Selasa, 14 Desember 2021

 

BULAN DIANTARA BINTANG

Oleh Surti Alfiah

 

Aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakak sulungku Kirana atau biasa kupanggil Nana. Orangnya cantik, kulitnya putih, badannya tinggi, dan pinter. Sejak dari SD sampai saat ini kelas 12 atau kelas 3 SMA dia selalu menempati ranking 1 di kelasnya, selain itu dia juga banyak berprestasi  di bidang yang lain. Kakakku yang kedua namanya Dewa. Dia  berkulit putih, ganteng, punya badan atletis, dan juga pintar. Mas Dewa sekarang duduk di kelas 10 SMA, selalu juara 1 dan berprestasi di bidang olahraga dan seni. Kedua kakaku selalu diterima di sekolah-sekolah favorit.

Keadaanku jauh berbeda dengan kedua kakaku, kulitku coklat bahkan banyak orang yang mengatakan hitam, wajah biasa saja jauh dari kata ganteng, dan tinggiku tidak seberapa. Aku juga tidak pernah berprestasi, baik itu di bidang akademik ataupun di bidang yang lain. Orang-orang selalu membanding-bandingkan antara aku dengan kakak-kakaku. Demikian juga guru-guruku di SD dulu. Bu Yati, guru matematika selalu menunjukkan rasa jengkel kepadaku, karena aku tidak pernah memperoleh nilai di atas 6.

“Raka, kamu malas belajar ya. Kenapa kamu tidak seperti Kirana atau Dewa yang jago matematika. Belajar dengan mereka dong!” Kalimat itu selalu aku dengar setiap kali selesai ulangan matematika, yang justru semakin membuatku tidak menyukai pelajaran matematika.

Pak Gimu guru IPA pun tak jauh berbeda, dia selalu menuduhku tidak pernah memperhatikan pelajarannya.

“Raka, kalau diterangkan itu memperhatikan, jangan sibuk atau ramai sendiri. Coba lihat, tiap ulangan nilaimu paling tinggi Cuma 6, tak pantas kau jadi adiknya Kirana dan Dewa”.

Begitulah hari-hariku selama di SD dahulu selalu dibanding-bandingkan dengan kakak-kakakku. Hal seperti ini membuat aku semakin minder dan merasa tidak betah di sekolah.

Untung kedua kakakku menyayangiku. Mereka selalu membela bila aku diolok-olok oleh teman-teman, juga mengajari aku belajar dan mengerjakan PR.

Juga ada ibuku. Beliaulah tempatku mengadu,  dapat menenangkan, dan selalu memberi motivasi.

“Ibu apakah Raka ini bukan anak kandung Ibu dan Ayah” tanyaku pada saat aku kelas 3 SD.

“Kenapa adik bertanya seperti itu?” Jawab Ibuku

“Habis Raka ini jauh berbeda dengan Ayah, Ibu, kak Nana, juga mas Dewa. Raka Jelek, hitam, dan bodoh”. Jawabku saat itu.

Ibu menghampiriku, memelukku, dan mendudukanku di pangkuannya. Dengan lembut ibu berkata,

“Sayang, Ibu mengandungmu lebih dari 9 bulan, dan melahirkanmu dengan taruhan nyawa. Adik adalah buah hati ayah dan ibu”.

Aku mendongak dan menyahut, “Benarkah Ibu, Raka tidak tertukar saat di rumah sakit?’

“Sayang, Ibumu ini melahirkan di rumah praktik seorang bidan, pada saat itu hanya ibu yang melahirkan di sana, jadi tidak mungkin adik tertukar dengan bayi lain”. Jawab ibu sambil membelai-belai kepalaku.

“Mulai sekarang dik Raka tidak usah bersedih, tidak usah ditanggapi omongan orang lain. Dik Raka akan selalu menjadi  kesayangan ayah, ibu, kak nana, juga kak Dewa” lanjut ibu menentramkan hatiku.

Ibuku tidak pernah memarahiku saat kutunjukkan nilai hasil ulanganku yang selalu jelek.  Dia akan selalu memberi semangat agar aku tidak mudah putus asa.

“Sayang, kamu tidak bodoh, hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat memahami sesuatu. Ibu yakin suatu saat dik Raka akan mencapai pemahaman itu”. Atau lain kali ibu akan bilang, “Raka, semua anak itu istimewa, mesti memiliki kelebihan di balik kekurangannya. Raka harus berjuang untuk dapat menemukan apa kelebihanmu”. “Yang perlu Raka lakukan adalah berusaha maksimal, berdoa maksimal, dan mempersembahkan yang terbaik untuk ayah dan ibu, masalah hasilnya seperti apa kita berserah diri pada Allah”. Demikian nasehat ibu yang tidak akan pernah aku lupakan.

Saat lulus dari kelas 6 SD aku meminta ijin pada ayah dan ibu untuk melanjutkan sekolah SMP di pondok pesantren yang jauh dari rumah, tidak mau masuk ke SMP tempat sekolah kak Nana dan mas Dewa dulu.

“Ayah, Ibu, Raka mau melanjutkan ke SMP di pondok pesantren ya”.

“Benarkah, jagoan ayah ini mau ke pondok pesantren?” Tanya ayah menegaskan.

“Benar yah”

“Ayah mendukungmu, ayah merestuimu” jawab ayah dengan semangat.

Sementara ibu menatapku lama sekali, baru dia menjawab, “Yakin adik mau sekolah di pondok pesantren yang jauh?”

“Yakin bu” Jawabku.

“Tidak melanjutkan ke SMP yang dekat rumah kita saja?”

“Tidak Ibu, Raka tidak ingin di sekolahan nanti guru-gurunya membanding-bandingkan Raka dengan kak Nana dan mas Dewa. Raka ingin sekolah di tempat yang bisa menerima Raka apa adanya”. Jawabku pelan.

Ibu menghambur memelukku, dengan suara tersendat ibu berkata padaku, “Sayang, seumpama kakak-kakakmu adalah bintang, maka kamu adalah bulan bagi ibu. Raka akan selalu bersinar di hati ibu. Sayang, meskipun kamu tidak pernah meraih juara, tidak pernah memperoleh nilai 10 untuk matematika dan IPA, tapi kelebihanmu sangat banyak di mata ibu. Adik yang paling menyayangi ibu, mau membantu ibu membelikan sesuatu ke warung, mau membantu ibu ngepel lantai bila bik Sum tidak datang, yang selalu mencuci piring sendiri setelah makan, mau mengantar sesuatu ke tatangga, memijati kaki ibu bila ibu lelah, yang selalu mampu membuat ibu gembira, itulah kelebihanmu nak”. Panjang lebar ibu menunjukkan sayangnya padaku, membuat hatiku membuncah bahagia.

Kak nana dan mas Dewa pun ternyata sangat mendukung keputusanku untuk melanjutkan sekolah ke pondok pesantren.

“Raka kamu hebat, kak nana yakin kamu bisa menjadi Hafis Al Qur’an. Yang semangat ya!” kata ka Nana sambil mengajak tos dengan tangan.

“Wah mas Dewa kalah sama raka nih, mas Dewa gak berani jauh-jauh dari ibu. Raka Juara, mas Dewa mendukungmu” sahut mas Dewa sambil mengepalkan tangannya ke atas tanda memberikan dukungan padaku.

Dengan memperoleh dukungan seluruh anggota keluarga aku semakin mantab melanjutkan sekolah ke pondok pesantren. Sekarang aku sudah duduk di kelas 9 SMP, sudah menghafal 3 juz Al Quran, menghafal 100 Hadits, dan sudah mampu menjadi imam sholat berjamaah. Kupegang teguh pesan ibu, bahwa aku harus selalu “Berusaha maksimal, berdoa maksimal, dan mempersembahkan yang terbaik”. Akan aku buktikan pada ibuku bahwa aku mampu menjadi “Bulan di antara Bintang” dalam keluargaku, bahkan kalau bisa di masyarakat tempat tinggalku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar