Selasa, 14 Desember 2021

 

GURUKU SENIMAN SEJATI

(Oleh Surti Alfiah)

 

Namanya Paimin.

Dari namanya dapat dipastikan bahwa beliau Orang jawa dan sifatnya sederhana. Memang begitulah adanya.

Perawakannya tinggi besar, bahkan bisa dikategorikan gemuk, rambutnya ikal, kepala bidang, kulit warna sawo matang, berwajah teduh dan penyabar. Saat aku menjadi muridnya, beliau berusia sekitar 50 an tahun.

Aku mulai dekat beliau saat kelas 1 SMP semester 2. Saat itu beliau mengajar matapelajaran Biologi menggantikan guru Biologi semester sebelumnya. Selain mengajar Biologi di kelasku beliau juga mengajar mata pelajaran Ketrampilan bebas (siswa bebas memilih jenis ketrampilan yang ditawarkan oleh sekolah) Seni Karawitan, juga mengajar ekstrakurikuler Seni Karawitan. Selain menjadi guru PNS, beliau terkenal sebagai dalang Wayang Kulit.

Suatu hari, saat jam istirahat dan aku melintas di halaman depan sekolah, pak Paimin mendekatiku dan berkata, “Al, kalau kamu tidak mau bergabung di kelompok Karawitan, maka nilai Biologimu akan Bapak kasih nilai 5”. Ucapnya dengan nada serius dan wajahnyapun bersungguh-sungguh. Tentu saja aku terkejut mendengarnya. Masa iya nilai Biologiku di raport mau dikasih nilai 5, aku kan setiap kali ulangan selalu memperoleh nilai 10. Terus terang aku saat itu benar-benar takut kalau beliau tidak sekedar bergurau.

Akhirnya aku pun memutuskan untuk bergabung mengikuti matapelajaran Ketrampilan Bebas Seni Karawitan, dan meninggalkan pilihanku di semester sebelumnya yaitu Tenis Meja di bawah bimbingan bapak Sahri.

Aku merasakan betapa baik dan perhatiannya pak Paimin padaku. Beliau tahu aku tidak menyukai Karawitan, samasekali belum mengenalnya, dan tentu saja tak satupun alat gamelan yang dapat aku mainkan. Hebatnya pak Paimin, beliau benar-benar menunjukkan kualitasnya sebagai pendidik. Beliau tidak ingin aku malu di hadapan teman-temanku yang rata-rata sudah mahir sebagai Pengrawit (Sebutan untuk pemain Gamelan), karena sejak SD nya mereka sudah terbiasa dengan alat-alat itu. Maka beliapun mengajariku terlebih dahulu secara privat.  Beliau dengan sabar dan telaten mengenalkan nama-nama perangkat gamelan itu, mulai dari Gong, Kendang, Saron, Kempul, Kenong, Bonang Gedhe, Bonang Penerus, Gambang, Gender, Slenthem, dan juga Peking. Mungkin masih ada lagi yang aku terlewat namanya.

Setelah aku mengenal nama-nama perangkat gamelan, beliau mulai memberi contoh cara memainkan alat tersebut, aku diminta untuk memperhatikan dan kemudian mencoba memainkannya. Demikian terus menerus, hampir tiap hari di waktu luang beliau mengajariku memainkan gamelan, sampai hampir semua alat pernah kucoba.

Setelah dirasa cukup membekaliku, akhirnya aku diikutsertakan bergabung dalam kelompok Seni Karawitan. Saat pertama aku bergabung, aku belum berani memainkan alat. Aku melihat terlebih dahulu teman-teman memainkannya. Aku mengaguminya, karena teman-temanku sangat terampil memainkannya. Tibalah giliranku untuk memainkan alat bersama teman yang lain,  aku memilih Saron yang kuanggap paling mudah. Dengan percaya diri tangan kanan memegang pemukul dan tangan kiri memegang bilah yang  dipukul, berusaha menirukan seperti teman yang  memainkannya,  tapi kok tidak berbunyi. Dari jauh pak Paimin mengawasiku sambil menggelengkan kepalanya, itu pertanda cara memukulku salah. Aku terus berpikir dan akhirnya kutemukan jawabannya, ternyata yang seharusnya dipegang dengan tangan kiri adalah bilah nada yang habis dipukul, tujuannya adalah agar suara tidak bergaung dan tidak mencampuri nada berikutnya yang dipukul. Lama kelamaan aku mulai mahir memainkan Saron dan kulihat pak Paimin tersenyum sambil mengacungi jempol.

