku sering memperoleh kejuaraan, baik itu
berupa lomba olimpiade IPS, olimpiade Geografi, dan juga lomba Bercerita
Sejarah. Prestasi tertinggiku dalam membimbing siswa adalah mengantarkan siswa
menjadi juara 2 tingkas Nasional Olimpiade Geografi. Untuk lomba bercerita
Sejarah tingkat propinsi hampir tiap tahun selalumemperoleh kejuaraan.
Aku juga giat dalam kegiatan
Pramuka, karena aku ingat betul pesan Kepala Bidang SMP saat akan menempatkanku
di SMP 1 Ponjong, “Majukan kegiatan Pramuka di sana”. Tiap tahun aku
mempelopori perkemahan Wiratama. Pernah ketika aku tinggalkan 2 tahun tidak
mengajar karena mengikuti tugas belajar S 2 di MM UGM, perkemahan Wiratama juga
tidak terlaksana selama 2 tahun itu.Namun begitu aku selesaikuliah dan kembali
aktif mengajar, aku hidupkan lagi perkemahan ini.
Di tahun 2015 aku mengikuti seleksi
calon kepala sekolah yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga
kabupaten Gunungkidul bekerjasama dengan LPMP dan LP2KS. Dari sekian banyak yang
ikut seleksi, terpilih 15 orang yang dinyatakan lulus, salah satuanya adalah
aku. Ke 15 orang itulah yang akhirnya didiklat untuk menjadi calon kepala
sekolah. Aku membentuk group WA dengan nama Cakep Libels (Calon Kepala Sekolah
Lima Belas) karena jumlah pesertanya 15 dan didiklat tahun 2015. Dari 15 orang
itu yang perempuan hanya aku dan jeng Wardhani, dan akulah yang berusia paling
muda.
Pada tanggal 28 Desember 2016 aku
memperoleh SK sebagai Kepala Sekolah dan ditempatkan di SMP Negeri 4 Semin. Sekolah
yang lokasinya berbeda kecamatan dengan rumah dan jaraknya sekitar 15 KM.
Jumlah kelas, jumlah siswa, jumlah Guru dan TU hanya 1/3 nya dibandingkan
dengan SMP 1 Ponjong dan lokasinya berada di perbukitan. Namun aku menikmati
semuanya. Pemandangan di setiap tempat yang aku lewati sangat indah, sehingga
rasanya seperti piknik setiap hari he he he….
Tahun 2018 aku mengikuti seleksi
Calon Pengawas Sekolah. Dinyatakan lolos dan harus mengikuti diklat. Ini diklat
Calon Pengawas Sekolah ke 2 yang aku ikuti. Di tahun 2013 pada saat aku
menempuh kuliah S 1 Manajemen Kepengawasan Pendidikan di MM UGM aku sudah mengikuti diklat serupa yang
diadakan oleh LPMP. Tetapi Karena ada perubahan peraturan pemerintah, yaitu
untuk dapat diangkat sebagai Pengawas
Sekolah harus pernah mengikuti diklat pola 170 jam. Maka atas sara Kepala
Bidang SMP saat itu aku diminta mengikuti lagi.
Meskipun sudah lulus sebagai Calon
Pengawas Sekolah dari tahun 2018, tetapi sampai sekarang aku masih menjadi
seorang kepala sekolah. Tidak mengapa. Semua ini aku jalani dengan senang hati
karena berkecimpung di dunia pendidikan adalah panggilan jiwa dan sesuai dengan
pasionku. Semua aku syukuri, “Beruntungnya aku menjadi seorang Guru”. In Syaa
Allah bermanfaat untuk diri sendiri juga orang lain……..
Gunungkidul,
15 Desember 2021
Biodata Penulis
Surti
Alfiah, S.Pd, MBA, adalah seorang pendidik dan sekarang menjabat sebagai Kepala
Sekolah di salah satu SMP Negeri di Gunungkidul. Berdomisili di dusun Tenggaran
RT 02 RW 02, Gedangrejo, Karangmojo, Gunungkidul. Mengenyam pendidikan S 1 di
IKIP Yogyakarta (Sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) jurusan Pendidikan
Sejarah dan menyelesaikan S 2 di MM UGM dengan konsentrasi Manajemen
Kepengawasan Pendidikan (Kelas Khusus Diknas) pada tahun 2013. Memiliki seorang suami Drs. Gunawan, M.Pd, seorang
Widyaiswara di Balai Diklat Keagamaan Semarang, dan 3 orang anak, Lintang Zia
Nareswari, Thoriq Ka’ab Bennabi, dan Rifyal Ka’ab. Aktif di organisasi dengan
menjadi ketua PCA kecamatan Karangmojo, Ketua GACA (Gerakan Aisyiyah Cinta
Anak) kabupaten Gunungkidul, Koordinator bidang penelitian dan pengembangan
Masyarakat Sejarawan (MSI) komisariat Gunungkidul.
Tulisan
berupa buku kolaborasi dengan teman (Antologi) yang telah diterbitkan: From
Control To Help (2013), Rona Pelangi Buah Hati (2021), Merdeka Berpantun Cintai
Budaya Negeri (2021), Persembahan Cinta
Untuk Guru (2021), Loves Stories, Kisah Kasih Sejoli Menjemput Cinta (2021),
Gairah Literasi Negeriku (2021), Jejak Pena Pengembara Cinta (2021), Suara
Dalam Kata (2021), Pantunesia Karakter
Bangsa (2021), Merindukan Baitullah (2021),
Melati di Taman Hati (2021), dan menulis beberapa cerpen yang diunggah
di blok Gurusiana.
Email : utikcuantik@gmail.com
Facebook : Surti Alfiah
Blog : alfiahgunawan.blogspot.com
Wa : 085292341314
Tidak ada komentar:
Posting Komentar