Selasa, 14 Desember 2021

 

GURUKU SENIMAN SEJATI

(Oleh Surti Alfiah)

 

Namanya Paimin.

Dari namanya dapat dipastikan bahwa beliau Orang jawa dan sifatnya sederhana. Memang begitulah adanya.

Perawakannya tinggi besar, bahkan bisa dikategorikan gemuk, rambutnya ikal, kepala bidang, kulit warna sawo matang, berwajah teduh dan penyabar. Saat aku menjadi muridnya, beliau berusia sekitar 50 an tahun.

Aku mulai dekat beliau saat kelas 1 SMP semester 2. Saat itu beliau mengajar matapelajaran Biologi menggantikan guru Biologi semester sebelumnya. Selain mengajar Biologi di kelasku beliau juga mengajar mata pelajaran Ketrampilan bebas (siswa bebas memilih jenis ketrampilan yang ditawarkan oleh sekolah) Seni Karawitan, juga mengajar ekstrakurikuler Seni Karawitan. Selain menjadi guru PNS, beliau terkenal sebagai dalang Wayang Kulit.

Suatu hari, saat jam istirahat dan aku melintas di halaman depan sekolah, pak Paimin mendekatiku dan berkata, “Al, kalau kamu tidak mau bergabung di kelompok Karawitan, maka nilai Biologimu akan Bapak kasih nilai 5”. Ucapnya dengan nada serius dan wajahnyapun bersungguh-sungguh. Tentu saja aku terkejut mendengarnya. Masa iya nilai Biologiku di raport mau dikasih nilai 5, aku kan setiap kali ulangan selalu memperoleh nilai 10. Terus terang aku saat itu benar-benar takut kalau beliau tidak sekedar bergurau.

Akhirnya aku pun memutuskan untuk bergabung mengikuti matapelajaran Ketrampilan Bebas Seni Karawitan, dan meninggalkan pilihanku di semester sebelumnya yaitu Tenis Meja di bawah bimbingan bapak Sahri.

Aku merasakan betapa baik dan perhatiannya pak Paimin padaku. Beliau tahu aku tidak menyukai Karawitan, samasekali belum mengenalnya, dan tentu saja tak satupun alat gamelan yang dapat aku mainkan. Hebatnya pak Paimin, beliau benar-benar menunjukkan kualitasnya sebagai pendidik. Beliau tidak ingin aku malu di hadapan teman-temanku yang rata-rata sudah mahir sebagai Pengrawit (Sebutan untuk pemain Gamelan), karena sejak SD nya mereka sudah terbiasa dengan alat-alat itu. Maka beliapun mengajariku terlebih dahulu secara privat.  Beliau dengan sabar dan telaten mengenalkan nama-nama perangkat gamelan itu, mulai dari Gong, Kendang, Saron, Kempul, Kenong, Bonang Gedhe, Bonang Penerus, Gambang, Gender, Slenthem, dan juga Peking. Mungkin masih ada lagi yang aku terlewat namanya.

Setelah aku mengenal nama-nama perangkat gamelan, beliau mulai memberi contoh cara memainkan alat tersebut, aku diminta untuk memperhatikan dan kemudian mencoba memainkannya. Demikian terus menerus, hampir tiap hari di waktu luang beliau mengajariku memainkan gamelan, sampai hampir semua alat pernah kucoba.

Setelah dirasa cukup membekaliku, akhirnya aku diikutsertakan bergabung dalam kelompok Seni Karawitan. Saat pertama aku bergabung, aku belum berani memainkan alat. Aku melihat terlebih dahulu teman-teman memainkannya. Aku mengaguminya, karena teman-temanku sangat terampil memainkannya. Tibalah giliranku untuk memainkan alat bersama teman yang lain,  aku memilih Saron yang kuanggap paling mudah. Dengan percaya diri tangan kanan memegang pemukul dan tangan kiri memegang bilah yang  dipukul, berusaha menirukan seperti teman yang  memainkannya,  tapi kok tidak berbunyi. Dari jauh pak Paimin mengawasiku sambil menggelengkan kepalanya, itu pertanda cara memukulku salah. Aku terus berpikir dan akhirnya kutemukan jawabannya, ternyata yang seharusnya dipegang dengan tangan kiri adalah bilah nada yang habis dipukul, tujuannya adalah agar suara tidak bergaung dan tidak mencampuri nada berikutnya yang dipukul. Lama kelamaan aku mulai mahir memainkan Saron dan kulihat pak Paimin tersenyum sambil mengacungi jempol.

Ada kejadian yang menurutku lucu dan membuatku malu,karena menunjukkan betapa aku tertinggal dari teman-teman terkait peralatan Gamelan. Saat itu aku diminta pak Paimin untuk mengeluarkan gamelan laras Slendro. Tanpa meminta penjelasan, dengan gembira aku mengajak teman-teman mengeluarkan semua perangkat gamelan yang ada di ruang penyimpanan ke aula latihan. Saat pak Paimin datang, beliau menggeleng-gelengkan kepala dan memanggilku untuk duduk di dekatnya. Alih-alih marah, beliau dengan bijaknya memberi penjelasan padaku perbedaan antara gamelan laras Slendro  dengan laras Pelog. Yang masih kuingat sampai sekarang, kalau Laras Slendro itu tidak menggunakan nada 4 (Pat) dan 7 (Pi). Sedangkan Laras Pelog Menggunakan lengkap 7 nada, yaitu 1 (Ji), 2 (Ro), 3 (Lu), 4 (Pat), 5 (Mo), 6 (Nem), dan 7 (Pi).

Kegiatan Intra kurikuler Ketrampilan bebas dilaksanakan pagi hari, untuk kelas 1 jadwalnya hari Selasa jam pelajaran ke 1 dan 2. Sedangkan kegiatan Ekstrakurikuler dilaksanakan sore hari, seminggu sekali. Anggotanya gabungan dari kelas 1, 2, dan 3.

Pak Paimin memiliki kebiasaan khas yang masih kuingat sampai sekarang, yaitu pada saat apel pagi dan beliau memberikan pengumuman ke siswa untuk masuk sore mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Karawitan, beliau selalu mengakhiri pengumuman dengan kalimat “Ingat ya anak-anak, hujan bukan halangan”. Maksudnya, meskipun sore hari terjadi hujan, siswa tetap diminta masuk untuk latihan.

Setelah beberapa bulan aku bergabung dalam kelompok Seni Karawitan, pada suatu hari pak Paimin memberi pengumuman  bahwa akan diadakan lomba Karawitan untuk tingkat kabupaten. Mulailah dilakukan seleksi para Pengrawit (Pemain Gamelan) dan Penggerong (Penembang atau Penyanyi). Aku terpilih bersama2 orang temanku Rini dan Siti untuk menjadi Gerong. Tentu saja aku terkejut, karena aku tidak bisa nembang. Kalau Rini, dia memang sudah terbiasa menjadi Sinden sedari kecil dan suaranya cemengkling, bagus sekali.

Tapi ternyata pak Paimin memiliki rencana sendiri untukku. Pada malam hari pak Paimin berkunjung ke rumahku bersama isterinya yang merupakan seorang Sinden terkenal  di masa itu. Isteri beliau inilah yang diminta untuk mengajariku untuk Nembang. Latihan setiap malam di rumahku berjalan sekitar 1 minggunan. Setelah itu latihan bersama kelompok hampir setiap hari dimulai jam 14.00 -16.00 WIB.

Selain Nembang, para Gerong juga diajari cara berjalan (Laku Dhodhok), dan duduk timpuh dengan kedua tangan Ngapu Rancang di atas paha, di bawah perut, dan dada agak dibusungkan. Duduk Timpuh ini membuat kakiku  kesemutan,sehingga aku sering menggoyang-goyangkan badanku. Bila sudah begini, pak Paimin menghampiriku dan menggetok dahiku atau menyentil hidungku, namun tidak terlalu keras dan tidak sakit hanya menunjukkan rasa gemas, memintaku untuk duduk dengan tenang kembali.

Saampailah kami pada hari diadakan lomba Karawitan tingkat kabupaten. Pada Saat pengumuman hasillomba, ternyata sekolahku dinyatakan sebagaijuara pertama dan berhak mewakili kabupaten Gunungkidul  ke tingkat propinsi DIY. Selain dinobatkan sebagai juara 1, ternyata sekolah kami juga menggondol predikat Pembonang Terbaik dan Pengendang terbaik.

Hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan latihan dan latihan. Dan sampailah pada hari diadakan lomba tingkat propinsi yang dipusatkan di gedung SMKI (nama sekarang). Ternyata pada saat lomba ada ketentuan baru, yang menjadi Gerong hanya 2 orang. Dalam hati aku menduga tentu akulah yang dicoret untuk tidak diikutkan maju lomba. Tetapi pak Paimin hanya diam saja. Baru setelah nama sekolahku dipanggil untuk tampil, aku dan Siti diminta untuk berada di barisan paling depan. Rini, yang memiliki suara terbagus di antara kami bertiga justru tidak disertakan. Aku bisa memahami keputusan pak Paimin setelah aku dewasa. Suaraku dengan suara Siti seimbang, jadi bisa kompak saat nembang bersama, tidak ada yang lebih menonjol. Kuakui pak Paimin betul-betul professional dalam membimbing kami.

Meskipun saat itu sekolah kami hanya memperoleh juara harapan 1 tapi kami cukuppuas, karenainilah pengalaman pertama kami maju lomba tingkat propinsi.

Aku menekuni seni Karawitan di bawah bimbingan pak Paimin sampai aku lulus SMP tidak pernah berpindah ke pilihan yang lain.

Pak Paimin memang hebat, dapat mengubahku dari yang tidak menyukai Seni Karawitan berbalikmenjadi  cinta sampai sekarang.

Aku terus menjalin silaturahmi dengan pak Paimin. Saat aku menjadi guru dan mengajar di SMP yang dekat dengan rumah beliau, kusempatkan mampir ke rumahnya. Beliau sudah sepuh (tua), tetapi tetap mengenaliku dan tetap memanggilku dengan sebutan “Al”. hanya beliaulah yang memanggilku demikian.

Dan saat beliau wafat, kuluangkan waktu untuk takziah dan mendoakannya. Selamat jalan Bapak, Guruku yang Seniman, semoga engkau diampuni semua dosa,  diterima ibadahmu, dan ditempatkan di Surga.

Masih kuingat sebait tembang yang pernah kau ajarkan dan kutembangkan saat lomba. Aku tak pernah  tahu apa artinya, tetapi sering kutembangkan dengan penuh penghayatan untuk mengenangmu…….

Engge Baboooooooo……….

Enis Kawuryaning Angga………

Risang Wus Raga Bathara……….

Baboooo………………………….

 

 

Gunungkidul, 21 September 2021

 

Surti Alfiah, S.Pd, MBA, adalah seorang pendidik dan sekarang menjabat sebagai Kepala Sekolah di salah satu SMP Negeri di Gunungkidul. Berdomisili di dusun Tenggaran RT 02 RW 02, Gedangrejo, Karangmojo, Gunungkidul. Memiliki seorang suami yang bekerja sebagai Widyaiswara di Balai Diklat Keagamaan Semarang, dan 3 orang anak, Lintang Zia Nareswari, Thoriq Ka’ab Bennabi, dan Rifyal Ka’ab. Aktif di organisasi dengan menjadi ketua PCA kecamatan Karangmojo, Ketua GACA (Gerakan Aisyiyah Cinta Anak) kabupaten Gunungkidul, Koordinator bidang penelitian dan pengembangan Masyarakat Sejarawan (MSI) komisariat Gunungkidul.

Tulisan berupa buku kolaborasi dengan teman (Antologi) yang telah diterbitkan: From Control To Help (2013), Rona Pelangi Buah Hati (2021), Berpantun Cintai Budaya Negeri (2021)

Email               : utikcuantik@gmail.com

Facebook         : Surti Alfiah

Wa                   : 085292341314

 

 

 

BULAN DIANTARA BINTANG

Oleh Surti Alfiah

 

Aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakak sulungku Kirana atau biasa kupanggil Nana. Orangnya cantik, kulitnya putih, badannya tinggi, dan pinter. Sejak dari SD sampai saat ini kelas 12 atau kelas 3 SMA dia selalu menempati ranking 1 di kelasnya, selain itu dia juga banyak berprestasi  di bidang yang lain. Kakakku yang kedua namanya Dewa. Dia  berkulit putih, ganteng, punya badan atletis, dan juga pintar. Mas Dewa sekarang duduk di kelas 10 SMA, selalu juara 1 dan berprestasi di bidang olahraga dan seni. Kedua kakaku selalu diterima di sekolah-sekolah favorit.

Keadaanku jauh berbeda dengan kedua kakaku, kulitku coklat bahkan banyak orang yang mengatakan hitam, wajah biasa saja jauh dari kata ganteng, dan tinggiku tidak seberapa. Aku juga tidak pernah berprestasi, baik itu di bidang akademik ataupun di bidang yang lain. Orang-orang selalu membanding-bandingkan antara aku dengan kakak-kakaku. Demikian juga guru-guruku di SD dulu. Bu Yati, guru matematika selalu menunjukkan rasa jengkel kepadaku, karena aku tidak pernah memperoleh nilai di atas 6.

“Raka, kamu malas belajar ya. Kenapa kamu tidak seperti Kirana atau Dewa yang jago matematika. Belajar dengan mereka dong!” Kalimat itu selalu aku dengar setiap kali selesai ulangan matematika, yang justru semakin membuatku tidak menyukai pelajaran matematika.

Pak Gimu guru IPA pun tak jauh berbeda, dia selalu menuduhku tidak pernah memperhatikan pelajarannya.

“Raka, kalau diterangkan itu memperhatikan, jangan sibuk atau ramai sendiri. Coba lihat, tiap ulangan nilaimu paling tinggi Cuma 6, tak pantas kau jadi adiknya Kirana dan Dewa”.

Begitulah hari-hariku selama di SD dahulu selalu dibanding-bandingkan dengan kakak-kakakku. Hal seperti ini membuat aku semakin minder dan merasa tidak betah di sekolah.

Untung kedua kakakku menyayangiku. Mereka selalu membela bila aku diolok-olok oleh teman-teman, juga mengajari aku belajar dan mengerjakan PR.

Juga ada ibuku. Beliaulah tempatku mengadu,  dapat menenangkan, dan selalu memberi motivasi.

“Ibu apakah Raka ini bukan anak kandung Ibu dan Ayah” tanyaku pada saat aku kelas 3 SD.

“Kenapa adik bertanya seperti itu?” Jawab Ibuku

“Habis Raka ini jauh berbeda dengan Ayah, Ibu, kak Nana, juga mas Dewa. Raka Jelek, hitam, dan bodoh”. Jawabku saat itu.

Ibu menghampiriku, memelukku, dan mendudukanku di pangkuannya. Dengan lembut ibu berkata,

“Sayang, Ibu mengandungmu lebih dari 9 bulan, dan melahirkanmu dengan taruhan nyawa. Adik adalah buah hati ayah dan ibu”.

Aku mendongak dan menyahut, “Benarkah Ibu, Raka tidak tertukar saat di rumah sakit?’

“Sayang, Ibumu ini melahirkan di rumah praktik seorang bidan, pada saat itu hanya ibu yang melahirkan di sana, jadi tidak mungkin adik tertukar dengan bayi lain”. Jawab ibu sambil membelai-belai kepalaku.

“Mulai sekarang dik Raka tidak usah bersedih, tidak usah ditanggapi omongan orang lain. Dik Raka akan selalu menjadi  kesayangan ayah, ibu, kak nana, juga kak Dewa” lanjut ibu menentramkan hatiku.

Ibuku tidak pernah memarahiku saat kutunjukkan nilai hasil ulanganku yang selalu jelek.  Dia akan selalu memberi semangat agar aku tidak mudah putus asa.

“Sayang, kamu tidak bodoh, hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat memahami sesuatu. Ibu yakin suatu saat dik Raka akan mencapai pemahaman itu”. Atau lain kali ibu akan bilang, “Raka, semua anak itu istimewa, mesti memiliki kelebihan di balik kekurangannya. Raka harus berjuang untuk dapat menemukan apa kelebihanmu”. “Yang perlu Raka lakukan adalah berusaha maksimal, berdoa maksimal, dan mempersembahkan yang terbaik untuk ayah dan ibu, masalah hasilnya seperti apa kita berserah diri pada Allah”. Demikian nasehat ibu yang tidak akan pernah aku lupakan.

Saat lulus dari kelas 6 SD aku meminta ijin pada ayah dan ibu untuk melanjutkan sekolah SMP di pondok pesantren yang jauh dari rumah, tidak mau masuk ke SMP tempat sekolah kak Nana dan mas Dewa dulu.

“Ayah, Ibu, Raka mau melanjutkan ke SMP di pondok pesantren ya”.

“Benarkah, jagoan ayah ini mau ke pondok pesantren?” Tanya ayah menegaskan.

“Benar yah”

“Ayah mendukungmu, ayah merestuimu” jawab ayah dengan semangat.

Sementara ibu menatapku lama sekali, baru dia menjawab, “Yakin adik mau sekolah di pondok pesantren yang jauh?”

“Yakin bu” Jawabku.

“Tidak melanjutkan ke SMP yang dekat rumah kita saja?”

“Tidak Ibu, Raka tidak ingin di sekolahan nanti guru-gurunya membanding-bandingkan Raka dengan kak Nana dan mas Dewa. Raka ingin sekolah di tempat yang bisa menerima Raka apa adanya”. Jawabku pelan.

Ibu menghambur memelukku, dengan suara tersendat ibu berkata padaku, “Sayang, seumpama kakak-kakakmu adalah bintang, maka kamu adalah bulan bagi ibu. Raka akan selalu bersinar di hati ibu. Sayang, meskipun kamu tidak pernah meraih juara, tidak pernah memperoleh nilai 10 untuk matematika dan IPA, tapi kelebihanmu sangat banyak di mata ibu. Adik yang paling menyayangi ibu, mau membantu ibu membelikan sesuatu ke warung, mau membantu ibu ngepel lantai bila bik Sum tidak datang, yang selalu mencuci piring sendiri setelah makan, mau mengantar sesuatu ke tatangga, memijati kaki ibu bila ibu lelah, yang selalu mampu membuat ibu gembira, itulah kelebihanmu nak”. Panjang lebar ibu menunjukkan sayangnya padaku, membuat hatiku membuncah bahagia.

Kak nana dan mas Dewa pun ternyata sangat mendukung keputusanku untuk melanjutkan sekolah ke pondok pesantren.

“Raka kamu hebat, kak nana yakin kamu bisa menjadi Hafis Al Qur’an. Yang semangat ya!” kata ka Nana sambil mengajak tos dengan tangan.

“Wah mas Dewa kalah sama raka nih, mas Dewa gak berani jauh-jauh dari ibu. Raka Juara, mas Dewa mendukungmu” sahut mas Dewa sambil mengepalkan tangannya ke atas tanda memberikan dukungan padaku.

Dengan memperoleh dukungan seluruh anggota keluarga aku semakin mantab melanjutkan sekolah ke pondok pesantren. Sekarang aku sudah duduk di kelas 9 SMP, sudah menghafal 3 juz Al Quran, menghafal 100 Hadits, dan sudah mampu menjadi imam sholat berjamaah. Kupegang teguh pesan ibu, bahwa aku harus selalu “Berusaha maksimal, berdoa maksimal, dan mempersembahkan yang terbaik”. Akan aku buktikan pada ibuku bahwa aku mampu menjadi “Bulan di antara Bintang” dalam keluargaku, bahkan kalau bisa di masyarakat tempat tinggalku.

 

DIA PANGGIL AKU “BUNDA”

 

“Bunda, ayo bantuin Manda nangkep kupu-kupu di sana!” rengek gadis berambut kriwil kemerahan itu sambil menggelendot manja.

“Di mana sayang?” jawabku. Dia menunjuk ke suatu arah, dan dengan setengah memaksaa menarik lenganku dan mengajak berlari. Terpaksa kutinggal teman-temanku yang saling berpandangan penuh arti.

Hari Minggu ini kantor kami mengadakan outbond dan wisata ke kebun teh di Karanganyar. Dan anak Si Bos yang cantik, imut, lucu, berambut kriwil kemerahan, berdagu runcing, bermata kejora, bibir merekah merah, berkulit putih, kira-kira berusia 7 tahunan dan bernama lengkap Amanda Aurelia Pranandito itu sepanjang perjalanan maupun saat di lokasi wisata tak pernah mau lepas bersamaku. Tentu saja hal ini menjadi kasak kusuk gunjingan di antara teman-temanku. Namun aku berusaha menyikapi biasa saja.

Sebenarnya belum genap 3 bulan perkenalanku dengan bocah itu, tapi kami sudah  sangat akrab. Masih hangat dalam ingatanku, bagaimana awal mula aku mengenalnya. Siang itu, saat aku akan meminta tandatangan pada Si Bos di ruangan kantor, dia sedang berthelephon dan kulihat ada kepanikan di wajahnya. Dia memberiku isyarat dengan tangannya agar aku duduk dulu menunggunya sampai selesai telephon. Begitu selesai thelephon Si Bos bicara padaku:

“Bisa minta tolong ikut saya sebentar mbak!”  Dan tanpa berkata, meskipun agak bingung aku menganggukkan kepala. Barulah saat dalam mobil di perjalanan Si Bos menjelaskan kalau yang nelphon tadi  Asisten Rumah Tangganya yang mengabarkan bahwa putri satu-satunya sakit demam tinggi. Tak membutuhkan waktu lebih dari 20 menitan kami tiba di rumah Si Bos yang besar, mewah, dan asri. Si Bos langsung mengajakku menuju kamar putrinya. Dan kulihat sosok mungil yang cantik namun pucat dan menggigil meskipun sudah dalam selimut tebal tergolek di ranjang yang bernuansa serba pink. Aku menghampirinya, dan saat mata kami bertemu, kulihat matanya berkilau dan dengan erangan lembut dia berkata, “Bunda, peluk manda ya, Manda kedinginan dan Manda  kangen Bunda….” Kulihat bibirnya memang pucat dan membiru. Akupun mengangguk, menghampirinya, membuka selimutnya, dan kuangkat dia merengkuhnya dalam pangkuanku, sambil kubisikkan di telinganya, “Manda tenang ya sayang, ada bunda di sini”, dan kukecup keningnya dengan tulus. Si Bos mendekat, meletakkan tangannya di dahi Manda, dan dengan panik dia berkata, “Kita bawa Manda ke rumah sakit sekarang”. Si Bos mengambil alih Manda dari pelukanku, namun manda tak mau melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, maka dengan setengah berlari aku mengikuti langkah Si Bos yang panjang-panjang tergesa. Selama perjalanan ke rumah sakit Manda kupeluk dalam pangkuanku yang duduk di samping Si Bos yang menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai di Rumah Sakit Manda langsung di bawa ke IGD,  setelah penanganan dinyatakan dia harus opname karena dimungkinan terkena DBD. Hampir seharian aku menunggui Manda di Pavilyun Wijaya Kusuma Rumah Sakit, tangannya nan mungil itu tetap tak mau lepas dari tanganku. Saat Manda tertidur, Si Bos meminta maaf padaku karena telah melibatkanku dalam urusan putrinya. Kujawab tidak apa-apa, karena aku memang menyukai anak-anak kecil. Si Bos menceritakan kalau mamanya Manda sudah meninggal sekitar satu tahun karena kecelakaan, dan dengan wajah yang sedih sambil menatap putrinya  Si Bos bilang, “sekitar semingguan ini Manda selalu mengatakan kangen mamanya, ingin bertemu mamanya, maka wajarlah saat dia melihat mbak, maaf mbak Siapa? Tanyanya padaku (maklum kalau Si Bos belum mengenalku karena aku masih termasuk karyawan baru di perusahannya, sekitar 2 bulan dan baru beberapa kali bertatap muka dengannya). “Safitri” jawabku, “Bapak bisa memanggilku Fitri”.

“O ya, Mbak Fitri, saya kira Manda mengira mbak Fitri adalah mamanya, maka dia panggil mbak “Bunda, maafkan putri saya ya” imbuhnya.

“Tidak apa-apa Bapak, saya maklum namanya juga masih anak-anak, sedang sakit lagi” jawabku.  

“Mohon maaf Bapak, sekarang sudah menjelang sore, mumpung Manda sedang tidur, saya mohon pamit dulu”. Aku lalu berusaha melepas tangnku dari genggaman tangan mungil Manda, namun begitu berhasil kulepas tangannya dia terbangun dan langsung menyambar tanganku menggenggamnya erat-erat sambil berteriak, “Bunda, jangan pergi, jangan tinggalkan Manda lagi”.

“Manda sayang, sekarang sudah sore, biarkan tante fitri pulang dulu ya sayang” Si Bos membujuk putrinya.

“Enggak mau, Manda gak mau ditinggal Bunda lagi”, Manda mulai menangis histeris. Akupun berusaha menanangkannya, kubelai rambutnya, kuhibur dengan lembut, “Sayang, anak cantik, tante fitri pulang dulu, tante janji besok ke sini lagi”. Tapi Manda semakin histeris, “Manda gak mau kehilangan Bunda lagi, Manda ingin Bunda”. Kondisi Manda benar-benar meruntuhkan hatiku, maka kupeluk dia erat-erat dan kubisikkan padanya, “Oke cantik, tenang ya sayang, Tante Fitri akan menemani Manda di sini”. Barulah Manda berhenti menangis, namun tetap tak mau melepaskan genggamannya dari tanganku. Terpaksa aku menginap di rumah sakit malam itu. Hari-hari berikutnya aku selalu menjenguk Manda, ada ijin khusus dari Si Bos untuk meninggalkan kantor. Aku semakin akran dengan Manda. Tidak saja aku akrab dengan Manda, namun akupun mulai dekat dengan papanya, Si Bos ganteng “Pranandito”. Genap seminggu Manda di rumah sakit, dan kepulangannya pun dia memaksa aku untuk bersamanya.

 

Sejak saat itulah hampir setiap minggu Manda mengajak papanya ke rumahku, sekali waktu kami piknik bersama. Kulihat keceriaan terpancar dari wajah imutnya, dan solah tingkahnya semakin lucu dan menggemaskan saat Manda bersamaku, dan kuakui akupun  menyayanginya dengan tulus. Aku sangat bahagia saat Manda memanggilku “Bunda”.

                                                                                               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DIA PANGGIL AKU “BUNDA” (2)

            Akupun akhirnya  mengikuti Manda yang berlari kearah taman, dan kulihat memang banyak kupu-kupu beterbangan diatas bunga yang bermekaran. Berdua kami asyik menangkap kupu-kupu, tetapi ternyata susah tuk menangkapnya, lebih dari setengah jam kami baru berhasil menangkap 2 ekor kupu-kupu nan cantik. Kulihat Manda wajahnya merah dan peluh berleleran, maka kuajak untuk beristirahat. Kami menuju gazebo yang tak jauh, berada dipojok taman.

            “Kamu haus sayang?, bunda ambilkan minum ya. Tas Manda di mana?”

            “dibawa papa. Manda nunggu di sini aja ya Bunda”

            “Iya sayang, jangan ke mana-mana ya, nanti bunda susah nyarinya!” Manda menganggukkan kepalanya.

            Aku berusaha mencari papanya Manda tuk mengambil botol  minum yang dibawa dari rumah. Kucari ketempat kegiatan tidak ada, kutanyakan ke teman-teman, mereka saling bertatapan dan tertawa cekikikan menggodaku, tapi Nova, teman dekat mejaku di kantor memberi informasi, “Bos Pran dan beberapa direktur muda mengadakan meeting di ruang Flamboyan, itu sebelah selatan rumah makan”. “Terimakasih Nov, aku mau mengambilkan botol minuman Manda aja kok”. Akupun beranjak menuju ruang Flamboyan, beberapa langkah sebelum masuk kudengar pembicaraan dari dalam, dan akupun berhenti melangkah gak jadi masuk saat kudengar namaku disebut-sebut.

            “Kamu sungguh-sungguh dengan Fitri Pran?” kudengar ada seseorang bertanya pada Si Bos.

“Fitri memang cantik sih, mulus lagi. Tapi dia Cuma karyawan biasa, apa level Pran? Seleramu biasanya tinggi banget” terdengar suara yang lain menyahut.

“Ah, aku belum berpikir jauh, tapi paling tidak ada pengasuh buat Manda, gratis lagi, iya gak?” Suara ini aku kenal betul, suara Pran, Si Bos, Papa Manda. Terdengar tertawa terbahak dari mereka semua. Aku  terkejut dan sakit hati mendengar apa yang Pran ungkapkan, dengan berlinangan air mata kutinggalkan tempat itu dengan setengah berlari.

Kembali kutemui Manda di Taman, aku lupa menghapus airmata, dan Manda sempat melihatnya, dia bangkit dan menyongsongku dengan pertanyaan, “ Bunda menangis, kenapa  Bunda? Mana minum Manda?”. Kuusap airmata dengan telapak tangan dan kujawab pertanyaan Manda, “Bunda gak pa apa sayang, tadi kelilipan. Oh ya, minumnya kita beli saja ya sayang, Bunda gak sempat ambil botol Manda”. Kulihat Manda mengangguk, dan menggandeng tanganku tuk membeli minuman.

            Sejak saat itu aku berusaha menghindari Pran dan Manda. Bila Pran mencariku di kantor selalu kucari-cari  alasan lewat teman-teman, yang sedang ke kamar kecil lah, yang sedang keluar kantorlah. Kasak-kusuk dari teman-teman tak kuhiraukan, aku hanya fokus bekerja. Bila hari Minggu tiba, pagi-pagi aku sudah pamit ke Ibuku untuk pergi ke luar, jadi saat Pran dan Manda datang ke rumah mereka tak bisa menemuiku. Akupun tak mau membalas wa ataupun telephon dari Pran. Dan hari ini adalah minggu keempat, saat pagi-pagi aku sudah rapi dan mau pamit Ibu, beliau mengajakku duduk, “Ada apa to Nduk? Kalau ada masalah mbok ya dihadapi, diselesaikan, jangan menghindar. Kalau kamu tak kasihan sama Nak Pran, setidaknya kamu kasihanlah sama Manda, Minggu kemarin dia menangis karena tak bisa menemuimu”. Ada Apa to Nduk?”. Mendengar kata-kata Ibu, aku langsung menangis dan kuceritakan semuanya. Ibu membelai rambutku, dengan lembut dan bijak beliau mulai menasehatiku. “Kamu harus ihlas dalam menyayangi Manda Nduk, tak usah berharap lebih dari Nak Pran, mungkin dia memang bukan jodohmu”. Aku menyahut nasehat Ibu, “Fitri tulus dan ihlas menyayangi Manda Ibu, tapi seiring perjalan waktu ternyata Fitri mulai jatuh cinta pada papanya, apa itu salah?”. “Tidak salah Nduk, kamu tak salah. Tapi bila Nak Pran tidak membalasmu, dia juga tidak salah kan?. Sudahlah, lupakan Nak Pran, mungkin itu lebih baik bagimu. Jangan menghindar, hadapi semua masalah. Ibu yakin kamu mampu, kamu sudah dewasa Nduk”. Aku diam saja, tapi dalam hati kuresapi semua nasehat Ibu, dan memang semuanya benar. Maka kuputuskan untuk tidak keluar rumah, akan kuhadapi masalah ini. Di rumah aku gelisah, mondar mandir berjalan ke sana ke sini. Ibu hanya mendiamkanku saja.  1 Jam, 2 Jam, 3 Jam Pran dan Manda tak datang juga. Sampai siangpun mereka tak datang, membuatku semakin gelisah dan menebak-nebak, mungkin mereka sudah melupakanku, mungkin mereka sudah bepergian dengan wanita lain. Pikiran-pikiran itu membuatku semakin sakit hati.

            Sekitar jam 2 siang saat aku dah merasa yakin yang kutunggu tak akan datang, kudengar suara ting ting ting, ada pesan masuk secara beruntun ke hp ku, langsung kusambar hp yang tergeletak di meja kamarku dan langsung ku buka, ada inisial Pran…

            “Aku sudah putus asa untuk bisa menemuimu atau menelphonmu, kuharap dengan pesan ini kau mau membacanya”

            “Aku sudah mampu menebak apa penyebab kau menghindariku dan Manda, aku benar-benar minta maaf”

            “Sudah 3 hari ini Manda opname di rumah sakit, panas tinggi, dia selalu mengigau dan menyebut namamu, aku mencoba menghubungimu namun tak pernah kau hiraukan. Fitri, tolonglah aku, tolonglah jenguk Manda, aku tak kuasa melihat keadaan putriku seperti itu, kalau perlu aku berlutut di hadapanmu, memohon kau mau menjenguk Manda, aku ingin kalaupun Manda tak bisa tertolong, di akhir hayatnya dia bahagia karena merasa memiliki Bunda. Kalau kau menyayangi Manda tolong jenguklah ke rumah sakit”.

            Aku tertegun membaca wa dari Pran, sempat terpikir kalau itu hanya trik Pran untuk menarik perhatianku saja, maka kubiarkan saja wa itu tanpa membalasnya. Tapi bagaimanapun juga pesan itu menggangguku, membuatku gelisah, bagaimana bila pesan itu benar, Manda sakit. Kembali aku mondar mandir keluar masuk kamar,  ternyata menarik perhatian Ibu.

            “Ada apa to Nduk, kok gelisah?”

            “Pran kirim pesan Bu, dia bilang Manda opname di rumah sakit, sudah 3 hari”

            “Lalu?” Tanya Ibu

            “Mungkin itu trik Pran aja Bu, agar aku mau menemuinya”

            “Menurutmu begitu? Yakin dengan perasaanmu? Pertanyaan Ibu ini membuatku jengah, aku memang tidak yakin dengan pikiranku itu.

            “Bagaimana bila Manda sakit beneran” lanjut Ibu.

            “Sudahlah Fitri, tanggalkan egomu, ikuti nuranimu, Ibu Yakin kau menyayangi anak itu, jenguklah dia ke rumah sakit, jangan sampai kau menyesal setelahnya” Ibu menambahkan nasehatnya.

Aku masuk kamar, kurenungi semua nasehat ibu. Kubaca kembali pesan wa dari Pran, dan seolah kulihat anak kecil berkulit putih, berambut kriwil kemerahan tergolek lemah, dia berkata padaku, “Bunda Fitri, maafkan Manda ya, Manda membuat Bunda Fitri menangis. Manda pamit mau pergi jauuuuuh,” Bocah itu melambaikan tangan mungilnya. Tergagap Aku dari lamunan, aku tak mau menyesal dikemudian hari, maka kuputuskan untuk menjenguk Manda ke Rumah sakit. Setelah Mandi dan berhias seadanya aku pamit Ibu untuk menjenguk Manda, Ibu merestuinya, “Hati-hati di jalan, jangan ngebut!” pesanNya. Kukeluarkan Scoopy hitamku, dan kugeber dengan kecepatan 80 km/jam. Aku ingin segera sampai dan menemukan bocah yang sudah mampu merebut hatiku. Tak sampai 15 menit sampai juga ke rumah sakit, langsung kumenuju ruang informasi, ternyata Manda di rawat di Pavillyun Melati, setengah berlari aku menuju ke sana.

Di kamar itu kulihat bocah berambut kriwil kemerahan itu tergolek tak berdaya dengan beberapa selang tersalur ke tubuhnya yang Nampak kurus dan pucat, langsung aku menghambur masuk dan memanggil namanya lirih, “Manda, Bunda Fitri datang sayang”. Pran yang duduk membelakangi pintu sehingga tak melihat kedatanganku,  terlonjak kaget mendengar suaraku, dia menoleh ke arahku dan astaga, dia kusut masai,  wajahnya pucat kurang tidur, dan tubuhnya juga kurusan, namun kulihat matanya langsung berkilau melihat kedatanganku, dia langsung agak bergeser duduknya memberi ruang agar aku bisa mendekati Manda. Kudekati Manda dan kupeluk erat-erat sambil berbisik dekat telinganya, “Sayang, maafkan Bunda Fitri ya Nak”. Tak kuasa air mataku berlinangan melihat kondisi Manda. Mungkin merasakan pelukanku dan mendengar suaraku, Manda membuka mata, begitu melihatku wajah pucat itu langsung berbinar, dan Nampak ingin berbicara. Pran dengan cekatan membantu membuka masker oksigen di muka Manda. Terdengar suara yang lirih, “Bunda, Manda kangen Bunda”. “Iya sayang, Bunda Fitri juga kangen kamu Nak”. Sahutku sambil mempererat pelukanku. “Bunda, jangan tinggalkan Manda lagi ya” pintanya, dan kujawab dengan anggukan. Pran kuminta untuk pulang biar bisa istirahat tidur, dan aku berjanji akan menjaga Manda.

Sekitar jam 8 malam Pran dah sampai ke rumah sakit lagi, sudah rapi  dan Nampak segar. Kami bertiga ngobrol sampai sekitar jam 9. Kulihat Manda sudah mulai ngantuk dan kusuruh segera tidur. Saat melihat Manda sudah memejamkan mata, Pran bergeser duduk  mendekatiku, dan berkata

“Fit, aku benar-benar  minta maaf padamu dengan apa yang terjadi di Karanganyar dahulu. Tadinya ketika kau tak bisa ditemui atau tak mau jawab telphon aku kira taka da apa-apa, tapi setelah dua minggu aku dan Manda tak bisa menemuimu, Manda menyalahkanku karena membuatmu menangis saat outbond di Karanganyar, tentu saja aku terkejut dan menebak kemungkinan penyebab kau menghindar adalah mendengar obrolanku dengan teman-teman. Tapi Fit kau salah duga, kau tidak melihat ekspresiku saat itu kan? Aku Cuma bercanda. Melihat aku tetap diam saja sambil menundukkan kepala Pran melanjutkan, bahkan dia mendekat dan memegang tanganku. “Fit, bukan hanya Manda yang kehilangan saat kau tak bisa kami temui, akupun begitu menderita, aku tak pernah menganggap kau sebagai pengasuh Manda, tapi kau adalah bagian hidupku. Maafkan ucapanku yang telah membuatmu salah paham. Fit, aku mencintaimu, aku ingin kau menjadi istriku sekaligus sebagai bundanya Manda, bagaimana?”. Tentu saja aku tak menduga Pran akan mengungkapkan perasaannya, kurasakan pegangan tangannya makin erat. Aku tetap menunduk, mendadak terdengar suara Manda berteriak, “Hore…. Papa dan Bunda sudah baikan!” Ternyata dia sudah duduk, dan berusaha memeluk kami berdua, tak sengaja aku dan Pran berdiri bersamaan sehingga bersenggolan yang membuatku hampir jatuh, Pran berusaha meraih tubuhku. Manda justru kelihatan senang melihat kejadian ini, saat kami berdua mendekatinya, dia berusaha meraih satu tanganku,  satu tangan Pran dan menyatukannya diantara dua tangan mungilnya. Dengan wajah penuh harap manda bertanya padaku, “Bunda Fitri, maukah Bunda menjadi mamanya Manda?”. Tentu saja pertanyaannya itu membuatku malu di hadapan Pran, maka akun diam saja sambil menundukkan kepala, tapi Manda mengulang lagi, “Bunda, Bunda mau jadi mamanya Manda ya, Manda janji gak akan nakal, Janji gak akan sakit lagi” pintanya penuh harap. Aku mendongakkan kepala dan kutatap wajah Pran yang ternyata  tegang dan mengharapkan jawabanku, beralih kutatap wajah Manda, ah, wajah dengan mata kejora, rambut kriwil kemerahan itu menambah imut dan membuatku tak kuasa tuk menolak permintaannya, akupun menganggukkan kepala yang disambut dengan nafas leganya Pran dan teriakan Manda, “Asyiiiiiiiiikkkkkkk, Manda punya mama…..”. “Tapi ada syaratnya” kataku. “Apa?” Tanya Pran dan Manda bersamaan, yang membuatku tersenyum. “Syaratnya…… Manda gak boleh panggil Mama”, kulihat wajah Manda melongo. “Manda harus tetap memanggil Bunda pada tante Fitri, bagaimana?” lanjutku. Kulihat wajah lega Pran dan Manda. “Oke, setuju….. Deal ya Bunda?” 

Kuputuskan malam itu tidur di rumah sakit demi Manda, calon putriku.

 

 

 

 

 

UNTUNG AKU  MENJADI SEORANG GURU

Oleh: Surti Alfiah

 

            Menjadi guru bukanlah cita-citaku dari kecil. Waktu aku masih sekolah di SD bila ditanya “Kamu ingin menjadi apa?” atau “Cita-citamu bila besar ingin menjadi apa?” Mesti aku jawab “Ingin menjadi Dokter” (Seperti jawaban boneka Susannya Ria Enes  dalam lagunya Cita-citaku, he he he). Cita-citaku mulai berubah saat aku memasuki SMP, aku ingin menjadi seorang hakim. Sampai aku SMA pun tetap berkeinginan kuliah di jurusan hukum, dan menjadi seorang hakim. Namun lucunya pada saat kelas 3 dan harus mengisi formulir pendaftaran masuk perguruan tinggi melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan, yaitu melalui jalur prestasi dengan menggunakan nilai raport), aku menuliskan pilihan jurusan Pendidikan Sejarah sebagai pilihan 1, dan pilihan 2 nya Pendidikan PPKN IKIP Yogyakarta. Padahal IKIP adalah perguruan Tinggi yang notabene mencetak calon-calon guru. Alasanku saat itu adalah nilai raportku yang bagus dengan rata-rata 8 ya di matapelajaran itu. Dan ternyata aku memang ditakdirkan lolos masuk perguruan tinggi melalui jalur PMDK itu. Aku diterima dijurusan Pendidikan Sejarah IKIP Yogyakarta.

            Selama kuliah terbersit dalam anganku, aku ingin menjadi dosen saja. Oleh karena itu akupun berusaha untuk memiliki nilai IPK paling tidak 3,0 agar memenuhi persyaratan minimal untuk menjadi seorang dosen. Kala itu sangat sulit untuk memperoleh nilai 3. Di angkatanku satu kelas terdiri dari 40 mahasiswa, yang  sampai lulus kuliah memiliki nilai 3 keatas mungkin tidak lebih dari 5 orang, dan salah satunya adalah aku.

            Begitu  lulus kuliah aku langsung menikah dan menjadi guru honorer di SMEA (sekarang SMK) Muhammadiyah Karangmojo. Aku tidak pernah mencoba mendaftar menjadi dosen, meskipun nilai IPK ku memenuhi syarat untuk itu.

            Setiap ada pendaftaran seleksi CPNS aku ikut mendaftar. 2 kali mendaftar selalu lolos dalam tes tertulis, namun selalu gagal di tahap tes wawancara. Padahal soal dalam tes wawancara hanya mudah saja. Masih aku ingat saat mengikuti tes wawancara aku diberitahu pengujinya bahwa dari 8 orang yang lulus tes tertulis, nilaikulah yang paling tinggi. Setelah selesai melakukan wawancara, Penguji itu memberiku ucapan selamat dan mengingatkanku  suatu saat  namaku akan tercantum di Koran saat pengumuman. Namun ternyata saat pengumuman namaku tidak ada, yang berarti aku tidak diterima menjadi CPNS saat itu. Kecewa, tentu saja. Tetapi hidup harus terus berjalan. You Must go on….

            Tahun berikutnya, tepatnya tahun 1996, aku mengikuti seleksi CPNS  untuk ke 3 kalinya. Seleksi dilakukan dengan menggunakan CBT dan ada tespotensi akademik untuk pertamakalinya dalam sejarah seleksi CPNS untuk guru. Formasi yang dibutuhkan untuk jurusanku sekabupaten hanya ada 1.

            Akupun bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengikuti tes, termasuk meminjam buku-buku latihan soal potensi akademik pada teman. Kepada suami aku mengatakan kalau tes ini adalah tes terakhir yang akan aku ikuti, apabila tidak diterima aku akan fokus mengabdikan diri di sekolah Muhammadiyah.

            Pada saat sedang mengikuti tes, sambil menunggu tes dimulai, para peserta tes yang sudah saling mengenal  mengobrol dengan asyik. Ada salah satu peserta yang mengusulkan untuk mengadakan arisan. Sambil tertawa aku menanggapinya, “Usul yang bagus, tapi maaf untuk tahun depan aku sudah tidak ikutan ya”.

            Waktu terus berjalan, aku sudah melupakan tentang hasil tes seleksi CPNS. Sampai suatu hari, saat  aku sedang momong putri sulungku yang berumur 2 tahun di rumah kakak ipar, tiba-tiba suamiku datang dengan tergopoh-gopoh, wajahnya berseri-seri. Dia langsung menggendongku dan dengan gembira memberitahu kalau aku diterima menjadi CPNS. Dengan setengah tak percaya aku menanggapinya, “Yang benar Pa, memang sudah ada pengumuman? Di mana pengumumannya?” tanyaku bertubi-tubi.

            Kami memutuskan untuk melihat pengumuman hasil seleksi CPNS yang dipasang di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul di Wonosari. Putri kecilku yang sedang tertidur  pulas aku gendong. Dengan berboncengan sepeda motor kami meluncur ke tempat pengumuman.

            Alhamdulillah, di kolom  guru Sejarah namaku tertera, hanya namaku sendiri karena memang formasi yang dibutuhkan hanya ada 1, penempatannya di SMP Negeri 4 Paliyan.

            Mulailah aku menjalani hari-hari sebagai guru CPNS di SMP Negeri 4 Paliyan,  Sesuai SK yang aku terima berlaku per 1 Februari 1997. Jarak sekolahan dari rumah sekitar 45 KM. Tugas sebagai guru honorer di SMEA Muhammadiyah Karangmojo aku tinggalkan. Meskipun Kepala Sekolah masih menginginkan aku untuk tetap mengajar di sana. Tetapi aku berpikir lebih baik  diisi oleh orang yang  membutuhkan.

            Jarak yang jauh dan medan yang lumayan sulit menjadi tantangan bagiku, apalagi aku tidak diijinkan naik sepeda motor oleh suamiku. Jadi aku harus menggunakan kendaraan umum atau yang disebut Anak Bis sebagai sarana transportasi. Harus 2 kali naik Anak Bis, masih dilanjut dengan naik ojek sejauh 7 KM.  Jarak keberangkatan Anak Bis yang satu dengan lainnya selisih waktunya hampir 1 jam. Jadi kalau tertinggal Anak Bis yang jam awal, terpaksa harus menunggu lama dan alamat akan terlambat sampai ke sekolahan.

            Kalau bertepatan dengan pasaran Wage, Anak Bis berhenti lama di pasar Trowono, dan aku harus melanjutkan perjalanan dengan naik kendaraan terbuka atau Colt Pick Up, bareng dengan penduduk yang pulang dari pasar, jadi wajar kalau kadang-kadang harus berbaur dengan ayam dan kambing.

            Begitulah hari-hari aku jalani, berangkat pagi-pagi sekitar jam 5, dan pulangnya sampai di rumah sudah jam 17 atau jam 5 sore. Ini berarti waktu bersama suami dan putri kecilku sangat jauh berkurang.

            Dalam kondisi yang seperti ini aku mendapat anugerah dari Allah, ya, aku hamil anak kedua. Untuk menjaga kandunganku, aku berniat mencari tempat untuk ngekos yang dekat dengan sekolahan. Pak Lurah menyediakan rumah untuk aku tempati. Dibuatkan Kamar mandi dalam dan lantainya dipelur. Di daerah sekitar sekolahan tidak ada yang memiliki sumur dan juga belum ada fasilitas PAM. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari masyarakat menampung air hujan.

            Niat untuk ngekos aku batalkan, pasalnya saat putri sulungku aku ajak ke sekolah sekaligus untuk melihat tempat untuk kos, dia sangat ketakutan mendengar suara Garengpung (binatang seperti Kumbang hitam besar yang muncul dikala musim kemarau dan biasanya banyak terdapat di pohon-pohon besar seperti pohon kelapa). Suaranya yang ngeor… ngeor…. ngeor bersahutan dari ribuan Garengpun  membuat suasana menggetarkan, wajarlah kalau putri kecilku sangat ketakutan, dengan memeluk kedua kakiku erat-erat dia mengajak pulang. Dan sejak itu dia tidak pernah mau lagi diajak kesekolahan.

            Semakin besar kandunganku semakin berat kurasakan  menjadi seorang penglajo. Akupun merengek ke suami untuk berhenti bekerja menjadi guru di tempat yang jauh,dan berniat kembali mengajar di SMEA Muhammadiyah Karangmojo yang jaraknya hanya 300 an meter dari rumah. “Pa, Mama berhenti menjadi CPNS ya, Jauh, capek, mana gajinya hanya selisih sedikit dengan honor di SMEA, itupun sudah habis untuk biaya transport” rengekku. “Yang sabar ya Ma, besok dicoba lagi” begitu jawaban suamiku.

            Begitulah seterusnya, tiap kali aku merengek untuk berhenti menjadi guru di sekolah yang jauh, suamiku selalu memberiku jawaban yang sama,dan berusaha untuk menghibur. Akhirnya akupun menjadi terbiasa dan tidak lagi meminta untuk berhenti bekerja.

            Sebenarnya apabila sudah ada di sekolahan rasanya senang. Bagaimana tidak, teman-teman guru yang rata-rata seusia semuanya baik, siswa juga menyenangkan. Yang aku sayangkan ada beberapa siswa putri yang keluar dari sekolah meskipun masih kelas 2atau 3, bahkan ada yang baru saja masuk di kelas 1 tapi kemudian keluar untuk menikah. Ketika siswa lulus dari SMP pun hanya sedikit yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagian besar siswa laki-laki segera merantau untuk bekerja. Sedangkan yang perempuan sebagian besar segera dinikahkan oleh orang tuanya. Sedih rasanya melihat semua ini.

            Aku berusaha mengajak beberapa siswa perempuan yang baru saja lulus untuk tinggal di rumahku dan aku sekolahkan di Madrasah Aliyah yang baru saja didirikan oleh pondok pesantren Al Hikmah milik keluarga besar suamiku. Begitulah tiap tahun aku menyekolahkan 2-3 orang muridku.

            Di tahun ke 4 aku menjadi guru di SMP 4 dekat pantai Renehan (pada awal berdiri namanya SMP Negeri 4 Paliyan, namun kemudian berubah nama menjadi SMP Negeri 2 Saptosari, karena wilayah yang ditempati menjadi kecamatan baru dengan nama kecamatan Saptosari) aku mendapat karunia lagi dengan hamil anak yang ke 3. Aku mengkhawatirkan kehamilanku kali ini karena jalan yang aku lewati sudah rusak parah. Sudah ada 2 orang teman guru perempuan  yang keguguran karena guncangan saat lewat di jalan yang rusak itu.

            Aku berusaha mengajukan permohonan untuk pindah tempat tugas. Pada saat itu sekolah SMP berada di bawah wewenang  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi. Maka setiap dua minggu sekali di hari Sabtu aku mendatangi bagian kepegawaian untuk menanyakan tentang permohonan kepindahan tugasku. Untuk sampai ke kantor DepDikbud Propinsi DIY aku harus naik bis sebanyak 3 kali. Dengan perut yang semakin membesar semua aku jalani agar dapat pindah. Namun kedatanganku selalu mendapat jawaban yang sama, “Belum ada guru yang dapat mengganti Bu” atau “Coba Ibu mencari guru lain untuk dapat menggantikan posisi Ibu, sehingga Ibu bisa pindah”. Begitu jawaban pak Buchori bagian kepegawaian. Hampir 1 tahun kegiatan seperti ini aku jalani, sampai akhirnya aku melahirkan putraku namun aku tetap belum bisa pindah.

            Suatu ketika terjadi perubahan kebijakan pemerintah yaitu otonomi daerah. Dengan kebijakan baru ini, SMP yang tadinya berada di bawah tanggung jawab dan wewenang Depdikbud propinsi berpindah tangan ke Depdikbud tingkat kabupaten. Suamiku mengingatkan aku untuk mencoba kembali mengurus permohonan mutasi tugas. Akupun mendatangi bidang SMP Depdikbud kabupaten Gunungkidul untuk melakukan konsultasi. Ternyata yang menjadi kepala bidang SMP  adalah guru BP ku saat SMA. Kunjunganku diterima dengan baik dan aku disarankan untuk mengajukan berkas baru usul mutasi tugas. Semua saran aku lakukan. Dan Alhamdulillah, tidak ada 1 bulan dari berkas aku kumpulkan, SK mutasi tugas sudah keluar dan aku terima. Aku ditempatkan di SMP Negeri 1 Ponjong yang jaraknya dari rumahku hanya sekitar 5 KM.

            Di SMP 1 Ponjong aku bekerja dengan sungguh-sungguh, seluruh potensi yang aku miliki aku curahkan untuk siswa dan sekolah. Siswa yang di bawah bimbinganku sering memperoleh kejuaraan, baik itu berupa lomba olimpiade IPS, olimpiade Geografi, dan juga lomba Bercerita Sejarah. Prestasi tertinggiku dalam membimbing siswa adalah mengantarkan siswa menjadi juara 2 tingkas Nasional Olimpiade Geografi. Untuk lomba bercerita Sejarah tingkat propinsi hampir tiap tahun selalumemperoleh kejuaraan.

            Aku juga giat dalam kegiatan Pramuka, karena aku ingat betul pesan Kepala Bidang SMP saat akan menempatkanku di SMP 1 Ponjong, “Majukan kegiatan Pramuka di sana”. Tiap tahun aku mempelopori perkemahan Wiratama. Pernah ketika aku tinggalkan 2 tahun tidak mengajar karena mengikuti tugas belajar S 2 di MM UGM, perkemahan Wiratama juga tidak terlaksana selama 2 tahun itu.Namun begitu aku selesaikuliah dan kembali aktif mengajar, aku hidupkan lagi perkemahan ini.

            Di tahun 2015 aku mengikuti seleksi calon kepala sekolah yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga kabupaten Gunungkidul bekerjasama dengan LPMP dan LP2KS. Dari sekian banyak yang ikut seleksi, terpilih 15 orang yang dinyatakan lulus, salah satuanya adalah aku. Ke 15 orang itulah yang akhirnya didiklat untuk menjadi calon kepala sekolah. Aku membentuk group WA dengan nama Cakep Libels (Calon Kepala Sekolah Lima Belas) karena jumlah pesertanya 15 dan didiklat tahun 2015. Dari 15 orang itu yang perempuan hanya aku dan jeng Wardhani, dan akulah yang berusia paling muda.

            Pada tanggal 28 Desember 2016 aku memperoleh SK sebagai Kepala Sekolah dan ditempatkan di SMP Negeri 4 Semin. Sekolah yang lokasinya berbeda kecamatan dengan rumah dan jaraknya sekitar 15 KM. Jumlah kelas, jumlah  siswa,  jumlah Guru dan TU hanya 1/3 nya dibandingkan dengan SMP 1 Ponjong dan lokasinya berada di perbukitan. Namun aku menikmati semuanya. Pemandangan di setiap tempat yang aku lewati sangat indah, sehingga rasanya seperti piknik setiap hari he he he….

            Tahun 2018 aku mengikuti seleksi Calon Pengawas Sekolah. Dinyatakan lolos dan harus mengikuti diklat. Ini diklat Calon Pengawas Sekolah ke 2 yang aku ikuti. Di tahun 2013 pada saat aku menempuh kuliah S 1 Manajemen Kepengawasan Pendidikan di MM UGM  aku sudah mengikuti diklat serupa yang diadakan oleh LPMP. Tetapi Karena ada perubahan peraturan pemerintah, yaitu untuk dapat diangkat sebagai  Pengawas Sekolah harus pernah mengikuti diklat pola 170 jam. Maka atas sara Kepala Bidang SMP saat itu aku diminta mengikuti lagi.

            Meskipun sudah lulus sebagai Calon Pengawas Sekolah dari tahun 2018, tetapi sampai sekarang aku masih menjadi seorang kepala sekolah. Tidak mengapa. Semua ini aku jalani dengan senang hati karena berkecimpung di dunia pendidikan adalah panggilan jiwa dan sesuai dengan pasionku. Semua aku syukuri, “Beruntungnya aku menjadi seorang Guru”. In Syaa Allah bermanfaat untuk diri sendiri juga orang lain……..

Gunungkidul, 15 Desember 2021

 

 

 

 

 

Biodata Penulis

Surti Alfiah, S.Pd, MBA, adalah seorang pendidik dan sekarang menjabat sebagai Kepala Sekolah di salah satu SMP Negeri di Gunungkidul. Berdomisili di dusun Tenggaran RT 02 RW 02, Gedangrejo, Karangmojo, Gunungkidul. Mengenyam pendidikan S 1 di IKIP Yogyakarta (Sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) jurusan Pendidikan Sejarah dan menyelesaikan S 2 di MM UGM dengan konsentrasi Manajemen Kepengawasan Pendidikan (Kelas Khusus Diknas) pada tahun 2013.  Memiliki seorang suami Drs. Gunawan, M.Pd, seorang Widyaiswara di Balai Diklat Keagamaan Semarang, dan 3 orang anak, Lintang Zia Nareswari, Thoriq Ka’ab Bennabi, dan Rifyal Ka’ab. Aktif di organisasi dengan menjadi ketua PCA kecamatan Karangmojo, Ketua GACA (Gerakan Aisyiyah Cinta Anak) kabupaten Gunungkidul, Koordinator bidang penelitian dan pengembangan Masyarakat Sejarawan (MSI) komisariat Gunungkidul.

Tulisan berupa buku kolaborasi dengan teman (Antologi) yang telah diterbitkan: From Control To Help (2013), Rona Pelangi Buah Hati (2021), Merdeka Berpantun Cintai Budaya Negeri (2021), Persembahan  Cinta Untuk Guru (2021), Loves Stories, Kisah Kasih Sejoli Menjemput Cinta (2021), Gairah Literasi Negeriku (2021), Jejak Pena Pengembara Cinta (2021), Suara Dalam Kata (2021), Pantunesia  Karakter Bangsa (2021), Merindukan Baitullah (2021),  Melati di Taman Hati (2021), dan menulis beberapa cerpen yang diunggah di blok Gurusiana.

 

Email               : utikcuantik@gmail.com

Facebook         : Surti Alfiah

Blog                : alfiahgunawan.blogspot.com

Wa                   : 085292341314

 

           

           

Kamis, 04 November 2021

TERNYATA AKU BISA, TERNYATA AKU PUNYA

    Selama masa pandemi Covid 19, yang namanya pertemuan, seminar, workshop, bimtek, dsb dilaksanakan secara virtual menjadi hal yang biasa. Akupun sering mengikuti kegiatan semacam ini, baik itu yang bersifat kedinasan, organisasi, maupun dengan komunitas-komunitas  pribadi. Salah satu komunitas yang aku ikuti dan sering mengadakan kegiatan webinar maupun kelas-kelas virtual adalah komunitas menulis, yaitu Group Pegiat Literasi Nusantara. Beberapa kelas menulis maupun webinar yang aku ikuti, sebagian besar narasumbernya selalu dituliskan sebagai Guru Blogger Indonesia. Sempat muncul dalam benakku, "Profesi seperti apakah Guru Blogger itu?"

    Teman-teman dari komunitas pegiat literasi juga sering mengirimkan karya-karya mereka melalui link blok yang mereka miliki. Akupun penasaran dan ingin melakukan hal yang sama. Selama ini kalau menulis artikel,  cerpen atau puisi, aku posting di website gurusiana. Aku ingin memiliki blog sendiri seperti orang lain. Baru hari ini aku teringat kalau aku pernah mengikuti pelatihan membuat blog puluhan tahun yang lalu, dan juga sudah pernah praktik membuat blog. Maka iseng-iseng aku browshing di mbah Google untuk mencari blok milikku. Awalnya tidak diketemukan blog dengan namaku. Tetapi aku terus mencari, dan akhirnya...... tara........ ketemu juga blok milikku.

    Tak kusangka ternyata aku sudah mulai ngeblog sejak tahun 2009. Ada beberapa tulisanku yang tersimpan manis di sana. Namun sayang aku hanya aktif ngeblog sampai tahun 2010, setelah itu fakum. Saya ingat, mungkin kefakumanku ngeblog karena saat itu sedang fokus mengambil kuliah S 2 di MM UGM. Dan setelahnya aku lupa kalau punya wahana untuk menyimpan n mempublish tulisan yang luarbiasa besar manfaatnya. 

    Hari ini ibarat mutiara yang hilang telah kutemukan kembali, dan seiring dengan istikomahku dalam kegiatan tulis menulis, maka aku berjanji tidak akan melupakan blog ku lagi. Akan aku rawat, kuisi, dan kuhiasi blogku dengan naskah-naskah hasil menari jemari lentik kedua tanganku......

Ternyata aku punya, dan aku bisa menjadi Blogger........

Rabu, 12 Mei 2010

MENJADI ORANG TUA ITU TIDAK GAMPANG

Ternyata jadi orangtua itu sulit. Mendidik anak tak semudah bikin masakan, apabila porsinya pas, pasti lezat. Mendidik anak tak terbatas waktu, tak seperti mendidik siswa, bila sudah ujian, lulus sudah. Seumur hidup kita, kita masih menjadi guru bagi anak-anak kita, tak berkesudahan. Pola seperti apa yang tepat untuk mendidik anak? Tentu tidak ada satu pola yang sempurna untuk dipakai, satu anak tidak cukup dengan satu pola atau pendekatan, apalagi 2, 3, 4, atau lebih dari 5 anak. Karena setiap individu berbeda tentu berbeda pula pendekatannya. Tapi yang cukup efektif, jadikan anak itu seperti teman, ajak mereka berdiskusi tentang masalah apa saja yang dihadapi, libatkan mereka dalam mengambil keputusan. Insyaallah anak akan mudah untuk diarahkan.