GURUKU
SENIMAN SEJATI
(Oleh
Surti Alfiah)
Namanya Paimin.
Dari namanya dapat
dipastikan bahwa beliau Orang jawa dan sifatnya sederhana. Memang begitulah
adanya.
Perawakannya tinggi
besar, bahkan bisa dikategorikan gemuk, rambutnya ikal, kepala bidang, kulit
warna sawo matang, berwajah teduh dan penyabar. Saat aku menjadi muridnya,
beliau berusia sekitar 50 an tahun.
Aku mulai dekat beliau
saat kelas 1 SMP semester 2. Saat itu beliau mengajar matapelajaran Biologi
menggantikan guru Biologi semester sebelumnya. Selain mengajar Biologi di
kelasku beliau juga mengajar mata pelajaran Ketrampilan bebas (siswa bebas
memilih jenis ketrampilan yang ditawarkan oleh sekolah) Seni Karawitan, juga
mengajar ekstrakurikuler Seni Karawitan. Selain menjadi guru PNS, beliau
terkenal sebagai dalang Wayang Kulit.
Suatu hari, saat jam
istirahat dan aku melintas di halaman depan sekolah, pak Paimin mendekatiku dan
berkata, “Al, kalau kamu tidak mau bergabung di kelompok Karawitan, maka nilai
Biologimu akan Bapak kasih nilai 5”. Ucapnya dengan nada serius dan wajahnyapun
bersungguh-sungguh. Tentu saja aku terkejut mendengarnya. Masa iya nilai
Biologiku di raport mau dikasih nilai 5, aku kan setiap kali ulangan selalu
memperoleh nilai 10. Terus terang aku saat itu benar-benar takut kalau beliau
tidak sekedar bergurau.
Akhirnya aku pun
memutuskan untuk bergabung mengikuti matapelajaran Ketrampilan Bebas Seni
Karawitan, dan meninggalkan pilihanku di semester sebelumnya yaitu Tenis Meja
di bawah bimbingan bapak Sahri.
Aku merasakan betapa
baik dan perhatiannya pak Paimin padaku. Beliau tahu aku tidak menyukai
Karawitan, samasekali belum mengenalnya, dan tentu saja tak satupun alat
gamelan yang dapat aku mainkan. Hebatnya pak Paimin, beliau benar-benar
menunjukkan kualitasnya sebagai pendidik. Beliau tidak ingin aku malu di
hadapan teman-temanku yang rata-rata sudah mahir sebagai Pengrawit (Sebutan
untuk pemain Gamelan), karena sejak SD nya mereka sudah terbiasa dengan
alat-alat itu. Maka beliapun mengajariku terlebih dahulu secara privat. Beliau dengan sabar dan telaten mengenalkan
nama-nama perangkat gamelan itu, mulai dari Gong, Kendang, Saron, Kempul,
Kenong, Bonang Gedhe, Bonang Penerus, Gambang, Gender, Slenthem, dan juga
Peking. Mungkin masih ada lagi yang aku terlewat namanya.
Setelah aku mengenal
nama-nama perangkat gamelan, beliau mulai memberi contoh cara memainkan alat
tersebut, aku diminta untuk memperhatikan dan kemudian mencoba memainkannya.
Demikian terus menerus, hampir tiap hari di waktu luang beliau mengajariku
memainkan gamelan, sampai hampir semua alat pernah kucoba.
Setelah dirasa cukup
membekaliku, akhirnya aku diikutsertakan bergabung dalam kelompok Seni
Karawitan. Saat pertama aku bergabung, aku belum berani memainkan alat. Aku melihat
terlebih dahulu teman-teman memainkannya. Aku mengaguminya, karena
teman-temanku sangat terampil memainkannya. Tibalah giliranku untuk memainkan
alat bersama teman yang lain, aku
memilih Saron yang kuanggap paling mudah. Dengan percaya diri tangan kanan
memegang pemukul dan tangan kiri memegang bilah yang dipukul, berusaha menirukan seperti teman
yang memainkannya, tapi kok tidak berbunyi. Dari jauh pak Paimin
mengawasiku sambil menggelengkan kepalanya, itu pertanda cara memukulku salah.
Aku terus berpikir dan akhirnya kutemukan jawabannya, ternyata yang seharusnya
dipegang dengan tangan kiri adalah bilah nada yang habis dipukul, tujuannya
adalah agar suara tidak bergaung dan tidak mencampuri nada berikutnya yang
dipukul. Lama kelamaan aku mulai mahir memainkan Saron dan kulihat pak Paimin
tersenyum sambil mengacungi jempol.
Ada kejadian yang
menurutku lucu dan membuatku malu,karena menunjukkan betapa aku tertinggal dari
teman-teman terkait peralatan Gamelan. Saat itu aku diminta pak Paimin untuk
mengeluarkan gamelan laras Slendro. Tanpa meminta penjelasan, dengan gembira
aku mengajak teman-teman mengeluarkan semua perangkat gamelan yang ada di ruang
penyimpanan ke aula latihan. Saat pak Paimin datang, beliau
menggeleng-gelengkan kepala dan memanggilku untuk duduk di dekatnya. Alih-alih
marah, beliau dengan bijaknya memberi penjelasan padaku perbedaan antara
gamelan laras Slendro dengan laras
Pelog. Yang masih kuingat sampai sekarang, kalau Laras Slendro itu tidak
menggunakan nada 4 (Pat) dan 7 (Pi). Sedangkan Laras Pelog Menggunakan lengkap
7 nada, yaitu 1 (Ji), 2 (Ro), 3 (Lu), 4 (Pat), 5 (Mo), 6 (Nem), dan 7 (Pi).
Kegiatan Intra
kurikuler Ketrampilan bebas dilaksanakan pagi hari, untuk kelas 1 jadwalnya
hari Selasa jam pelajaran ke 1 dan 2. Sedangkan kegiatan Ekstrakurikuler
dilaksanakan sore hari, seminggu sekali. Anggotanya gabungan dari kelas 1, 2,
dan 3.
Pak Paimin memiliki
kebiasaan khas yang masih kuingat sampai sekarang, yaitu pada saat apel pagi
dan beliau memberikan pengumuman ke siswa untuk masuk sore mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler Karawitan, beliau selalu mengakhiri pengumuman dengan kalimat “Ingat
ya anak-anak, hujan bukan halangan”. Maksudnya, meskipun sore hari terjadi
hujan, siswa tetap diminta masuk untuk latihan.
Setelah beberapa bulan
aku bergabung dalam kelompok Seni Karawitan, pada suatu hari pak Paimin memberi
pengumuman bahwa akan diadakan lomba
Karawitan untuk tingkat kabupaten. Mulailah dilakukan seleksi para Pengrawit
(Pemain Gamelan) dan Penggerong (Penembang atau Penyanyi). Aku terpilih
bersama2 orang temanku Rini dan Siti untuk menjadi Gerong. Tentu saja aku
terkejut, karena aku tidak bisa nembang. Kalau Rini, dia memang sudah terbiasa
menjadi Sinden sedari kecil dan suaranya cemengkling, bagus sekali.
Tapi ternyata pak
Paimin memiliki rencana sendiri untukku. Pada malam hari pak Paimin berkunjung
ke rumahku bersama isterinya yang merupakan seorang Sinden terkenal di masa itu. Isteri beliau inilah yang
diminta untuk mengajariku untuk Nembang. Latihan setiap malam di rumahku
berjalan sekitar 1 minggunan. Setelah itu latihan bersama kelompok hampir
setiap hari dimulai jam 14.00 -16.00 WIB.
Selain Nembang, para
Gerong juga diajari cara berjalan (Laku Dhodhok), dan duduk timpuh dengan kedua
tangan Ngapu Rancang di atas paha, di bawah perut, dan dada agak dibusungkan.
Duduk Timpuh ini membuat kakiku
kesemutan,sehingga aku sering menggoyang-goyangkan badanku. Bila sudah
begini, pak Paimin menghampiriku dan menggetok dahiku atau menyentil hidungku,
namun tidak terlalu keras dan tidak sakit hanya menunjukkan rasa gemas,
memintaku untuk duduk dengan tenang kembali.
Saampailah kami pada
hari diadakan lomba Karawitan tingkat kabupaten. Pada Saat pengumuman
hasillomba, ternyata sekolahku dinyatakan sebagaijuara pertama dan berhak
mewakili kabupaten Gunungkidul ke
tingkat propinsi DIY. Selain dinobatkan sebagai juara 1, ternyata sekolah kami
juga menggondol predikat Pembonang Terbaik dan Pengendang terbaik.
Hari-hari selanjutnya
dipenuhi dengan latihan dan latihan. Dan sampailah pada hari diadakan lomba
tingkat propinsi yang dipusatkan di gedung SMKI (nama sekarang). Ternyata pada
saat lomba ada ketentuan baru, yang menjadi Gerong hanya 2 orang. Dalam hati
aku menduga tentu akulah yang dicoret untuk tidak diikutkan maju lomba. Tetapi
pak Paimin hanya diam saja. Baru setelah nama sekolahku dipanggil untuk tampil,
aku dan Siti diminta untuk berada di barisan paling depan. Rini, yang memiliki
suara terbagus di antara kami bertiga justru tidak disertakan. Aku bisa
memahami keputusan pak Paimin setelah aku dewasa. Suaraku dengan suara Siti
seimbang, jadi bisa kompak saat nembang bersama, tidak ada yang lebih menonjol.
Kuakui pak Paimin betul-betul professional dalam membimbing kami.
Meskipun saat itu
sekolah kami hanya memperoleh juara harapan 1 tapi kami cukuppuas, karenainilah
pengalaman pertama kami maju lomba tingkat propinsi.
Aku menekuni seni Karawitan
di bawah bimbingan pak Paimin sampai aku lulus SMP tidak pernah berpindah ke
pilihan yang lain.
Pak Paimin memang
hebat, dapat mengubahku dari yang tidak menyukai Seni Karawitan
berbalikmenjadi cinta sampai sekarang.
Aku terus menjalin
silaturahmi dengan pak Paimin. Saat aku menjadi guru dan mengajar di SMP yang
dekat dengan rumah beliau, kusempatkan mampir ke rumahnya. Beliau sudah sepuh
(tua), tetapi tetap mengenaliku dan tetap memanggilku dengan sebutan “Al”.
hanya beliaulah yang memanggilku demikian.
Dan saat beliau wafat,
kuluangkan waktu untuk takziah dan mendoakannya. Selamat jalan Bapak, Guruku
yang Seniman, semoga engkau diampuni semua dosa, diterima ibadahmu, dan ditempatkan di Surga.
Masih kuingat sebait
tembang yang pernah kau ajarkan dan kutembangkan saat lomba. Aku tak
pernah tahu apa artinya, tetapi sering
kutembangkan dengan penuh penghayatan untuk mengenangmu…….
Engge Baboooooooo……….
Enis Kawuryaning
Angga………
Risang Wus Raga
Bathara……….
Baboooo………………………….
Gunungkidul, 21 September 2021
Surti
Alfiah, S.Pd, MBA, adalah seorang pendidik dan sekarang menjabat sebagai Kepala
Sekolah di salah satu SMP Negeri di Gunungkidul. Berdomisili di dusun Tenggaran
RT 02 RW 02, Gedangrejo, Karangmojo, Gunungkidul. Memiliki seorang suami yang
bekerja sebagai Widyaiswara di Balai Diklat Keagamaan Semarang, dan 3 orang
anak, Lintang Zia Nareswari, Thoriq Ka’ab Bennabi, dan Rifyal Ka’ab. Aktif di
organisasi dengan menjadi ketua PCA kecamatan Karangmojo, Ketua GACA (Gerakan
Aisyiyah Cinta Anak) kabupaten Gunungkidul, Koordinator bidang penelitian dan
pengembangan Masyarakat Sejarawan (MSI) komisariat Gunungkidul.
Tulisan
berupa buku kolaborasi dengan teman (Antologi) yang telah diterbitkan: From
Control To Help (2013), Rona Pelangi Buah Hati (2021), Berpantun Cintai Budaya
Negeri (2021)
Email : utikcuantik@gmail.com
Facebook : Surti Alfiah
Wa : 085292341314
Tidak ada komentar:
Posting Komentar