Ada kejadian yang menurutku lucu dan membuatku malu,karena menunjukkan betapa aku tertinggal dari teman-teman terkait peralatan Gamelan. Saat itu aku diminta pak Paimin untuk mengeluarkan gamelan laras Slendro. Tanpa meminta penjelasan, dengan gembira aku mengajak teman-teman mengeluarkan semua perangkat gamelan yang ada di ruang penyimpanan ke aula latihan. Saat pak Paimin datang, beliau menggeleng-gelengkan kepala dan memanggilku untuk duduk di dekatnya. Alih-alih marah, beliau dengan bijaknya memberi penjelasan padaku perbedaan antara gamelan laras Slendro  dengan laras Pelog. Yang masih kuingat sampai sekarang, kalau Laras Slendro itu tidak menggunakan nada 4 (Pat) dan 7 (Pi). Sedangkan Laras Pelog Menggunakan lengkap 7 nada, yaitu 1 (Ji), 2 (Ro), 3 (Lu), 4 (Pat), 5 (Mo), 6 (Nem), dan 7 (Pi).

Kegiatan Intra kurikuler Ketrampilan bebas dilaksanakan pagi hari, untuk kelas 1 jadwalnya hari Selasa jam pelajaran ke 1 dan 2. Sedangkan kegiatan Ekstrakurikuler dilaksanakan sore hari, seminggu sekali. Anggotanya gabungan dari kelas 1, 2, dan 3.

Pak Paimin memiliki kebiasaan khas yang masih kuingat sampai sekarang, yaitu pada saat apel pagi dan beliau memberikan pengumuman ke siswa untuk masuk sore mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Karawitan, beliau selalu mengakhiri pengumuman dengan kalimat “Ingat ya anak-anak, hujan bukan halangan”. Maksudnya, meskipun sore hari terjadi hujan, siswa tetap diminta masuk untuk latihan.

Setelah beberapa bulan aku bergabung dalam kelompok Seni Karawitan, pada suatu hari pak Paimin memberi pengumuman  bahwa akan diadakan lomba Karawitan untuk tingkat kabupaten. Mulailah dilakukan seleksi para Pengrawit (Pemain Gamelan) dan Penggerong (Penembang atau Penyanyi). Aku terpilih bersama2 orang temanku Rini dan Siti untuk menjadi Gerong. Tentu saja aku terkejut, karena aku tidak bisa nembang. Kalau Rini, dia memang sudah terbiasa menjadi Sinden sedari kecil dan suaranya cemengkling, bagus sekali.

Tapi ternyata pak Paimin memiliki rencana sendiri untukku. Pada malam hari pak Paimin berkunjung ke rumahku bersama isterinya yang merupakan seorang Sinden terkenal  di masa itu. Isteri beliau inilah yang diminta untuk mengajariku untuk Nembang. Latihan setiap malam di rumahku berjalan sekitar 1 minggunan. Setelah itu latihan bersama kelompok hampir setiap hari dimulai jam 14.00 -16.00 WIB.

Selain Nembang, para Gerong juga diajari cara berjalan (Laku Dhodhok), dan duduk timpuh dengan kedua tangan Ngapu Rancang di atas paha, di bawah perut, dan dada agak dibusungkan. Duduk Timpuh ini membuat kakiku  kesemutan,sehingga aku sering menggoyang-goyangkan badanku. Bila sudah begini, pak Paimin menghampiriku dan menggetok dahiku atau menyentil hidungku, namun tidak terlalu keras dan tidak sakit hanya menunjukkan rasa gemas, memintaku untuk duduk dengan tenang kembali.

Saampailah kami pada hari diadakan lomba Karawitan tingkat kabupaten. Pada Saat pengumuman hasillomba, ternyata sekolahku dinyatakan sebagaijuara pertama dan berhak mewakili kabupaten Gunungkidul  ke tingkat propinsi DIY. Selain dinobatkan sebagai juara 1, ternyata sekolah kami juga menggondol predikat Pembonang Terbaik dan Pengendang terbaik.

Hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan latihan dan latihan. Dan sampailah pada hari diadakan lomba tingkat propinsi yang dipusatkan di gedung SMKI (nama sekarang). Ternyata pada saat lomba ada ketentuan baru, yang menjadi Gerong hanya 2 orang. Dalam hati aku menduga tentu akulah yang dicoret untuk tidak diikutkan maju lomba. Tetapi pak Paimin hanya diam saja. Baru setelah nama sekolahku dipanggil untuk tampil, aku dan Siti diminta untuk berada di barisan paling depan. Rini, yang memiliki suara terbagus di antara kami bertiga justru tidak disertakan. Aku bisa memahami keputusan pak Paimin setelah aku dewasa. Suaraku dengan suara Siti seimbang, jadi bisa kompak saat nembang bersama, tidak ada yang lebih menonjol. Kuakui pak Paimin betul-betul professional dalam membimbing kami.

Meskipun saat itu sekolah kami hanya memperoleh juara harapan 1 tapi kami cukuppuas, karenainilah pengalaman pertama kami maju lomba tingkat propinsi.

Aku menekuni seni Karawitan di bawah bimbingan pak Paimin sampai aku lulus SMP tidak pernah berpindah ke pilihan yang lain.

Pak Paimin memang hebat, dapat mengubahku dari yang tidak menyukai Seni Karawitan berbalikmenjadi  cinta sampai sekarang.

Aku terus menjalin silaturahmi dengan pak Paimin. Saat aku menjadi guru dan mengajar di SMP yang dekat dengan rumah beliau, kusempatkan mampir ke rumahnya. Beliau sudah sepuh (tua), tetapi tetap mengenaliku dan tetap memanggilku dengan sebutan “Al”. hanya beliaulah yang memanggilku demikian.

Dan saat beliau wafat, kuluangkan waktu untuk takziah dan mendoakannya. Selamat jalan Bapak, Guruku yang Seniman, semoga engkau diampuni semua dosa,  diterima ibadahmu, dan ditempatkan di Surga.

Masih kuingat sebait tembang yang pernah kau ajarkan dan kutembangkan saat lomba. Aku tak pernah  tahu apa artinya, tetapi sering kutembangkan dengan penuh penghayatan untuk mengenangmu…….

Engge Baboooooooo……….

Enis Kawuryaning Angga………

Risang Wus Raga Bathara……….

Baboooo………………………….

 

 

Gunungkidul, 21 September 2021

 

Surti Alfiah, S.Pd, MBA, adalah seorang pendidik dan sekarang menjabat sebagai Kepala Sekolah di salah satu SMP Negeri di Gunungkidul. Berdomisili di dusun Tenggaran RT 02 RW 02, Gedangrejo, Karangmojo, Gunungkidul. Memiliki seorang suami yang bekerja sebagai Widyaiswara di Balai Diklat Keagamaan Semarang, dan 3 orang anak, Lintang Zia Nareswari, Thoriq Ka’ab Bennabi, dan Rifyal Ka’ab. Aktif di organisasi dengan menjadi ketua PCA kecamatan Karangmojo, Ketua GACA (Gerakan Aisyiyah Cinta Anak) kabupaten Gunungkidul, Koordinator bidang penelitian dan pengembangan Masyarakat Sejarawan (MSI) komisariat Gunungkidul.

Tulisan berupa buku kolaborasi dengan teman (Antologi) yang telah diterbitkan: From Control To Help (2013), Rona Pelangi Buah Hati (2021), Berpantun Cintai Budaya Negeri (2021)

Email               : utikcuantik@gmail.com

Facebook         : Surti Alfiah

Wa                   : 085292341314

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar