BULAN DIANTARA BINTANG
Oleh Surti Alfiah
Aku anak bungsu dari 3
bersaudara. Kakak sulungku Kirana atau biasa kupanggil Nana. Orangnya cantik,
kulitnya putih, badannya tinggi, dan pinter. Sejak dari SD sampai saat ini
kelas 12 atau kelas 3 SMA dia selalu menempati ranking 1 di kelasnya, selain
itu dia juga banyak berprestasi di
bidang yang lain. Kakakku yang kedua namanya Dewa. Dia berkulit putih, ganteng, punya badan atletis,
dan juga pintar. Mas Dewa sekarang duduk di kelas 10 SMA, selalu juara 1 dan berprestasi
di bidang olahraga dan seni. Kedua kakaku selalu diterima di sekolah-sekolah
favorit.
Keadaanku jauh berbeda
dengan kedua kakaku, kulitku coklat bahkan banyak orang yang mengatakan hitam,
wajah biasa saja jauh dari kata ganteng, dan tinggiku tidak seberapa. Aku juga
tidak pernah berprestasi, baik itu di bidang akademik ataupun di bidang yang
lain. Orang-orang selalu membanding-bandingkan antara aku dengan kakak-kakaku.
Demikian juga guru-guruku di SD dulu. Bu Yati, guru matematika selalu menunjukkan
rasa jengkel kepadaku, karena aku tidak pernah memperoleh nilai di atas 6.
“Raka, kamu malas
belajar ya. Kenapa kamu tidak seperti Kirana atau Dewa yang jago matematika.
Belajar dengan mereka dong!” Kalimat itu selalu aku dengar setiap kali selesai
ulangan matematika, yang justru semakin membuatku tidak menyukai pelajaran
matematika.
Pak Gimu guru IPA pun
tak jauh berbeda, dia selalu menuduhku tidak pernah memperhatikan pelajarannya.
“Raka, kalau
diterangkan itu memperhatikan, jangan sibuk atau ramai sendiri. Coba lihat,
tiap ulangan nilaimu paling tinggi Cuma 6, tak pantas kau jadi adiknya Kirana
dan Dewa”.
Begitulah hari-hariku
selama di SD dahulu selalu dibanding-bandingkan dengan kakak-kakakku. Hal
seperti ini membuat aku semakin minder dan merasa tidak betah di sekolah.
Untung kedua kakakku
menyayangiku. Mereka selalu membela bila aku diolok-olok oleh teman-teman, juga
mengajari aku belajar dan mengerjakan PR.
Juga ada ibuku.
Beliaulah tempatku mengadu, dapat
menenangkan, dan selalu memberi motivasi.
“Ibu apakah Raka ini
bukan anak kandung Ibu dan Ayah” tanyaku pada saat aku kelas 3 SD.
“Kenapa adik bertanya
seperti itu?” Jawab Ibuku
“Habis Raka ini jauh
berbeda dengan Ayah, Ibu, kak Nana, juga mas Dewa. Raka Jelek, hitam, dan
bodoh”. Jawabku saat itu.
Ibu menghampiriku,
memelukku, dan mendudukanku di pangkuannya. Dengan lembut ibu berkata,
“Sayang, Ibu
mengandungmu lebih dari 9 bulan, dan melahirkanmu dengan taruhan nyawa. Adik
adalah buah hati ayah dan ibu”.
Aku mendongak dan
menyahut, “Benarkah Ibu, Raka tidak tertukar saat di rumah sakit?’
“Sayang, Ibumu ini
melahirkan di rumah praktik seorang bidan, pada saat itu hanya ibu yang
melahirkan di sana, jadi tidak mungkin adik tertukar dengan bayi lain”. Jawab
ibu sambil membelai-belai kepalaku.
“Mulai sekarang dik
Raka tidak usah bersedih, tidak usah ditanggapi omongan orang lain. Dik Raka
akan selalu menjadi kesayangan ayah,
ibu, kak nana, juga kak Dewa” lanjut ibu menentramkan hatiku.
Ibuku tidak pernah
memarahiku saat kutunjukkan nilai hasil ulanganku yang selalu jelek. Dia akan selalu memberi semangat agar aku
tidak mudah putus asa.
“Sayang, kamu tidak
bodoh, hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat memahami sesuatu. Ibu
yakin suatu saat dik Raka akan mencapai pemahaman itu”. Atau lain kali ibu akan
bilang, “Raka, semua anak itu istimewa, mesti memiliki kelebihan di balik
kekurangannya. Raka harus berjuang untuk dapat menemukan apa kelebihanmu”.
“Yang perlu Raka lakukan adalah berusaha maksimal, berdoa maksimal, dan
mempersembahkan yang terbaik untuk ayah dan ibu, masalah hasilnya seperti apa
kita berserah diri pada Allah”. Demikian nasehat ibu yang tidak akan pernah aku
lupakan.
Saat lulus dari kelas 6
SD aku meminta ijin pada ayah dan ibu untuk melanjutkan sekolah SMP di pondok
pesantren yang jauh dari rumah, tidak mau masuk ke SMP tempat sekolah kak Nana
dan mas Dewa dulu.
“Ayah, Ibu, Raka mau
melanjutkan ke SMP di pondok pesantren ya”.
“Benarkah, jagoan ayah
ini mau ke pondok pesantren?” Tanya ayah menegaskan.
“Benar yah”
“Ayah mendukungmu, ayah
merestuimu” jawab ayah dengan semangat.
Sementara ibu menatapku
lama sekali, baru dia menjawab, “Yakin adik mau sekolah di pondok pesantren
yang jauh?”
“Yakin bu” Jawabku.
“Tidak melanjutkan ke
SMP yang dekat rumah kita saja?”
“Tidak Ibu, Raka tidak ingin
di sekolahan nanti guru-gurunya membanding-bandingkan Raka dengan kak Nana dan
mas Dewa. Raka ingin sekolah di tempat yang bisa menerima Raka apa adanya”.
Jawabku pelan.
Ibu menghambur
memelukku, dengan suara tersendat ibu berkata padaku, “Sayang, seumpama
kakak-kakakmu adalah bintang, maka kamu adalah bulan bagi ibu. Raka akan selalu
bersinar di hati ibu. Sayang, meskipun kamu tidak pernah meraih juara, tidak
pernah memperoleh nilai 10 untuk matematika dan IPA, tapi kelebihanmu sangat
banyak di mata ibu. Adik yang paling menyayangi ibu, mau membantu ibu
membelikan sesuatu ke warung, mau membantu ibu ngepel lantai bila bik Sum tidak
datang, yang selalu mencuci piring sendiri setelah makan, mau mengantar sesuatu
ke tatangga, memijati kaki ibu bila ibu lelah, yang selalu mampu membuat ibu
gembira, itulah kelebihanmu nak”. Panjang lebar ibu menunjukkan sayangnya
padaku, membuat hatiku membuncah bahagia.
Kak nana dan mas Dewa
pun ternyata sangat mendukung keputusanku untuk melanjutkan sekolah ke pondok
pesantren.
“Raka kamu hebat, kak
nana yakin kamu bisa menjadi Hafis Al Qur’an. Yang semangat ya!” kata ka Nana
sambil mengajak tos dengan tangan.
“Wah mas Dewa kalah
sama raka nih, mas Dewa gak berani jauh-jauh dari ibu. Raka Juara, mas Dewa
mendukungmu” sahut mas Dewa sambil mengepalkan tangannya ke atas tanda
memberikan dukungan padaku.
Dengan memperoleh
dukungan seluruh anggota keluarga aku semakin mantab melanjutkan sekolah ke
pondok pesantren. Sekarang aku sudah duduk di kelas 9 SMP, sudah menghafal 3 juz
Al Quran, menghafal 100 Hadits, dan sudah mampu menjadi imam sholat berjamaah.
Kupegang teguh pesan ibu, bahwa aku harus selalu “Berusaha maksimal, berdoa
maksimal, dan mempersembahkan yang terbaik”. Akan aku buktikan pada ibuku bahwa
aku mampu menjadi “Bulan di antara Bintang” dalam keluargaku, bahkan kalau bisa
di masyarakat tempat tinggalku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar