Selasa, 14 Desember 2021

 

UNTUNG AKU  MENJADI SEORANG GURU

Oleh: Surti Alfiah

 

            Menjadi guru bukanlah cita-citaku dari kecil. Waktu aku masih sekolah di SD bila ditanya “Kamu ingin menjadi apa?” atau “Cita-citamu bila besar ingin menjadi apa?” Mesti aku jawab “Ingin menjadi Dokter” (Seperti jawaban boneka Susannya Ria Enes  dalam lagunya Cita-citaku, he he he). Cita-citaku mulai berubah saat aku memasuki SMP, aku ingin menjadi seorang hakim. Sampai aku SMA pun tetap berkeinginan kuliah di jurusan hukum, dan menjadi seorang hakim. Namun lucunya pada saat kelas 3 dan harus mengisi formulir pendaftaran masuk perguruan tinggi melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan, yaitu melalui jalur prestasi dengan menggunakan nilai raport), aku menuliskan pilihan jurusan Pendidikan Sejarah sebagai pilihan 1, dan pilihan 2 nya Pendidikan PPKN IKIP Yogyakarta. Padahal IKIP adalah perguruan Tinggi yang notabene mencetak calon-calon guru. Alasanku saat itu adalah nilai raportku yang bagus dengan rata-rata 8 ya di matapelajaran itu. Dan ternyata aku memang ditakdirkan lolos masuk perguruan tinggi melalui jalur PMDK itu. Aku diterima dijurusan Pendidikan Sejarah IKIP Yogyakarta.

            Selama kuliah terbersit dalam anganku, aku ingin menjadi dosen saja. Oleh karena itu akupun berusaha untuk memiliki nilai IPK paling tidak 3,0 agar memenuhi persyaratan minimal untuk menjadi seorang dosen. Kala itu sangat sulit untuk memperoleh nilai 3. Di angkatanku satu kelas terdiri dari 40 mahasiswa, yang  sampai lulus kuliah memiliki nilai 3 keatas mungkin tidak lebih dari 5 orang, dan salah satunya adalah aku.

            Begitu  lulus kuliah aku langsung menikah dan menjadi guru honorer di SMEA (sekarang SMK) Muhammadiyah Karangmojo. Aku tidak pernah mencoba mendaftar menjadi dosen, meskipun nilai IPK ku memenuhi syarat untuk itu.

            Setiap ada pendaftaran seleksi CPNS aku ikut mendaftar. 2 kali mendaftar selalu lolos dalam tes tertulis, namun selalu gagal di tahap tes wawancara. Padahal soal dalam tes wawancara hanya mudah saja. Masih aku ingat saat mengikuti tes wawancara aku diberitahu pengujinya bahwa dari 8 orang yang lulus tes tertulis, nilaikulah yang paling tinggi. Setelah selesai melakukan wawancara, Penguji itu memberiku ucapan selamat dan mengingatkanku  suatu saat  namaku akan tercantum di Koran saat pengumuman. Namun ternyata saat pengumuman namaku tidak ada, yang berarti aku tidak diterima menjadi CPNS saat itu. Kecewa, tentu saja. Tetapi hidup harus terus berjalan. You Must go on….

            Tahun berikutnya, tepatnya tahun 1996, aku mengikuti seleksi CPNS  untuk ke 3 kalinya. Seleksi dilakukan dengan menggunakan CBT dan ada tespotensi akademik untuk pertamakalinya dalam sejarah seleksi CPNS untuk guru. Formasi yang dibutuhkan untuk jurusanku sekabupaten hanya ada 1.

            Akupun bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengikuti tes, termasuk meminjam buku-buku latihan soal potensi akademik pada teman. Kepada suami aku mengatakan kalau tes ini adalah tes terakhir yang akan aku ikuti, apabila tidak diterima aku akan fokus mengabdikan diri di sekolah Muhammadiyah.

            Pada saat sedang mengikuti tes, sambil menunggu tes dimulai, para peserta tes yang sudah saling mengenal  mengobrol dengan asyik. Ada salah satu peserta yang mengusulkan untuk mengadakan arisan. Sambil tertawa aku menanggapinya, “Usul yang bagus, tapi maaf untuk tahun depan aku sudah tidak ikutan ya”.

            Waktu terus berjalan, aku sudah melupakan tentang hasil tes seleksi CPNS. Sampai suatu hari, saat  aku sedang momong putri sulungku yang berumur 2 tahun di rumah kakak ipar, tiba-tiba suamiku datang dengan tergopoh-gopoh, wajahnya berseri-seri. Dia langsung menggendongku dan dengan gembira memberitahu kalau aku diterima menjadi CPNS. Dengan setengah tak percaya aku menanggapinya, “Yang benar Pa, memang sudah ada pengumuman? Di mana pengumumannya?” tanyaku bertubi-tubi.

            Kami memutuskan untuk melihat pengumuman hasil seleksi CPNS yang dipasang di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul di Wonosari. Putri kecilku yang sedang tertidur  pulas aku gendong. Dengan berboncengan sepeda motor kami meluncur ke tempat pengumuman.

            Alhamdulillah, di kolom  guru Sejarah namaku tertera, hanya namaku sendiri karena memang formasi yang dibutuhkan hanya ada 1, penempatannya di SMP Negeri 4 Paliyan.

            Mulailah aku menjalani hari-hari sebagai guru CPNS di SMP Negeri 4 Paliyan,  Sesuai SK yang aku terima berlaku per 1 Februari 1997. Jarak sekolahan dari rumah sekitar 45 KM. Tugas sebagai guru honorer di SMEA Muhammadiyah Karangmojo aku tinggalkan. Meskipun Kepala Sekolah masih menginginkan aku untuk tetap mengajar di sana. Tetapi aku berpikir lebih baik  diisi oleh orang yang  membutuhkan.

            Jarak yang jauh dan medan yang lumayan sulit menjadi tantangan bagiku, apalagi aku tidak diijinkan naik sepeda motor oleh suamiku. Jadi aku harus menggunakan kendaraan umum atau yang disebut Anak Bis sebagai sarana transportasi. Harus 2 kali naik Anak Bis, masih dilanjut dengan naik ojek sejauh 7 KM.  Jarak keberangkatan Anak Bis yang satu dengan lainnya selisih waktunya hampir 1 jam. Jadi kalau tertinggal Anak Bis yang jam awal, terpaksa harus menunggu lama dan alamat akan terlambat sampai ke sekolahan.

            Kalau bertepatan dengan pasaran Wage, Anak Bis berhenti lama di pasar Trowono, dan aku harus melanjutkan perjalanan dengan naik kendaraan terbuka atau Colt Pick Up, bareng dengan penduduk yang pulang dari pasar, jadi wajar kalau kadang-kadang harus berbaur dengan ayam dan kambing.

            Begitulah hari-hari aku jalani, berangkat pagi-pagi sekitar jam 5, dan pulangnya sampai di rumah sudah jam 17 atau jam 5 sore. Ini berarti waktu bersama suami dan putri kecilku sangat jauh berkurang.

            Dalam kondisi yang seperti ini aku mendapat anugerah dari Allah, ya, aku hamil anak kedua. Untuk menjaga kandunganku, aku berniat mencari tempat untuk ngekos yang dekat dengan sekolahan. Pak Lurah menyediakan rumah untuk aku tempati. Dibuatkan Kamar mandi dalam dan lantainya dipelur. Di daerah sekitar sekolahan tidak ada yang memiliki sumur dan juga belum ada fasilitas PAM. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari masyarakat menampung air hujan.

            Niat untuk ngekos aku batalkan, pasalnya saat putri sulungku aku ajak ke sekolah sekaligus untuk melihat tempat untuk kos, dia sangat ketakutan mendengar suara Garengpung (binatang seperti Kumbang hitam besar yang muncul dikala musim kemarau dan biasanya banyak terdapat di pohon-pohon besar seperti pohon kelapa). Suaranya yang ngeor… ngeor…. ngeor bersahutan dari ribuan Garengpun  membuat suasana menggetarkan, wajarlah kalau putri kecilku sangat ketakutan, dengan memeluk kedua kakiku erat-erat dia mengajak pulang. Dan sejak itu dia tidak pernah mau lagi diajak kesekolahan.

            Semakin besar kandunganku semakin berat kurasakan  menjadi seorang penglajo. Akupun merengek ke suami untuk berhenti bekerja menjadi guru di tempat yang jauh,dan berniat kembali mengajar di SMEA Muhammadiyah Karangmojo yang jaraknya hanya 300 an meter dari rumah. “Pa, Mama berhenti menjadi CPNS ya, Jauh, capek, mana gajinya hanya selisih sedikit dengan honor di SMEA, itupun sudah habis untuk biaya transport” rengekku. “Yang sabar ya Ma, besok dicoba lagi” begitu jawaban suamiku.

            Begitulah seterusnya, tiap kali aku merengek untuk berhenti menjadi guru di sekolah yang jauh, suamiku selalu memberiku jawaban yang sama,dan berusaha untuk menghibur. Akhirnya akupun menjadi terbiasa dan tidak lagi meminta untuk berhenti bekerja.

            Sebenarnya apabila sudah ada di sekolahan rasanya senang. Bagaimana tidak, teman-teman guru yang rata-rata seusia semuanya baik, siswa juga menyenangkan. Yang aku sayangkan ada beberapa siswa putri yang keluar dari sekolah meskipun masih kelas 2atau 3, bahkan ada yang baru saja masuk di kelas 1 tapi kemudian keluar untuk menikah. Ketika siswa lulus dari SMP pun hanya sedikit yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagian besar siswa laki-laki segera merantau untuk bekerja. Sedangkan yang perempuan sebagian besar segera dinikahkan oleh orang tuanya. Sedih rasanya melihat semua ini.

            Aku berusaha mengajak beberapa siswa perempuan yang baru saja lulus untuk tinggal di rumahku dan aku sekolahkan di Madrasah Aliyah yang baru saja didirikan oleh pondok pesantren Al Hikmah milik keluarga besar suamiku. Begitulah tiap tahun aku menyekolahkan 2-3 orang muridku.

            Di tahun ke 4 aku menjadi guru di SMP 4 dekat pantai Renehan (pada awal berdiri namanya SMP Negeri 4 Paliyan, namun kemudian berubah nama menjadi SMP Negeri 2 Saptosari, karena wilayah yang ditempati menjadi kecamatan baru dengan nama kecamatan Saptosari) aku mendapat karunia lagi dengan hamil anak yang ke 3. Aku mengkhawatirkan kehamilanku kali ini karena jalan yang aku lewati sudah rusak parah. Sudah ada 2 orang teman guru perempuan  yang keguguran karena guncangan saat lewat di jalan yang rusak itu.

            Aku berusaha mengajukan permohonan untuk pindah tempat tugas. Pada saat itu sekolah SMP berada di bawah wewenang  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi. Maka setiap dua minggu sekali di hari Sabtu aku mendatangi bagian kepegawaian untuk menanyakan tentang permohonan kepindahan tugasku. Untuk sampai ke kantor DepDikbud Propinsi DIY aku harus naik bis sebanyak 3 kali. Dengan perut yang semakin membesar semua aku jalani agar dapat pindah. Namun kedatanganku selalu mendapat jawaban yang sama, “Belum ada guru yang dapat mengganti Bu” atau “Coba Ibu mencari guru lain untuk dapat menggantikan posisi Ibu, sehingga Ibu bisa pindah”. Begitu jawaban pak Buchori bagian kepegawaian. Hampir 1 tahun kegiatan seperti ini aku jalani, sampai akhirnya aku melahirkan putraku namun aku tetap belum bisa pindah.

            Suatu ketika terjadi perubahan kebijakan pemerintah yaitu otonomi daerah. Dengan kebijakan baru ini, SMP yang tadinya berada di bawah tanggung jawab dan wewenang Depdikbud propinsi berpindah tangan ke Depdikbud tingkat kabupaten. Suamiku mengingatkan aku untuk mencoba kembali mengurus permohonan mutasi tugas. Akupun mendatangi bidang SMP Depdikbud kabupaten Gunungkidul untuk melakukan konsultasi. Ternyata yang menjadi kepala bidang SMP  adalah guru BP ku saat SMA. Kunjunganku diterima dengan baik dan aku disarankan untuk mengajukan berkas baru usul mutasi tugas. Semua saran aku lakukan. Dan Alhamdulillah, tidak ada 1 bulan dari berkas aku kumpulkan, SK mutasi tugas sudah keluar dan aku terima. Aku ditempatkan di SMP Negeri 1 Ponjong yang jaraknya dari rumahku hanya sekitar 5 KM.

            Di SMP 1 Ponjong aku bekerja dengan sungguh-sungguh, seluruh potensi yang aku miliki aku curahkan untuk siswa dan sekolah. Siswa yang di bawah bimbinganku sering memperoleh kejuaraan, baik itu berupa lomba olimpiade IPS, olimpiade Geografi, dan juga lomba Bercerita Sejarah. Prestasi tertinggiku dalam membimbing siswa adalah mengantarkan siswa menjadi juara 2 tingkas Nasional Olimpiade Geografi. Untuk lomba bercerita Sejarah tingkat propinsi hampir tiap tahun selalumemperoleh kejuaraan.

            Aku juga giat dalam kegiatan Pramuka, karena aku ingat betul pesan Kepala Bidang SMP saat akan menempatkanku di SMP 1 Ponjong, “Majukan kegiatan Pramuka di sana”. Tiap tahun aku mempelopori perkemahan Wiratama. Pernah ketika aku tinggalkan 2 tahun tidak mengajar karena mengikuti tugas belajar S 2 di MM UGM, perkemahan Wiratama juga tidak terlaksana selama 2 tahun itu.Namun begitu aku selesaikuliah dan kembali aktif mengajar, aku hidupkan lagi perkemahan ini.

            Di tahun 2015 aku mengikuti seleksi calon kepala sekolah yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga kabupaten Gunungkidul bekerjasama dengan LPMP dan LP2KS. Dari sekian banyak yang ikut seleksi, terpilih 15 orang yang dinyatakan lulus, salah satuanya adalah aku. Ke 15 orang itulah yang akhirnya didiklat untuk menjadi calon kepala sekolah. Aku membentuk group WA dengan nama Cakep Libels (Calon Kepala Sekolah Lima Belas) karena jumlah pesertanya 15 dan didiklat tahun 2015. Dari 15 orang itu yang perempuan hanya aku dan jeng Wardhani, dan akulah yang berusia paling muda.

            Pada tanggal 28 Desember 2016 aku memperoleh SK sebagai Kepala Sekolah dan ditempatkan di SMP Negeri 4 Semin. Sekolah yang lokasinya berbeda kecamatan dengan rumah dan jaraknya sekitar 15 KM. Jumlah kelas, jumlah  siswa,  jumlah Guru dan TU hanya 1/3 nya dibandingkan dengan SMP 1 Ponjong dan lokasinya berada di perbukitan. Namun aku menikmati semuanya. Pemandangan di setiap tempat yang aku lewati sangat indah, sehingga rasanya seperti piknik setiap hari he he he….

            Tahun 2018 aku mengikuti seleksi Calon Pengawas Sekolah. Dinyatakan lolos dan harus mengikuti diklat. Ini diklat Calon Pengawas Sekolah ke 2 yang aku ikuti. Di tahun 2013 pada saat aku menempuh kuliah S 1 Manajemen Kepengawasan Pendidikan di MM UGM  aku sudah mengikuti diklat serupa yang diadakan oleh LPMP. Tetapi Karena ada perubahan peraturan pemerintah, yaitu untuk dapat diangkat sebagai  Pengawas Sekolah harus pernah mengikuti diklat pola 170 jam. Maka atas sara Kepala Bidang SMP saat itu aku diminta mengikuti lagi.

            Meskipun sudah lulus sebagai Calon Pengawas Sekolah dari tahun 2018, tetapi sampai sekarang aku masih menjadi seorang kepala sekolah. Tidak mengapa. Semua ini aku jalani dengan senang hati karena berkecimpung di dunia pendidikan adalah panggilan jiwa dan sesuai dengan pasionku. Semua aku syukuri, “Beruntungnya aku menjadi seorang Guru”. In Syaa Allah bermanfaat untuk diri sendiri juga orang lain……..

Gunungkidul, 15 Desember 2021

 

 

 

 

 

Biodata Penulis

Surti Alfiah, S.Pd, MBA, adalah seorang pendidik dan sekarang menjabat sebagai Kepala Sekolah di salah satu SMP Negeri di Gunungkidul. Berdomisili di dusun Tenggaran RT 02 RW 02, Gedangrejo, Karangmojo, Gunungkidul. Mengenyam pendidikan S 1 di IKIP Yogyakarta (Sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) jurusan Pendidikan Sejarah dan menyelesaikan S 2 di MM UGM dengan konsentrasi Manajemen Kepengawasan Pendidikan (Kelas Khusus Diknas) pada tahun 2013.  Memiliki seorang suami Drs. Gunawan, M.Pd, seorang Widyaiswara di Balai Diklat Keagamaan Semarang, dan 3 orang anak, Lintang Zia Nareswari, Thoriq Ka’ab Bennabi, dan Rifyal Ka’ab. Aktif di organisasi dengan menjadi ketua PCA kecamatan Karangmojo, Ketua GACA (Gerakan Aisyiyah Cinta Anak) kabupaten Gunungkidul, Koordinator bidang penelitian dan pengembangan Masyarakat Sejarawan (MSI) komisariat Gunungkidul.

Tulisan berupa buku kolaborasi dengan teman (Antologi) yang telah diterbitkan: From Control To Help (2013), Rona Pelangi Buah Hati (2021), Merdeka Berpantun Cintai Budaya Negeri (2021), Persembahan  Cinta Untuk Guru (2021), Loves Stories, Kisah Kasih Sejoli Menjemput Cinta (2021), Gairah Literasi Negeriku (2021), Jejak Pena Pengembara Cinta (2021), Suara Dalam Kata (2021), Pantunesia  Karakter Bangsa (2021), Merindukan Baitullah (2021),  Melati di Taman Hati (2021), dan menulis beberapa cerpen yang diunggah di blok Gurusiana.

 

Email               : utikcuantik@gmail.com

Facebook         : Surti Alfiah

Blog                : alfiahgunawan.blogspot.com

Wa                   : 085292341314

 

           

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar