Selasa, 14 Desember 2021

 

DIA PANGGIL AKU “BUNDA”

 

“Bunda, ayo bantuin Manda nangkep kupu-kupu di sana!” rengek gadis berambut kriwil kemerahan itu sambil menggelendot manja.

“Di mana sayang?” jawabku. Dia menunjuk ke suatu arah, dan dengan setengah memaksaa menarik lenganku dan mengajak berlari. Terpaksa kutinggal teman-temanku yang saling berpandangan penuh arti.

Hari Minggu ini kantor kami mengadakan outbond dan wisata ke kebun teh di Karanganyar. Dan anak Si Bos yang cantik, imut, lucu, berambut kriwil kemerahan, berdagu runcing, bermata kejora, bibir merekah merah, berkulit putih, kira-kira berusia 7 tahunan dan bernama lengkap Amanda Aurelia Pranandito itu sepanjang perjalanan maupun saat di lokasi wisata tak pernah mau lepas bersamaku. Tentu saja hal ini menjadi kasak kusuk gunjingan di antara teman-temanku. Namun aku berusaha menyikapi biasa saja.

Sebenarnya belum genap 3 bulan perkenalanku dengan bocah itu, tapi kami sudah  sangat akrab. Masih hangat dalam ingatanku, bagaimana awal mula aku mengenalnya. Siang itu, saat aku akan meminta tandatangan pada Si Bos di ruangan kantor, dia sedang berthelephon dan kulihat ada kepanikan di wajahnya. Dia memberiku isyarat dengan tangannya agar aku duduk dulu menunggunya sampai selesai telephon. Begitu selesai thelephon Si Bos bicara padaku:

“Bisa minta tolong ikut saya sebentar mbak!”  Dan tanpa berkata, meskipun agak bingung aku menganggukkan kepala. Barulah saat dalam mobil di perjalanan Si Bos menjelaskan kalau yang nelphon tadi  Asisten Rumah Tangganya yang mengabarkan bahwa putri satu-satunya sakit demam tinggi. Tak membutuhkan waktu lebih dari 20 menitan kami tiba di rumah Si Bos yang besar, mewah, dan asri. Si Bos langsung mengajakku menuju kamar putrinya. Dan kulihat sosok mungil yang cantik namun pucat dan menggigil meskipun sudah dalam selimut tebal tergolek di ranjang yang bernuansa serba pink. Aku menghampirinya, dan saat mata kami bertemu, kulihat matanya berkilau dan dengan erangan lembut dia berkata, “Bunda, peluk manda ya, Manda kedinginan dan Manda  kangen Bunda….” Kulihat bibirnya memang pucat dan membiru. Akupun mengangguk, menghampirinya, membuka selimutnya, dan kuangkat dia merengkuhnya dalam pangkuanku, sambil kubisikkan di telinganya, “Manda tenang ya sayang, ada bunda di sini”, dan kukecup keningnya dengan tulus. Si Bos mendekat, meletakkan tangannya di dahi Manda, dan dengan panik dia berkata, “Kita bawa Manda ke rumah sakit sekarang”. Si Bos mengambil alih Manda dari pelukanku, namun manda tak mau melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, maka dengan setengah berlari aku mengikuti langkah Si Bos yang panjang-panjang tergesa. Selama perjalanan ke rumah sakit Manda kupeluk dalam pangkuanku yang duduk di samping Si Bos yang menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai di Rumah Sakit Manda langsung di bawa ke IGD,  setelah penanganan dinyatakan dia harus opname karena dimungkinan terkena DBD. Hampir seharian aku menunggui Manda di Pavilyun Wijaya Kusuma Rumah Sakit, tangannya nan mungil itu tetap tak mau lepas dari tanganku. Saat Manda tertidur, Si Bos meminta maaf padaku karena telah melibatkanku dalam urusan putrinya. Kujawab tidak apa-apa, karena aku memang menyukai anak-anak kecil. Si Bos menceritakan kalau mamanya Manda sudah meninggal sekitar satu tahun karena kecelakaan, dan dengan wajah yang sedih sambil menatap putrinya  Si Bos bilang, “sekitar semingguan ini Manda selalu mengatakan kangen mamanya, ingin bertemu mamanya, maka wajarlah saat dia melihat mbak, maaf mbak Siapa? Tanyanya padaku (maklum kalau Si Bos belum mengenalku karena aku masih termasuk karyawan baru di perusahannya, sekitar 2 bulan dan baru beberapa kali bertatap muka dengannya). “Safitri” jawabku, “Bapak bisa memanggilku Fitri”.

“O ya, Mbak Fitri, saya kira Manda mengira mbak Fitri adalah mamanya, maka dia panggil mbak “Bunda, maafkan putri saya ya” imbuhnya.

“Tidak apa-apa Bapak, saya maklum namanya juga masih anak-anak, sedang sakit lagi” jawabku.  

“Mohon maaf Bapak, sekarang sudah menjelang sore, mumpung Manda sedang tidur, saya mohon pamit dulu”. Aku lalu berusaha melepas tangnku dari genggaman tangan mungil Manda, namun begitu berhasil kulepas tangannya dia terbangun dan langsung menyambar tanganku menggenggamnya erat-erat sambil berteriak, “Bunda, jangan pergi, jangan tinggalkan Manda lagi”.

“Manda sayang, sekarang sudah sore, biarkan tante fitri pulang dulu ya sayang” Si Bos membujuk putrinya.

“Enggak mau, Manda gak mau ditinggal Bunda lagi”, Manda mulai menangis histeris. Akupun berusaha menanangkannya, kubelai rambutnya, kuhibur dengan lembut, “Sayang, anak cantik, tante fitri pulang dulu, tante janji besok ke sini lagi”. Tapi Manda semakin histeris, “Manda gak mau kehilangan Bunda lagi, Manda ingin Bunda”. Kondisi Manda benar-benar meruntuhkan hatiku, maka kupeluk dia erat-erat dan kubisikkan padanya, “Oke cantik, tenang ya sayang, Tante Fitri akan menemani Manda di sini”. Barulah Manda berhenti menangis, namun tetap tak mau melepaskan genggamannya dari tanganku. Terpaksa aku menginap di rumah sakit malam itu. Hari-hari berikutnya aku selalu menjenguk Manda, ada ijin khusus dari Si Bos untuk meninggalkan kantor. Aku semakin akran dengan Manda. Tidak saja aku akrab dengan Manda, namun akupun mulai dekat dengan papanya, Si Bos ganteng “Pranandito”. Genap seminggu Manda di rumah sakit, dan kepulangannya pun dia memaksa aku untuk bersamanya.

 

Sejak saat itulah hampir setiap minggu Manda mengajak papanya ke rumahku, sekali waktu kami piknik bersama. Kulihat keceriaan terpancar dari wajah imutnya, dan solah tingkahnya semakin lucu dan menggemaskan saat Manda bersamaku, dan kuakui akupun  menyayanginya dengan tulus. Aku sangat bahagia saat Manda memanggilku “Bunda”.

                                                                                               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DIA PANGGIL AKU “BUNDA” (2)

            Akupun akhirnya  mengikuti Manda yang berlari kearah taman, dan kulihat memang banyak kupu-kupu beterbangan diatas bunga yang bermekaran. Berdua kami asyik menangkap kupu-kupu, tetapi ternyata susah tuk menangkapnya, lebih dari setengah jam kami baru berhasil menangkap 2 ekor kupu-kupu nan cantik. Kulihat Manda wajahnya merah dan peluh berleleran, maka kuajak untuk beristirahat. Kami menuju gazebo yang tak jauh, berada dipojok taman.

            “Kamu haus sayang?, bunda ambilkan minum ya. Tas Manda di mana?”

            “dibawa papa. Manda nunggu di sini aja ya Bunda”

            “Iya sayang, jangan ke mana-mana ya, nanti bunda susah nyarinya!” Manda menganggukkan kepalanya.

            Aku berusaha mencari papanya Manda tuk mengambil botol  minum yang dibawa dari rumah. Kucari ketempat kegiatan tidak ada, kutanyakan ke teman-teman, mereka saling bertatapan dan tertawa cekikikan menggodaku, tapi Nova, teman dekat mejaku di kantor memberi informasi, “Bos Pran dan beberapa direktur muda mengadakan meeting di ruang Flamboyan, itu sebelah selatan rumah makan”. “Terimakasih Nov, aku mau mengambilkan botol minuman Manda aja kok”. Akupun beranjak menuju ruang Flamboyan, beberapa langkah sebelum masuk kudengar pembicaraan dari dalam, dan akupun berhenti melangkah gak jadi masuk saat kudengar namaku disebut-sebut.

            “Kamu sungguh-sungguh dengan Fitri Pran?” kudengar ada seseorang bertanya pada Si Bos.

“Fitri memang cantik sih, mulus lagi. Tapi dia Cuma karyawan biasa, apa level Pran? Seleramu biasanya tinggi banget” terdengar suara yang lain menyahut.

“Ah, aku belum berpikir jauh, tapi paling tidak ada pengasuh buat Manda, gratis lagi, iya gak?” Suara ini aku kenal betul, suara Pran, Si Bos, Papa Manda. Terdengar tertawa terbahak dari mereka semua. Aku  terkejut dan sakit hati mendengar apa yang Pran ungkapkan, dengan berlinangan air mata kutinggalkan tempat itu dengan setengah berlari.

Kembali kutemui Manda di Taman, aku lupa menghapus airmata, dan Manda sempat melihatnya, dia bangkit dan menyongsongku dengan pertanyaan, “ Bunda menangis, kenapa  Bunda? Mana minum Manda?”. Kuusap airmata dengan telapak tangan dan kujawab pertanyaan Manda, “Bunda gak pa apa sayang, tadi kelilipan. Oh ya, minumnya kita beli saja ya sayang, Bunda gak sempat ambil botol Manda”. Kulihat Manda mengangguk, dan menggandeng tanganku tuk membeli minuman.

            Sejak saat itu aku berusaha menghindari Pran dan Manda. Bila Pran mencariku di kantor selalu kucari-cari  alasan lewat teman-teman, yang sedang ke kamar kecil lah, yang sedang keluar kantorlah. Kasak-kusuk dari teman-teman tak kuhiraukan, aku hanya fokus bekerja. Bila hari Minggu tiba, pagi-pagi aku sudah pamit ke Ibuku untuk pergi ke luar, jadi saat Pran dan Manda datang ke rumah mereka tak bisa menemuiku. Akupun tak mau membalas wa ataupun telephon dari Pran. Dan hari ini adalah minggu keempat, saat pagi-pagi aku sudah rapi dan mau pamit Ibu, beliau mengajakku duduk, “Ada apa to Nduk? Kalau ada masalah mbok ya dihadapi, diselesaikan, jangan menghindar. Kalau kamu tak kasihan sama Nak Pran, setidaknya kamu kasihanlah sama Manda, Minggu kemarin dia menangis karena tak bisa menemuimu”. Ada Apa to Nduk?”. Mendengar kata-kata Ibu, aku langsung menangis dan kuceritakan semuanya. Ibu membelai rambutku, dengan lembut dan bijak beliau mulai menasehatiku. “Kamu harus ihlas dalam menyayangi Manda Nduk, tak usah berharap lebih dari Nak Pran, mungkin dia memang bukan jodohmu”. Aku menyahut nasehat Ibu, “Fitri tulus dan ihlas menyayangi Manda Ibu, tapi seiring perjalan waktu ternyata Fitri mulai jatuh cinta pada papanya, apa itu salah?”. “Tidak salah Nduk, kamu tak salah. Tapi bila Nak Pran tidak membalasmu, dia juga tidak salah kan?. Sudahlah, lupakan Nak Pran, mungkin itu lebih baik bagimu. Jangan menghindar, hadapi semua masalah. Ibu yakin kamu mampu, kamu sudah dewasa Nduk”. Aku diam saja, tapi dalam hati kuresapi semua nasehat Ibu, dan memang semuanya benar. Maka kuputuskan untuk tidak keluar rumah, akan kuhadapi masalah ini. Di rumah aku gelisah, mondar mandir berjalan ke sana ke sini. Ibu hanya mendiamkanku saja.  1 Jam, 2 Jam, 3 Jam Pran dan Manda tak datang juga. Sampai siangpun mereka tak datang, membuatku semakin gelisah dan menebak-nebak, mungkin mereka sudah melupakanku, mungkin mereka sudah bepergian dengan wanita lain. Pikiran-pikiran itu membuatku semakin sakit hati.

            Sekitar jam 2 siang saat aku dah merasa yakin yang kutunggu tak akan datang, kudengar suara ting ting ting, ada pesan masuk secara beruntun ke hp ku, langsung kusambar hp yang tergeletak di meja kamarku dan langsung ku buka, ada inisial Pran…

            “Aku sudah putus asa untuk bisa menemuimu atau menelphonmu, kuharap dengan pesan ini kau mau membacanya”

            “Aku sudah mampu menebak apa penyebab kau menghindariku dan Manda, aku benar-benar minta maaf”

            “Sudah 3 hari ini Manda opname di rumah sakit, panas tinggi, dia selalu mengigau dan menyebut namamu, aku mencoba menghubungimu namun tak pernah kau hiraukan. Fitri, tolonglah aku, tolonglah jenguk Manda, aku tak kuasa melihat keadaan putriku seperti itu, kalau perlu aku berlutut di hadapanmu, memohon kau mau menjenguk Manda, aku ingin kalaupun Manda tak bisa tertolong, di akhir hayatnya dia bahagia karena merasa memiliki Bunda. Kalau kau menyayangi Manda tolong jenguklah ke rumah sakit”.

            Aku tertegun membaca wa dari Pran, sempat terpikir kalau itu hanya trik Pran untuk menarik perhatianku saja, maka kubiarkan saja wa itu tanpa membalasnya. Tapi bagaimanapun juga pesan itu menggangguku, membuatku gelisah, bagaimana bila pesan itu benar, Manda sakit. Kembali aku mondar mandir keluar masuk kamar,  ternyata menarik perhatian Ibu.

            “Ada apa to Nduk, kok gelisah?”

            “Pran kirim pesan Bu, dia bilang Manda opname di rumah sakit, sudah 3 hari”

            “Lalu?” Tanya Ibu

            “Mungkin itu trik Pran aja Bu, agar aku mau menemuinya”

            “Menurutmu begitu? Yakin dengan perasaanmu? Pertanyaan Ibu ini membuatku jengah, aku memang tidak yakin dengan pikiranku itu.

            “Bagaimana bila Manda sakit beneran” lanjut Ibu.

            “Sudahlah Fitri, tanggalkan egomu, ikuti nuranimu, Ibu Yakin kau menyayangi anak itu, jenguklah dia ke rumah sakit, jangan sampai kau menyesal setelahnya” Ibu menambahkan nasehatnya.

Aku masuk kamar, kurenungi semua nasehat ibu. Kubaca kembali pesan wa dari Pran, dan seolah kulihat anak kecil berkulit putih, berambut kriwil kemerahan tergolek lemah, dia berkata padaku, “Bunda Fitri, maafkan Manda ya, Manda membuat Bunda Fitri menangis. Manda pamit mau pergi jauuuuuh,” Bocah itu melambaikan tangan mungilnya. Tergagap Aku dari lamunan, aku tak mau menyesal dikemudian hari, maka kuputuskan untuk menjenguk Manda ke Rumah sakit. Setelah Mandi dan berhias seadanya aku pamit Ibu untuk menjenguk Manda, Ibu merestuinya, “Hati-hati di jalan, jangan ngebut!” pesanNya. Kukeluarkan Scoopy hitamku, dan kugeber dengan kecepatan 80 km/jam. Aku ingin segera sampai dan menemukan bocah yang sudah mampu merebut hatiku. Tak sampai 15 menit sampai juga ke rumah sakit, langsung kumenuju ruang informasi, ternyata Manda di rawat di Pavillyun Melati, setengah berlari aku menuju ke sana.

Di kamar itu kulihat bocah berambut kriwil kemerahan itu tergolek tak berdaya dengan beberapa selang tersalur ke tubuhnya yang Nampak kurus dan pucat, langsung aku menghambur masuk dan memanggil namanya lirih, “Manda, Bunda Fitri datang sayang”. Pran yang duduk membelakangi pintu sehingga tak melihat kedatanganku,  terlonjak kaget mendengar suaraku, dia menoleh ke arahku dan astaga, dia kusut masai,  wajahnya pucat kurang tidur, dan tubuhnya juga kurusan, namun kulihat matanya langsung berkilau melihat kedatanganku, dia langsung agak bergeser duduknya memberi ruang agar aku bisa mendekati Manda. Kudekati Manda dan kupeluk erat-erat sambil berbisik dekat telinganya, “Sayang, maafkan Bunda Fitri ya Nak”. Tak kuasa air mataku berlinangan melihat kondisi Manda. Mungkin merasakan pelukanku dan mendengar suaraku, Manda membuka mata, begitu melihatku wajah pucat itu langsung berbinar, dan Nampak ingin berbicara. Pran dengan cekatan membantu membuka masker oksigen di muka Manda. Terdengar suara yang lirih, “Bunda, Manda kangen Bunda”. “Iya sayang, Bunda Fitri juga kangen kamu Nak”. Sahutku sambil mempererat pelukanku. “Bunda, jangan tinggalkan Manda lagi ya” pintanya, dan kujawab dengan anggukan. Pran kuminta untuk pulang biar bisa istirahat tidur, dan aku berjanji akan menjaga Manda.

Sekitar jam 8 malam Pran dah sampai ke rumah sakit lagi, sudah rapi  dan Nampak segar. Kami bertiga ngobrol sampai sekitar jam 9. Kulihat Manda sudah mulai ngantuk dan kusuruh segera tidur. Saat melihat Manda sudah memejamkan mata, Pran bergeser duduk  mendekatiku, dan berkata

“Fit, aku benar-benar  minta maaf padamu dengan apa yang terjadi di Karanganyar dahulu. Tadinya ketika kau tak bisa ditemui atau tak mau jawab telphon aku kira taka da apa-apa, tapi setelah dua minggu aku dan Manda tak bisa menemuimu, Manda menyalahkanku karena membuatmu menangis saat outbond di Karanganyar, tentu saja aku terkejut dan menebak kemungkinan penyebab kau menghindar adalah mendengar obrolanku dengan teman-teman. Tapi Fit kau salah duga, kau tidak melihat ekspresiku saat itu kan? Aku Cuma bercanda. Melihat aku tetap diam saja sambil menundukkan kepala Pran melanjutkan, bahkan dia mendekat dan memegang tanganku. “Fit, bukan hanya Manda yang kehilangan saat kau tak bisa kami temui, akupun begitu menderita, aku tak pernah menganggap kau sebagai pengasuh Manda, tapi kau adalah bagian hidupku. Maafkan ucapanku yang telah membuatmu salah paham. Fit, aku mencintaimu, aku ingin kau menjadi istriku sekaligus sebagai bundanya Manda, bagaimana?”. Tentu saja aku tak menduga Pran akan mengungkapkan perasaannya, kurasakan pegangan tangannya makin erat. Aku tetap menunduk, mendadak terdengar suara Manda berteriak, “Hore…. Papa dan Bunda sudah baikan!” Ternyata dia sudah duduk, dan berusaha memeluk kami berdua, tak sengaja aku dan Pran berdiri bersamaan sehingga bersenggolan yang membuatku hampir jatuh, Pran berusaha meraih tubuhku. Manda justru kelihatan senang melihat kejadian ini, saat kami berdua mendekatinya, dia berusaha meraih satu tanganku,  satu tangan Pran dan menyatukannya diantara dua tangan mungilnya. Dengan wajah penuh harap manda bertanya padaku, “Bunda Fitri, maukah Bunda menjadi mamanya Manda?”. Tentu saja pertanyaannya itu membuatku malu di hadapan Pran, maka akun diam saja sambil menundukkan kepala, tapi Manda mengulang lagi, “Bunda, Bunda mau jadi mamanya Manda ya, Manda janji gak akan nakal, Janji gak akan sakit lagi” pintanya penuh harap. Aku mendongakkan kepala dan kutatap wajah Pran yang ternyata  tegang dan mengharapkan jawabanku, beralih kutatap wajah Manda, ah, wajah dengan mata kejora, rambut kriwil kemerahan itu menambah imut dan membuatku tak kuasa tuk menolak permintaannya, akupun menganggukkan kepala yang disambut dengan nafas leganya Pran dan teriakan Manda, “Asyiiiiiiiiikkkkkkk, Manda punya mama…..”. “Tapi ada syaratnya” kataku. “Apa?” Tanya Pran dan Manda bersamaan, yang membuatku tersenyum. “Syaratnya…… Manda gak boleh panggil Mama”, kulihat wajah Manda melongo. “Manda harus tetap memanggil Bunda pada tante Fitri, bagaimana?” lanjutku. Kulihat wajah lega Pran dan Manda. “Oke, setuju….. Deal ya Bunda?” 

Kuputuskan malam itu tidur di rumah sakit demi Manda, calon putriku.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar