DIA
PANGGIL AKU “BUNDA”
“Bunda, ayo bantuin
Manda nangkep kupu-kupu di sana!” rengek gadis berambut kriwil kemerahan itu
sambil menggelendot manja.
“Di mana sayang?”
jawabku. Dia menunjuk ke suatu arah, dan dengan setengah memaksaa menarik
lenganku dan mengajak berlari. Terpaksa kutinggal teman-temanku yang saling
berpandangan penuh arti.
Hari Minggu ini kantor
kami mengadakan outbond dan wisata ke kebun teh di Karanganyar. Dan anak Si Bos
yang cantik, imut, lucu, berambut kriwil kemerahan, berdagu runcing, bermata
kejora, bibir merekah merah, berkulit putih, kira-kira berusia 7 tahunan dan
bernama lengkap Amanda Aurelia Pranandito itu sepanjang perjalanan maupun saat
di lokasi wisata tak pernah mau lepas bersamaku. Tentu saja hal ini menjadi
kasak kusuk gunjingan di antara teman-temanku. Namun aku berusaha menyikapi
biasa saja.
Sebenarnya
belum genap 3 bulan perkenalanku dengan bocah itu, tapi kami sudah sangat akrab. Masih hangat dalam ingatanku,
bagaimana awal mula aku mengenalnya. Siang itu, saat aku akan meminta
tandatangan pada Si Bos di ruangan kantor, dia sedang berthelephon dan kulihat
ada kepanikan di wajahnya. Dia memberiku isyarat dengan tangannya agar aku
duduk dulu menunggunya sampai selesai telephon. Begitu selesai thelephon Si Bos
bicara padaku:
“Bisa
minta tolong ikut saya sebentar mbak!”
Dan tanpa berkata, meskipun agak bingung aku menganggukkan kepala.
Barulah saat dalam mobil di perjalanan Si Bos menjelaskan kalau yang nelphon
tadi Asisten Rumah Tangganya yang
mengabarkan bahwa putri satu-satunya sakit demam tinggi. Tak membutuhkan waktu lebih
dari 20 menitan kami tiba di rumah Si Bos yang besar, mewah, dan asri. Si Bos
langsung mengajakku menuju kamar putrinya. Dan kulihat sosok mungil yang cantik
namun pucat dan menggigil meskipun sudah dalam selimut tebal tergolek di
ranjang yang bernuansa serba pink. Aku menghampirinya, dan saat mata kami
bertemu, kulihat matanya berkilau dan dengan erangan lembut dia berkata,
“Bunda, peluk manda ya, Manda kedinginan dan Manda kangen Bunda….” Kulihat bibirnya memang pucat
dan membiru. Akupun mengangguk, menghampirinya, membuka selimutnya, dan
kuangkat dia merengkuhnya dalam pangkuanku, sambil kubisikkan di telinganya,
“Manda tenang ya sayang, ada bunda di sini”, dan kukecup keningnya dengan
tulus. Si Bos mendekat, meletakkan tangannya di dahi Manda, dan dengan panik
dia berkata, “Kita bawa Manda ke rumah sakit sekarang”. Si Bos mengambil alih
Manda dari pelukanku, namun manda tak mau melepaskan genggaman tangannya dari
tanganku, maka dengan setengah berlari aku mengikuti langkah Si Bos yang
panjang-panjang tergesa. Selama perjalanan ke rumah sakit Manda kupeluk dalam
pangkuanku yang duduk di samping Si Bos yang menjalankan mobilnya dengan
kecepatan tinggi. Sampai di Rumah Sakit Manda langsung di bawa ke IGD, setelah penanganan dinyatakan dia harus opname
karena dimungkinan terkena DBD. Hampir seharian aku menunggui Manda di Pavilyun
Wijaya Kusuma Rumah Sakit, tangannya nan mungil itu tetap tak mau lepas dari
tanganku. Saat Manda tertidur, Si Bos meminta maaf padaku karena telah
melibatkanku dalam urusan putrinya. Kujawab tidak apa-apa, karena aku memang
menyukai anak-anak kecil. Si Bos menceritakan kalau mamanya Manda sudah
meninggal sekitar satu tahun karena kecelakaan, dan dengan wajah yang sedih
sambil menatap putrinya Si Bos bilang,
“sekitar semingguan ini Manda selalu mengatakan kangen mamanya, ingin bertemu
mamanya, maka wajarlah saat dia melihat mbak, maaf mbak Siapa? Tanyanya padaku
(maklum kalau Si Bos belum mengenalku karena aku masih termasuk karyawan baru di
perusahannya, sekitar 2 bulan dan baru beberapa kali bertatap muka dengannya).
“Safitri” jawabku, “Bapak bisa memanggilku Fitri”.
“O
ya, Mbak Fitri, saya kira Manda mengira mbak Fitri adalah mamanya, maka dia
panggil mbak “Bunda, maafkan putri saya ya” imbuhnya.
“Tidak apa-apa Bapak, saya maklum
namanya juga masih anak-anak, sedang sakit lagi” jawabku.
“Mohon maaf Bapak,
sekarang sudah menjelang sore, mumpung Manda sedang tidur, saya mohon pamit
dulu”. Aku lalu berusaha melepas tangnku dari genggaman tangan mungil Manda,
namun begitu berhasil kulepas tangannya dia terbangun dan langsung menyambar
tanganku menggenggamnya erat-erat sambil berteriak, “Bunda, jangan pergi,
jangan tinggalkan Manda lagi”.
“Manda sayang, sekarang sudah sore,
biarkan tante fitri pulang dulu ya sayang” Si Bos membujuk putrinya.
“Enggak mau, Manda gak mau ditinggal
Bunda lagi”, Manda mulai menangis histeris. Akupun berusaha menanangkannya,
kubelai rambutnya, kuhibur dengan lembut, “Sayang, anak cantik, tante fitri
pulang dulu, tante janji besok ke sini lagi”. Tapi Manda semakin histeris,
“Manda gak mau kehilangan Bunda lagi, Manda ingin Bunda”. Kondisi Manda
benar-benar meruntuhkan hatiku, maka kupeluk dia erat-erat dan kubisikkan
padanya, “Oke cantik, tenang ya sayang, Tante Fitri akan menemani Manda di
sini”. Barulah Manda berhenti menangis, namun tetap tak mau melepaskan
genggamannya dari tanganku. Terpaksa aku menginap di rumah sakit malam itu.
Hari-hari berikutnya aku selalu menjenguk Manda, ada ijin khusus dari Si Bos
untuk meninggalkan kantor. Aku semakin akran dengan Manda. Tidak saja aku akrab
dengan Manda, namun akupun mulai dekat dengan papanya, Si Bos ganteng
“Pranandito”. Genap seminggu Manda di rumah sakit, dan kepulangannya pun dia
memaksa aku untuk bersamanya.
Sejak saat itulah
hampir setiap minggu Manda mengajak papanya ke rumahku, sekali waktu kami
piknik bersama. Kulihat keceriaan terpancar dari wajah imutnya, dan solah
tingkahnya semakin lucu dan menggemaskan saat Manda bersamaku, dan kuakui
akupun menyayanginya dengan tulus. Aku
sangat bahagia saat Manda memanggilku “Bunda”.
DIA
PANGGIL AKU “BUNDA” (2)
Akupun
akhirnya mengikuti Manda yang berlari kearah
taman, dan kulihat memang banyak kupu-kupu beterbangan diatas bunga yang
bermekaran. Berdua kami asyik menangkap kupu-kupu, tetapi ternyata susah tuk
menangkapnya, lebih dari setengah jam kami baru berhasil menangkap 2 ekor
kupu-kupu nan cantik. Kulihat Manda wajahnya merah dan peluh berleleran, maka
kuajak untuk beristirahat. Kami menuju gazebo yang tak jauh, berada dipojok
taman.
“Kamu haus sayang?, bunda ambilkan
minum ya. Tas Manda di mana?”
“dibawa papa. Manda nunggu di sini
aja ya Bunda”
“Iya sayang, jangan ke mana-mana ya,
nanti bunda susah nyarinya!” Manda menganggukkan kepalanya.
Aku
berusaha mencari papanya Manda tuk mengambil botol minum yang dibawa dari rumah. Kucari ketempat
kegiatan tidak ada, kutanyakan ke teman-teman, mereka saling bertatapan dan
tertawa cekikikan menggodaku, tapi Nova, teman dekat mejaku di kantor memberi
informasi, “Bos Pran dan beberapa direktur muda mengadakan meeting di ruang
Flamboyan, itu sebelah selatan rumah makan”. “Terimakasih Nov, aku mau
mengambilkan botol minuman Manda aja kok”. Akupun beranjak menuju ruang
Flamboyan, beberapa langkah sebelum masuk kudengar pembicaraan dari dalam, dan
akupun berhenti melangkah gak jadi masuk saat kudengar namaku disebut-sebut.
“Kamu sungguh-sungguh dengan Fitri
Pran?” kudengar ada seseorang bertanya pada Si Bos.
“Fitri
memang cantik sih, mulus lagi. Tapi dia Cuma karyawan biasa, apa level Pran?
Seleramu biasanya tinggi banget” terdengar suara yang lain menyahut.
“Ah,
aku belum berpikir jauh, tapi paling tidak ada pengasuh buat Manda, gratis
lagi, iya gak?” Suara ini aku kenal betul, suara Pran, Si Bos, Papa Manda.
Terdengar tertawa terbahak dari mereka semua. Aku terkejut dan sakit hati mendengar apa yang
Pran ungkapkan, dengan berlinangan air mata kutinggalkan tempat itu dengan
setengah berlari.
Kembali kutemui Manda di Taman, aku lupa
menghapus airmata, dan Manda sempat melihatnya, dia bangkit dan menyongsongku
dengan pertanyaan, “ Bunda menangis, kenapa
Bunda? Mana minum Manda?”. Kuusap airmata dengan telapak tangan dan
kujawab pertanyaan Manda, “Bunda gak pa apa sayang, tadi kelilipan. Oh ya,
minumnya kita beli saja ya sayang, Bunda gak sempat ambil botol Manda”. Kulihat
Manda mengangguk, dan menggandeng tanganku tuk membeli minuman.
Sejak
saat itu aku berusaha menghindari Pran dan Manda. Bila Pran mencariku di kantor
selalu kucari-cari alasan lewat
teman-teman, yang sedang ke kamar kecil lah, yang sedang keluar kantorlah.
Kasak-kusuk dari teman-teman tak kuhiraukan, aku hanya fokus bekerja. Bila hari
Minggu tiba, pagi-pagi aku sudah pamit ke Ibuku untuk pergi ke luar, jadi saat
Pran dan Manda datang ke rumah mereka tak bisa menemuiku. Akupun tak mau
membalas wa ataupun telephon dari Pran. Dan hari ini adalah minggu keempat,
saat pagi-pagi aku sudah rapi dan mau pamit Ibu, beliau mengajakku duduk, “Ada
apa to Nduk? Kalau ada masalah mbok ya dihadapi, diselesaikan, jangan
menghindar. Kalau kamu tak kasihan sama Nak Pran, setidaknya kamu kasihanlah
sama Manda, Minggu kemarin dia menangis karena tak bisa menemuimu”. Ada Apa to
Nduk?”. Mendengar kata-kata Ibu, aku langsung menangis dan kuceritakan
semuanya. Ibu membelai rambutku, dengan lembut dan bijak beliau mulai
menasehatiku. “Kamu harus ihlas dalam menyayangi Manda Nduk, tak usah berharap
lebih dari Nak Pran, mungkin dia memang bukan jodohmu”. Aku menyahut nasehat
Ibu, “Fitri tulus dan ihlas menyayangi Manda Ibu, tapi seiring perjalan waktu
ternyata Fitri mulai jatuh cinta pada papanya, apa itu salah?”. “Tidak salah
Nduk, kamu tak salah. Tapi bila Nak Pran tidak membalasmu, dia juga tidak salah
kan?. Sudahlah, lupakan Nak Pran, mungkin itu lebih baik bagimu. Jangan
menghindar, hadapi semua masalah. Ibu yakin kamu mampu, kamu sudah dewasa
Nduk”. Aku diam saja, tapi dalam hati kuresapi semua nasehat Ibu, dan memang
semuanya benar. Maka kuputuskan untuk tidak keluar rumah, akan kuhadapi masalah
ini. Di rumah aku gelisah, mondar mandir berjalan ke sana ke sini. Ibu hanya
mendiamkanku saja. 1 Jam, 2 Jam, 3 Jam
Pran dan Manda tak datang juga. Sampai siangpun mereka tak datang, membuatku
semakin gelisah dan menebak-nebak, mungkin mereka sudah melupakanku, mungkin
mereka sudah bepergian dengan wanita lain. Pikiran-pikiran itu membuatku
semakin sakit hati.
Sekitar
jam 2 siang saat aku dah merasa yakin yang kutunggu tak akan datang, kudengar
suara ting ting ting, ada pesan masuk secara beruntun ke hp ku, langsung
kusambar hp yang tergeletak di meja kamarku dan langsung ku buka, ada inisial
Pran…
“Aku sudah putus asa untuk bisa
menemuimu atau menelphonmu, kuharap dengan pesan ini kau mau membacanya”
“Aku sudah mampu menebak apa
penyebab kau menghindariku dan Manda, aku benar-benar minta maaf”
“Sudah
3 hari ini Manda opname di rumah sakit, panas tinggi, dia selalu mengigau dan
menyebut namamu, aku mencoba menghubungimu namun tak pernah kau hiraukan.
Fitri, tolonglah aku, tolonglah jenguk Manda, aku tak kuasa melihat keadaan
putriku seperti itu, kalau perlu aku berlutut di hadapanmu, memohon kau mau
menjenguk Manda, aku ingin kalaupun Manda tak bisa tertolong, di akhir hayatnya
dia bahagia karena merasa memiliki Bunda. Kalau kau menyayangi Manda tolong
jenguklah ke rumah sakit”.
Aku
tertegun membaca wa dari Pran, sempat terpikir kalau itu hanya trik Pran untuk
menarik perhatianku saja, maka kubiarkan saja wa itu tanpa membalasnya. Tapi bagaimanapun
juga pesan itu menggangguku, membuatku gelisah, bagaimana bila pesan itu benar,
Manda sakit. Kembali aku mondar mandir keluar masuk kamar, ternyata menarik perhatian Ibu.
“Ada
apa to Nduk, kok gelisah?”
“Pran
kirim pesan Bu, dia bilang Manda opname di rumah sakit, sudah 3 hari”
“Lalu?”
Tanya Ibu
“Mungkin
itu trik Pran aja Bu, agar aku mau menemuinya”
“Menurutmu
begitu? Yakin dengan perasaanmu? Pertanyaan Ibu ini membuatku jengah, aku
memang tidak yakin dengan pikiranku itu.
“Bagaimana
bila Manda sakit beneran” lanjut Ibu.
“Sudahlah
Fitri, tanggalkan egomu, ikuti nuranimu, Ibu Yakin kau menyayangi anak itu,
jenguklah dia ke rumah sakit, jangan sampai kau menyesal setelahnya” Ibu
menambahkan nasehatnya.
Aku masuk kamar,
kurenungi semua nasehat ibu. Kubaca kembali pesan wa dari Pran, dan seolah
kulihat anak kecil berkulit putih, berambut kriwil kemerahan tergolek lemah,
dia berkata padaku, “Bunda Fitri, maafkan Manda ya, Manda membuat Bunda Fitri
menangis. Manda pamit mau pergi jauuuuuh,” Bocah itu melambaikan tangan
mungilnya. Tergagap Aku dari lamunan, aku tak mau menyesal dikemudian hari,
maka kuputuskan untuk menjenguk Manda ke Rumah sakit. Setelah Mandi dan berhias
seadanya aku pamit Ibu untuk menjenguk Manda, Ibu merestuinya, “Hati-hati di
jalan, jangan ngebut!” pesanNya. Kukeluarkan Scoopy hitamku, dan kugeber dengan
kecepatan 80 km/jam. Aku ingin segera sampai dan menemukan bocah yang sudah
mampu merebut hatiku. Tak sampai 15 menit sampai juga ke rumah sakit, langsung
kumenuju ruang informasi, ternyata Manda di rawat di Pavillyun Melati, setengah
berlari aku menuju ke sana.
Di kamar itu kulihat
bocah berambut kriwil kemerahan itu tergolek tak berdaya dengan beberapa selang
tersalur ke tubuhnya yang Nampak kurus dan pucat, langsung aku menghambur masuk
dan memanggil namanya lirih, “Manda, Bunda Fitri datang sayang”. Pran yang
duduk membelakangi pintu sehingga tak melihat kedatanganku, terlonjak kaget mendengar suaraku, dia
menoleh ke arahku dan astaga, dia kusut masai, wajahnya pucat kurang tidur, dan tubuhnya juga
kurusan, namun kulihat matanya langsung berkilau melihat kedatanganku, dia
langsung agak bergeser duduknya memberi ruang agar aku bisa mendekati Manda.
Kudekati Manda dan kupeluk erat-erat sambil berbisik dekat telinganya, “Sayang,
maafkan Bunda Fitri ya Nak”. Tak kuasa air mataku berlinangan melihat kondisi
Manda. Mungkin merasakan pelukanku dan mendengar suaraku, Manda membuka mata,
begitu melihatku wajah pucat itu langsung berbinar, dan Nampak ingin berbicara.
Pran dengan cekatan membantu membuka masker oksigen di muka Manda. Terdengar
suara yang lirih, “Bunda, Manda kangen Bunda”. “Iya sayang, Bunda Fitri juga
kangen kamu Nak”. Sahutku sambil mempererat pelukanku. “Bunda, jangan
tinggalkan Manda lagi ya” pintanya, dan kujawab dengan anggukan. Pran kuminta
untuk pulang biar bisa istirahat tidur, dan aku berjanji akan menjaga Manda.
Sekitar jam 8 malam
Pran dah sampai ke rumah sakit lagi, sudah rapi
dan Nampak segar. Kami bertiga ngobrol sampai sekitar jam 9. Kulihat
Manda sudah mulai ngantuk dan kusuruh segera tidur. Saat melihat Manda sudah
memejamkan mata, Pran bergeser duduk mendekatiku,
dan berkata
“Fit, aku
benar-benar minta maaf padamu dengan apa
yang terjadi di Karanganyar dahulu. Tadinya ketika kau tak bisa ditemui atau
tak mau jawab telphon aku kira taka da apa-apa, tapi setelah dua minggu aku dan
Manda tak bisa menemuimu, Manda menyalahkanku karena membuatmu menangis saat
outbond di Karanganyar, tentu saja aku terkejut dan menebak kemungkinan
penyebab kau menghindar adalah mendengar obrolanku dengan teman-teman. Tapi Fit
kau salah duga, kau tidak melihat ekspresiku saat itu kan? Aku Cuma bercanda.
Melihat aku tetap diam saja sambil menundukkan kepala Pran melanjutkan, bahkan
dia mendekat dan memegang tanganku. “Fit, bukan hanya Manda yang kehilangan
saat kau tak bisa kami temui, akupun begitu menderita, aku tak pernah
menganggap kau sebagai pengasuh Manda, tapi kau adalah bagian hidupku. Maafkan
ucapanku yang telah membuatmu salah paham. Fit, aku mencintaimu, aku ingin kau
menjadi istriku sekaligus sebagai bundanya Manda, bagaimana?”. Tentu saja aku
tak menduga Pran akan mengungkapkan perasaannya, kurasakan pegangan tangannya
makin erat. Aku tetap menunduk, mendadak terdengar suara Manda berteriak,
“Hore…. Papa dan Bunda sudah baikan!” Ternyata dia sudah duduk, dan berusaha
memeluk kami berdua, tak sengaja aku dan Pran berdiri bersamaan sehingga
bersenggolan yang membuatku hampir jatuh, Pran berusaha meraih tubuhku. Manda
justru kelihatan senang melihat kejadian ini, saat kami berdua mendekatinya,
dia berusaha meraih satu tanganku, satu
tangan Pran dan menyatukannya diantara dua tangan mungilnya. Dengan wajah penuh
harap manda bertanya padaku, “Bunda Fitri, maukah Bunda menjadi mamanya
Manda?”. Tentu saja pertanyaannya itu membuatku malu di hadapan Pran, maka akun
diam saja sambil menundukkan kepala, tapi Manda mengulang lagi, “Bunda, Bunda
mau jadi mamanya Manda ya, Manda janji gak akan nakal, Janji gak akan sakit
lagi” pintanya penuh harap. Aku mendongakkan kepala dan kutatap wajah Pran yang
ternyata tegang dan mengharapkan
jawabanku, beralih kutatap wajah Manda, ah, wajah dengan mata kejora, rambut
kriwil kemerahan itu menambah imut dan membuatku tak kuasa tuk menolak
permintaannya, akupun menganggukkan kepala yang disambut dengan nafas leganya
Pran dan teriakan Manda, “Asyiiiiiiiiikkkkkkk, Manda punya mama…..”. “Tapi ada
syaratnya” kataku. “Apa?” Tanya Pran dan Manda bersamaan, yang membuatku tersenyum.
“Syaratnya…… Manda gak boleh panggil Mama”, kulihat wajah Manda melongo. “Manda
harus tetap memanggil Bunda pada tante Fitri, bagaimana?” lanjutku. Kulihat
wajah lega Pran dan Manda. “Oke, setuju….. Deal ya Bunda?”
Kuputuskan malam itu
tidur di rumah sakit demi Manda, calon putriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar